Search

Penilaian CIA: Perlawanan Tidak Dapat Dihancurkan

Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Sayyid Mojtaba Khamenei. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Jurnalis investigatif, Kit Klarenberg, berpendapat bahwa pembunuhan terhadap Sayyid Ali Khamenei gagal melemahkan Iran maupun Poros Perlawanan secara lebih luas. Sebaliknya, hal itu justru memperparah konflik regional dan memperkuat kekuatan anti-AS dan anti-Israel, dengan mengutip penilaian lama CIA yang memperingatkan bahwa pembunuhan terarah sering kali berbalik arah dengan meningkatkan dukungan dan ketahanan.

Perang Israel-AS terhadap Iran awalnya dimaksudkan sebagai serangan kilat, dilakukan sepenuhnya dari udara, dan hanya berlangsung beberapa hari. Namun, Washington dan proksi Zionisnya justru terseret ke dalam konflik besar multi-front yang berpotensi mengancam keberlangsungan imperium itu sendiri. Pusat dari pemboman udara awal AS adalah pembunuhan Pemimpin Iran, Sayyid Ali Khamenei, pada 28 Februari. Awalnya dipuji oleh media Barat sebagai “pembunuhan abad ini”, tindakan keji tersebut justru berujung bencana bagi para pelakunya.

Serangan tanpa henti Iran terhadap pusat-pusat sipil entitas Zionis, serta infrastruktur militer dan intelijen, dan pangkalan-pangkalan AS di seluruh Asia Barat, tidak berkurang sedikit pun. Kerumunan besar turun ke jalan-jalan Teheran dalam duka yang dipenuhi semangat balas dendam. Kemarahan tersebut menyebar ke seluruh dunia Arab dan Muslim. Sejak itu, para demonstran yang marah bentrok dengan aparat keamanan di berbagai kota besar di Pakistan. Sementara itu, Bahrain berada di ambang revolusi total. Kini, Sayyid Mojtaba Khamenei, putra pemimpin yang gugur, telah menggantikan posisinya.

Warga Iran dari berbagai latar etnis dan agama tetap merayakan pengangkatannya meski di tengah serangan udara AS-Israel. Ia kerap dipandang sebagai tokoh garis keras dengan hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Banyak yang memperkirakan pemimpin baru ini akan mengambil pendekatan yang jauh lebih tegas dan kurang kompromistis dibanding ayahnya. Sumber-sumber Barat bahkan memprediksi bahwa Sayyid Mojtaba mungkin akan memutuskan bahwa Republik Islam “harus bergerak cepat untuk memperoleh senjata nuklir guna mencegah serangan AS dan Israel di masa depan,” yang berarti membalik fatwa lama Sayyid Ali Khamenei yang melarang pengembangannya.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia “tidak senang” dengan naiknya Sayyid Mojtaba ke tampuk kekuasaan, dan kalangan birokrasi Israel juga merasa terganggu oleh perkembangan ini. Namun, hal ini merupakan konsekuensi yang tak terelakkan dari pembunuhan pemimpin sebelumnya, dan tidak ada alasan untuk percaya bahwa tindakan tersebut akan menyebabkan runtuhnya Republik Islam atau membuat Teheran tunduk secara militer. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa Washington dan Tel Aviv justru secara tidak langsung membantu naiknya pemimpin yang lebih berkomitmen untuk mengusir pengaruh AS dari Asia Barat.

Demikian pula, serangan besar Hizbullah terhadap entitas Zionis sejak pembunuhan Sayyid Khamenei seharusnya menghapus anggapan—yang sering disampaikan pejabat Israel—bahwa kelompok tersebut telah dihancurkan oleh invasi Israel ke Lebanon pada Oktober 2024. Invasi itu didahului oleh operasi di mana ribuan pager yang digunakan oleh pejabat tinggi Hizbullah diledakkan secara bersamaan setelah dipasangi bahan peledak oleh Mossad sebelum pembelian, menewaskan dan melukai ratusan orang. Sekitar satu setengah minggu kemudian, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, gugur dalam serangan udara Israel.

Jelas bahwa Perlawanan tidak dapat dihancurkan melalui pembunuhan tokoh-tokoh tingkat tinggi. Bahkan, tindakan semacam itu justru memperkuat para anggotanya. Kenyataan yang tidak nyaman ini telah diketahui CIA setidaknya sejak 2009. Pada Juli tahun tersebut, lembaga itu menyusun penilaian rahasia tingkat tinggi mengenai kelebihan dan kekurangan likuidasi “target bernilai tinggi” (HVT). Dokumen itu disiapkan sebelum kepala CIA saat itu, Leon Panetta, mengalihkan operasi “kontraterorisme” AS dari penangkapan dan penyiksaan menjadi pembunuhan langsung.

Penilaian tersebut menyimpulkan bahwa operasi terhadap target bernilai tinggi “dapat memainkan peran berguna jika menjadi bagian dari strategi kontra-pemberontakan yang lebih luas,” dan bertujuan membantu para pembuat kebijakan dan pejabat militer dalam merencanakan serangan tersebut. Namun, dokumen itu juga mencantumkan berbagai “dampak negatif potensial”. Pembunuhan Israel terhadap pemimpin Hamas dan Hizbullah disebut sebagai contoh bagaimana strategi ini dapat berbalik arah secara dramatis. Peringatan CIA ini, yang tidak diindahkan, kini terlihat nyata sejak 28 Februari.

Salah satu dampak utama adalah meningkatnya dukungan terhadap kelompok perlawanan. Hal ini terjadi karena pembunuhan dapat memperkuat hubungan kelompok bersenjata dengan masyarakat, meradikalisasi kepemimpinan yang tersisa, membuka ruang bagi kelompok yang lebih radikal, serta mengubah dinamika konflik dengan cara yang menguntungkan mereka. Tindakan semacam ini juga dapat merusak “aturan main” antara pemerintah dan kelompok perlawanan, sehingga meningkatkan tingkat kekerasan.

Penilaian CIA juga mencatat bahwa pembunuhan dapat meningkatkan dukungan jika tokoh yang dibunuh memiliki pengaruh besar, jika warga sipil turut menjadi korban, atau jika tokoh politik yang terkait dengan kelompok tersebut turut menjadi sasaran. Selain itu, basis dukungan yang luas dan ikatan kuat dengan masyarakat membuat kelompok tersebut mampu terus merekrut anggota baru.

Beberapa contoh historis menunjukkan bahwa pembunuhan tokoh publik memang bisa melemahkan kelompok tertentu. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Hamas dan Hizbullah. Kedua kelompok ini menjalankan fungsi seperti negara, termasuk layanan kesehatan, sehingga pemimpinnya dikenal luas oleh masyarakat. Struktur organisasi yang disiplin, jaringan sosial, dan cadangan pemimpin yang dihormati membuat mereka mampu dengan cepat bangkit kembali setelah kehilangan pemimpin.

Sejak pertengahan 1990-an, Israel telah melakukan pembunuhan terarah terhadap Hamas, Hizbullah, dan kelompok Perlawanan lainnya. Namun, struktur komando yang terdesentralisasi, kepemimpinan berlapis, serta hubungan kuat dengan masyarakat membuat mereka sangat tangguh. Bahkan, pembunuhan tokoh-tokoh seperti Sheikh Yassin dan Abdel Aziz al-Rantisi pada awal 2000-an justru memperkuat solidaritas antarkelompok Perlawanan dan meningkatkan dukungan terhadap pemimpin garis keras.

Pelajaran dari tindakan tersebut tampaknya tidak diambil oleh Israel ketika konflik Gaza meletus. Pada Juni 2024, jurnal Foreign Affairs bahkan menyatakan bahwa Hamas justru semakin kuat. Strategi Israel dinilai gagal dan justru memperkuat musuhnya. Hamas disebut tumbuh lebih besar dan kuat dibandingkan sebelum 7 Oktober 2023, serta mampu terus merekrut pejuang baru dan melancarkan operasi mematikan di wilayah yang sebelumnya telah “dibersihkan”.

Popularitas Hamas yang meningkat di tengah konflik Gaza memperkuat kemampuan rekrutmen mereka, terutama dari generasi muda. Hal ini memberi mereka kemampuan untuk terus melancarkan serangan secara efektif. Laporan tersebut juga menilai bahwa kehancuran besar di Gaza justru memperkuat musuh Israel.

Bukan hanya Hamas yang terdorong oleh konflik ini. Kekerasan dan kehancuran yang terjadi juga memperkuat seluruh Poros Perlawanan, meningkatkan jumlah dan tekad anggotanya, serta menarik simpati yang lebih luas di dalam dan luar Asia Barat. Serangan bersama terhadap entitas Zionis pun semakin meningkat. Dengan Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran, Republik Islam dan sekutunya disebut semakin berkomitmen untuk membebaskan Palestina dengan segala cara. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA