Search

Pengambilalihan Kedutaan AS: Kekalahan “Setan Besar” di Hadapan Bangsa Iran

Pengambilalihan Kedutaan Besar Amerika Serikat, yang dikenal sebagai penyerbuan ke “Sarang Mata-Mata”, adalah peristiwa penting dalam sejarah kontemporer Iran yang menodai citra arogan “Setan Besar” di hadapan bangsa Muslim Iran. (Mehr News)

BERITAALTERNTAIF – Permusuhan AS terhadap Republik Islam Iran yang telah berlangsung selama puluhan tahun tercermin dalam berbagai konspirasi yang menciptakan jurang ketidakpercayaan antara Teheran dan Washington.

Kudeta 1953 dan penggulingan Perdana Menteri Mosaddegh yang direncanakan oleh badan intelijen Inggris dan Amerika Serikat, tumbangnya rezim monarki Pahlavi yang didukung AS pada 1979, serta penaklukan Kedutaan Besar AS oleh para Mahasiswa Muslim Pengikut Garis Imam Khomeini pada 1979 merupakan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah hubungan Iran–AS.

Kemenangan Revolusi Islam sebagai Titik Awal Kegagalan AS

Antara Januari 1978 hingga 11 Februari 1979, rakyat Iran yang revolusioner di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini, Pendiri Revolusi Islam, menyuarakan penentangan terhadap pemerintahan sekuler Shah yang didukung AS dan telah melakukan banyak pelanggaran serta menimbulkan penderitaan bagi bangsa Iran.

Pada awal 1979, ketika demonstrasi besar-besaran dan ketidakpuasan publik meluas di seluruh negeri, penguasa diktator Iran dan keluarganya melarikan diri ke luar negeri pada 16 Januari.

Berdirinya Republik Islam Iran pada 1 April 1979 setelah monarki Pahlavi tumbang dan kemenangan Revolusi Islam pada 11 Februari 1979, menjadi pukulan besar bagi kekuatan arogan dunia yang aksesnya terhadap sumber daya Iran menjadi terbatas.

Amerika Serikat adalah salah satu kekuatan arogan yang selalu mengincar sumber daya minyak dan gas Iran serta posisi strategisnya dalam kawasan Teluk Persia.

Ketika Republik Islam yang baru berdiri menetapkan kebijakan luar negeri independen dengan slogan “Tidak ke Timur, Tidak ke Barat” dan menolak campur tangan asing, AS pun memandang Iran sebagai musuh utama.

Pengambilalihan Kedutaan AS: Kekalahan “Setan Besar” di Hadapan Bangsa Iran

Pada 3 November, Ayatollah Khomeini menyampaikan pidato penting dan menyerukan rakyat, mahasiswa, serta ulama Iran untuk menggagalkan setiap konspirasi AS dan rezim Zionis terhadap Republik Islam yang baru berdiri, serta mendesak pemerintah AS agar menyerahkan mantan diktator Iran yang melarikan diri ke New York pada akhir Oktober untuk mendapatkan perawatan medis.

Karena Shah telah menindas demonstrasi damai (1978–1979), menjarah kekayaan nasional, serta menyiksa dan membunuh banyak Muslim Iran, Imam Khomeini menegaskan bahwa ia harus dikembalikan ke Iran untuk diadili.

Intervensi AS dalam urusan internal Iran, penolakannya menyerahkan Shah, serta pertemuan sejumlah pejabat pemerintahan sementara Iran dengan Zbigniew Brzezinski, Penasihat Keamanan Nasional Presiden Jimmy Carter (1 November 1979), memicu kemarahan rakyat Iran dan mendorong mereka mengambil langkah balasan.

Setelah rangkaian insiden itu, sekelompok mahasiswa Muslim Iran memutuskan untuk mengambil alih Kedutaan Besar AS di Jalan Taleghani, Teheran.

Penyerbuan Kedutaan Besar AS pada 1979

Pada 4 November 1979, bertepatan dengan peringatan satu tahun pembantaian 56 pelajar Iran oleh pasukan Shah, serta hari ketika Imam Khomeini diasingkan ke Turki oleh rezim Pahlavi pada 1964, rakyat Iran berkumpul di Universitas Teheran untuk mengutuk konspirasi dan intervensi AS.

Di tengah kerumunan tersebut, sekitar 400 mahasiswa Muslim yang dikenal sebagai Mahasiswa Pengikut Garis Imam Khomeini menyerbu kompleks kedutaan.

Meski penjaga kedutaan berusaha mencegah mereka, para mahasiswa berhasil memanjat gerbang dan memasuki gedung pusat yang menyimpan dokumen rahasia milik Amerika.

Penyerbuan tersebut berujung pada penyanderaan 66 staf kedutaan AS.

Dari 66 sandera itu, delapan pria dan lima perempuan yang keterlibatan mata-matanya tidak terbukti diperintahkan Ayatollah Khomeini untuk dibebaskan pada 19 November 1979.

Sisanya dibebaskan pada 19 Januari 1981 berdasarkan Perjanjian Aljazair yang ditandatangani antara pemerintah Iran dan AS.

Dokumen dari Sarang Mata-Mata AS

Setelah para mahasiswa menaklukkan kedutaan, mereka menemukan sejumlah dokumen yang menunjukkan bahwa kedutaan itu bukan pusat diplomasi, melainkan markas mata-mata AS terhadap Republik Islam Iran yang baru berdiri.

Staf kedutaan berusaha menghancurkan dokumen-dokumen mata-mata menggunakan mesin penghancur kertas, termasuk telegram, korespondensi, dan laporan dari Departemen Luar Negeri AS serta CIA.

Namun karena para mahasiswa masuk tepat waktu, mereka berhasil menyelamatkan potongan-potongan dokumen dan kemudian menyusunnya kembali selama beberapa tahun. Dokumen-dokumen tersebut akhirnya diterbitkan dalam seri 77 jilid berjudul Dokumen dari Sarang Mata-Mata AS.

Imam Khomeini Menyebut AS sebagai “Setan Besar”

Dalam pidato pada 5 November, Imam Khomeini menyatakan dukungan penuh kepada para mahasiswa dan menyebut aksi mereka sebagai “Revolusi Kedua” yang bahkan lebih penting daripada revolusi pertama.

Beliau juga menyebut Amerika Serikat sebagai “Setan Besar” dan menyebut kompleks kedutaan itu sebagai “Sarang Mata-Mata AS”.

Mantan Kedutaan AS Kini Menjadi Museum

Bangunan bekas kedutaan AS itu kini dibuka untuk umum dan wisatawan mancanegara sebagai museum. Berbagai dokumen rahasia, peralatan mata-mata, perangkat telekomunikasi canggih, dan ruang-ruang rahasia dipamerkan di sana.

Bangsa Iran Memperingati Pengambilalihan Kedutaan AS dengan Pawai Besar

Setiap tahun pada 4 November, yang dikenal sebagai Hari Pelajar dan Hari Nasional Perlawanan terhadap Arogansi Global, rakyat Iran serta para pelajar di seluruh negeri menggelar pawai besar untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan AS dan menghormati mereka yang menaklukkan kedutaan, menangkap para stafnya, serta mengungkap dokumen konspirasi AS untuk menggulingkan pemerintahan Islam Iran.

Dengan meneriakkan slogan “Down with the USA” dan “Down with Israel”, rakyat Iran menyatakan sikap perlawanan terhadap kekuatan arogan dunia dan menyeru seluruh bangsa Muslim serta para pecinta kebebasan untuk tidak tunduk pada tekanan kekuatan-kekuatan tersebut. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA