Search

Pengamat: Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei selama Ini Berpengaruh di Balik Layar

Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei. (Ahlulbait Indonesia)

 

BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat Timur Tengah, Ismail Amin Passanai, menyoroti terpilihnya Mujtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang baru menggantikan ayahnya, Syahid Ali Khamenei.

Menurut Ismail, banyak pihak mempertanyakan siapa sebenarnya sosok Mujtaba Khamenei, mengapa sebelumnya tidak tampak sebagai figur publik yang menonjol, serta alasan dirinya dipilih menjadi pemimpin tertinggi Iran.

“Saya akan coba menjawab dua pertanyaan yang sering dan banyak ditanya oleh teman-teman. Tentang siapakah Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei? Kenapa sebelumnya dia tidak tampak sebagai figur yang dikenal? Kenapa beliau yang terpilih?” ujarnya dalam video yang dibagikan di akun Facebook pribadinya yang dikutip media ini pada Kamis (12/6/20026).

Dia menjelaskan bahwa Sayyid Mujtaba merupakan putra kedua Syahid Ali Khamenei. Ia memang tidak dikenal luas sebagai pejabat pemerintahan atau figur politik publik.

Hal tersebut, katanya, berkaitan dengan kebijakan Syahid Ali Khamenei yang sejak lama membatasi anak-anaknya untuk tidak memegang jabatan politik formal.

“Ada empat putra beliau, dan semuanya berprofesi sebagai pengajar, pengelola yayasan pendidikan, kepala lembaga pendidikan—intinya ulama,” jelasnya.

Ia berpendapat, kondisi tersebut juga berkaitan dengan tradisi keluarga religius di Iran, di mana anak-anak ulama biasanya mengikuti jalur keilmuan yang sama.

Meski jarang tampil di ruang publik, Ismail menilai Sayyid Mujtaba selama bertahun-tahun merupakan figur penting di balik layar dalam lingkaran kepemimpinan Iran.

“Selama bertahun-tahun Sayyid Mujtaba ini adalah operator belakang layar yang berpengaruh, terutama karena selalu mendampingi ayahnya dalam berbagai situasi penting, termasuk dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis,” ujarnya.

Ia juga disebut memiliki kedekatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Islam dan dipercaya oleh institusi militer tersebut.

“IRGC sangat percaya dan loyal kepadanya. Jadi sebelum Ayatullah Ali Khamenei wafat pun, ia sudah dipandang sebagai figur penting di balik layar,” katanya.

Ismail bahkan menganalogikan posisi Sayyid Mujtaba seperti kedekatan Imam Ali bin Abi Thalib dengan Nabi Muhammad dalam sejarah Islam.

“Keberadaan Sayyid Mujtaba ini seperti Imam Ali yang selalu berada di sisi Rasulullah, termasuk dalam momen-momen kritis, sehingga memahami secara mendalam bagaimana keputusan strategis diambil,” jelasnya.

Dia juga menyinggung kondisi Sayyid Mujtaba setelah serangan terhadap kediaman Ayatullah Ali Khamenei.

Menurutnya, saat serangan terjadi di kediaman yang juga menjadi kantor Ayatullah Ali Khamenei, Sayyid Mujtaba berada di lokasi bersama ayahnya.

Ia menyebut keduanya tidak langsung meninggal dunia setelah serangan tersebut.

“Ketika dievakuasi, Ayatullah Ali Khamenei dan Sayyid Mujtaba masih bernapas dan mendapat pertolongan medis,” katanya.

Namun, korban pertama yang diumumkan meninggal dunia adalah istri Sayyid Mujtaba dan anaknya yang masih balita.

Setelah sekitar 18 jam upaya medis untuk menyelamatkan nyawanya, Ayatullah Ali Khamenei akhirnya wafat. Beberapa hari kemudian, ibu Sayyid Mujtaba juga dilaporkan meninggal dunia.

Menurut Ismail, sejak awal sempat beredar rumor di sejumlah media Barat bahwa Sayyid Mujtaba juga tewas dalam serangan tersebut.

“Media Amerika dan Israel percaya daya ledak serangan itu pasti langsung merebut nyawa semua orang yang ada di lokasi. Tapi ternyata tidak,” ujarnya.

Ia menyebut Sayyid Mujtaba selamat dari serangan tersebut meskipun mengalami luka-luka.

Ismail menjelaskan bahwa lembaga ulama yang berwenang memilih pemimpin tertinggi Iran, yaitu Majles Khobregan, membutuhkan waktu lebih dari sepekan untuk mengumumkan pengganti Ayatullah Ali Khamenei.

Menurutnya, salah satu alasan lamanya proses tersebut adalah karena menunggu kepastian kondisi kesehatan Sayyid Mujtaba yang saat itu mengalami luka-luka.

“Sejak awal kemungkinan besar sudah ada keputusan untuk menetapkan beliau sebagai pemimpin tertinggi, tetapi saat itu kondisinya masih kritis dan belum bisa dipastikan akan selamat atau tidak,” ujarnya.

Setelah masa kritisnya dinilai telah terlewati dan harapan hidupnya semakin besar, Majelis tersebut akhirnya mengumumkan Sayyid Mujtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Hingga saat ini, Sayyid Mujtaba disebut belum tampil di hadapan publik. Menurut dia, hal tersebut disebabkan oleh dua faktor, yaitu alasan keamanan serta proses pemulihan kesehatannya.

“Beliau masih dijaga keamanannya karena menjadi target dan juga masih dalam proses penyembuhan,” katanya.

Ia menambahkan, bagi sebagian rakyat Iran, selamatnya Sayyid Mujtaba dari serangan tersebut dipandang sebagai bentuk pertolongan Tuhan bagi keberlangsungan Republik Islam Iran.

“Rakyat Iran melihat ini sebagai pertolongan Allah yang menjaga keberlangsungan Republik Islam Iran dengan menyelamatkan nyawa Sayyid Mujtaba,” pungkasnya. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA