BERITAALTERNATIF.COM – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) mendorong program one village, one product atau satu desa satu produk dan one district, one industry atau satu kecamatan satu industri untuk memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Program ini diarahkan agar setiap wilayah mampu mengembangkan produk unggulan yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, berharap desa-desa mampu meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sehingga tidak terus bergantung pada sumber pendanaan dari pemerintah.
“Harapan kita, desa-desa kita hari ini bisa bertahan dengan pendapatan asli desa mereka, tidak semata-mata berharap pada DD dan ADD,” kata Aulia, Senin 26 Oktober 2026.
Menurutnya, pengembangan produk unggulan desa dan industri di tingkat kecamatan menjadi salah satu upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Dia berharap program tersebut dapat diperkuat melalui Koperasi Desa Merah Putih dan berbagai sektor usaha potensial.
Aulia mengilustrasikan, apabila setiap desa mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp2 miliar, kemandirian ekonomi desa akan semakin kuat.
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kukar, Alfian Noor, mengatakan pihaknya sedang menginventarisasi potensi produk unggulan di setiap desa.
DPMPTSP juga menyiapkan kajian untuk menentukan komoditas yang layak dikembangkan berdasarkan potensi lokal dan peluang pasar. Langkah ini dilakukan agar produk unggulan antardesa tidak saling berbenturan.
“Artinya, satu desa satu produk. Nah, sekarang kami sedang melakukan inventarisasi dan akan melakukan kajian terkait dengan desa-desa tadi,” ujar Alfian.
Dia menjelaskan, kajian pengembangan industri untuk wilayah kecamatan pernah dilakukan pada 2023. Pemkab Kukar berencana melanjutkan pemetaan hingga tingkat desa agar potensi ekonomi setiap wilayah dapat teridentifikasi dengan lebih baik.
“Harapan kita, produk-produk desa itu jangan terlalu banyak berbenturan dengan desa lainnya. Sehingga dalam sistem pemasaran dan sebagainya nanti tidak terkendala,” katanya.
Selain memetakan produk unggulan, DPMPTSP Kukar juga mendorong pengembangan industri non-ekstraktif. Sektor ini berfokus pada kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk bernilai tambah, bukan hanya mengambil sumber daya alam secara langsung.
“Salah satu indikator kinerja utama yang diberikan kepada kami, salah satunya adalah industri non-ekstraktif. Jadi, industri yang tidak langsung ke sumber daya alamnya, tetapi industri olahan,” jelas Alfian. (Adv)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Devi Nila Sari











