BERITAALTERNATIF.COM – Rangga Bahtiar, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), meraih penghargaan Most Innovative Idea dalam Indonesia Future Leaders Summit 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia di Depok, Jawa Barat, pada 7–9 Oktober 2026.
Penghargaan tersebut diraih kelompok yang dipimpin Rangga melalui gagasan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI sebagai auditor digital untuk memantau anggaran pemerintah, khususnya dalam pengadaan barang dan jasa.
Dia merupakan satu dari 300 mahasiswa terpilih dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang mengikuti kegiatan tersebut.
Para peserta mengikuti forum pengembangan kepemimpinan dan Policy Hackathon, yakni kegiatan untuk menganalisis persoalan publik serta menyusun rancangan rekomendasi kebijakan.
Ia menjelaskan, proses seleksi diikuti ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Peserta diminta mengumpulkan berkas identitas diri dan sertifikat prestasi akademik, serta menulis esai mengenai keresahan terhadap persoalan sosial di daerah dan motivasi menjadi seorang pemimpin.
“Seleksinya mulai dari pengumpulan berkas data diri hingga sertifikat prestasi akademik, kemudian esai yang berkaitan dengan keresahan personal terhadap isu sosial kedaerahan,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif pada Senin (12/10/2026).
Dalam Policy Hackathon, kelompok Rangga mengembangkan gagasan sistem AI bernama Price Parity Detector.
Sistem ini dirancang untuk menganalisis transaksi pemerintah, membandingkan kewajaran harga, serta mendeteksi anomali dan pola risiko sejak dini.
Melalui teknologi tersebut, pengawasan anggaran diharapkan tidak hanya dilakukan setelah muncul persoalan, tetapi juga mampu mengidentifikasi potensi penyimpangan sebelum menimbulkan kerugian negara.
Dia mengatakan bahwa gagasan itu dirancang untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas penggunaan uang publik melalui pengawasan berbasis teknologi.
Namun, ia menilai penerapannya di Kutai Kartanegara masih membutuhkan berbagai persiapan.
Ketersediaan data yang akurat dan terintegrasi, infrastruktur digital, serta sumber daya manusia yang kompeten menjadi sejumlah kebutuhan mendasar.
Sistem tersebut juga membutuhkan server, jaringan internet, tenaga ahli teknologi informasi, analis data, auditor, anggaran, dan regulasi yang mendukung.
“Melihat kondisi saat ini, sepertinya sulit melakukannya dalam waktu dekat,” kata Rangga mengenai kemungkinan penerapan gagasan tersebut di Kukar.
Selain mengikuti kompetisi inovasi, dia memanfaatkan forum itu untuk menyampaikan sejumlah persoalan di Kukar kepada para pengambil kebijakan di tingkat pusat.
Isu yang disampaikannya meliputi angka putus sekolah, belum tersedianya perguruan tinggi negeri di Kukar, pemadaman listrik bergilir, hingga kebakaran hutan.
Ia berharap persoalan yang disampaikan dalam forum tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat menjadi langkah konkret bagi masyarakat daerah.
“Harapannya semua hal yang saya sampaikan dalam forum ini bisa dielaborasi menjadi sebuah tindakan konkret oleh pemerintah pusat,” ucapnya.
Rangga juga berencana memanfaatkan jejaring yang diperoleh selama kegiatan untuk mendukung pembangunan daerahnya pada masa mendatang.
“Saya akan memanfaatkan jejaring dan relasi yang saya dapatkan dalam kegiatan ini untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah saya di kemudian hari,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











