BERITAALTERNATIF.COM – Teheran dalam beberapa hari terakhir telah menjadi pusat duka sekaligus penegasan politik. Jutaan orang, mengenakan pakaian hitam, membanjiri jalan-jalan ibu kota Iran untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sosok yang selama 36 tahun menjadi Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang gugur pada 28 Februari dalam serangan pengecut yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan “Israel”, yang juga merenggut nyawa empat anggota keluarganya.
Pembunuhan tersebut, yang dilakukan melalui serangan gabungan AS dan “Israel”, dimaksudkan untuk memenggal kepemimpinan Republik Islam dan mematahkan semangat rakyat yang telah menjadikan perlawanan sebagai alasan keberadaan mereka. Namun hasilnya justru berlawanan: bangsa Iran tampil lebih bersatu daripada sebelumnya, berubah menjadi tembok yang tidak dapat ditembus menghadapi fasisme dan keangkuhan imperialisme.
Gambar peti jenazah yang diselimuti bendera Iran serta dihiasi sorban hitam—simbol garis keturunannya sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw—dan syal keffiyeh Palestina telah beredar ke seluruh dunia. Diperkirakan antara 12 hingga 20 juta orang menghadiri prosesi tersebut, menjadikannya sebuah peristiwa bersejarah.
Bagi pulau kecil Kuba, perpisahan ini bukanlah peristiwa yang jauh. Sebuah delegasi resmi yang dipimpin oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Dr. Walter Baluja García, telah datang ke Teheran untuk mengikuti penghormatan pemakaman, sebagai tanda persaudaraan yang terjalin antara dua bangsa yang menjadikan perlawanan terhadap imperialisme sebagai identitas mereka di panggung internasional.
Kesyahidan Memperkokoh Persatuan Bangsa
Besarnya skala logistik pemakaman ini belum pernah terjadi sebelumnya. Jenazah Sayyid Khamenei, yang dipelihara selama empat bulan sejak pengeboman tersebut, disemayamkan berdampingan dengan peti jenazah putrinya, menantunya, cucunya, dan menantu laki-lakinya, yang seluruhnya gugur secara bersamaan dalam serangan itu. Keputusan Washington dan Tel Aviv untuk membunuh bukan hanya sang pemimpin, tetapi juga keluarganya, menunjukkan sifat kriminal musuh yang tidak menghormati prinsip-prinsip paling mendasar hukum internasional maupun nilai-nilai kemanusiaan yang paling dasar.
Rangkaian upacara secara resmi dimulai pada Sabtu, 4 Juli, dengan slogan “We Must Rise” (Kita Harus Bangkit), sebuah kebetulan waktu yang memiliki makna simbolis yang mendalam: jenazah pemimpin Iran dimakamkan bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, sebuah negara yang selama periode tersebut telah memenuhi dunia dengan perang-perang penjarahan, kudeta, dan agresi terhadap bangsa-bangsa di dunia.
Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah komentar yang merupakan provokasi terang-terangan, menyatakan, “Kami memberi Iran libur selama seminggu untuk pemakaman karena kami baik.” Tanggapan dari jalan-jalan Teheran pun segera muncul: para pelayat meneriakkan slogan-slogan anti-AS dan menuntut pembalasan. “Semua orang di sini datang untuk membalas darah pemimpin tertinggi mereka,” kata Arash Rahimi, 40 tahun, kepada Reuters.
Rencana Washington dan Tel Aviv untuk melemahkan dan memecah belah Iran telah gagal total. Kesyahidan sang pemimpin justru mengukuhkan persatuan nasional di sekitar prinsip-prinsip Revolusi Islam. Kehadiran massa dalam jumlah besar pada pemakaman tersebut merupakan referendum rakyat atas legitimasi sistem Islam, sekaligus jawaban yang tegas bagi mereka di Barat yang berusaha menggambarkan Iran sebagai rezim yang terpecah dan kehilangan dukungan.
Sayyid Ali Khamenei: Cendekiawan dan Simbol Kebajikan
Untuk memahami besarnya warisan Sayyid Khamenei, perlu menelusuri karakter pribadinya, kedudukan moralnya, serta visi strategisnya—sifat-sifat yang menjadikannya seorang pemimpin yang luar biasa.
Sayyid Khamenei bukan sekadar seorang politikus atau komandan militer; di atas segalanya, beliau adalah seorang alim, seorang tokoh yang memiliki spiritualitas mendalam dan pengetahuan agama yang luas, yang mampu memadukan keluasan ilmu teologi dengan pragmatisme politik. Sosoknya memiliki simbolisme moral yang tinggi, melampaui batas-batas Iran dan menjadikannya rujukan etis bagi berbagai gerakan perlawanan di seluruh dunia. Ia dikenal karena kerendahan hatinya, kehidupan yang sederhana, dan kedekatannya dengan kelompok-kelompok masyarakat yang paling kurang beruntung.
Para pelayat—banyak di antaranya adalah kaum muda yang bahkan belum lahir ketika Sayyid Khamenei mulai memimpin pada tahun 1989—mengungkapkan kekaguman mereka atas konsistensi dan keteguhan sang ayatullah. Bagi mereka, Sayyid Khamenei merupakan personifikasi perlawanan, seorang tokoh yang tidak pernah goyah di bawah tekanan, yang selama 36 tahun mempertahankan sikap anti-imperialismenya tanpa bergeser sedikit pun.
Perjalanan hidup Sayyid Khamenei adalah kronik Revolusi Islam itu sendiri. Lahir di Mashhad pada tahun 1939, beliau merupakan murid dekat Ayatullah Ruhollah Khomeini dan berperan aktif dalam gerakan yang menggulingkan Shah pada tahun 1979. Selamat dari serangan bom pada tahun 1981 yang menyebabkan lengan kanannya lumpuh permanen, beliau kemudian menjabat sebagai Presiden Iran di tengah perang berdarah melawan Irak. Pada tahun 1989, setelah wafatnya Imam Khomeini, beliau ditunjuk sebagai penerusnya untuk memimpin Republik Islam.
Warisannya bertumpu pada beberapa pilar utama: Pertama, arsitek negara yang kuat. Sayyid Khamenei mengonsolidasikan kewenangan jabatannya hingga menjadi figur politik dan militer yang tidak terbantahkan di Iran. Sebagai panglima tertinggi, beliau memperluas otoritasnya ke seluruh cabang pemerintahan dan angkatan bersenjata, termasuk Garda Revolusi. Di bawah kepemimpinannya, Iran berubah menjadi negara berdaulat yang matang, mampu mempertahankan persatuannya meskipun menghadapi puluhan tahun sanksi.
Kedua, sang pembela perlawanan. Warisan terpenting Sayyid Khamenei adalah komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap doktrin perlawanan melawan dominasi global AS dan “Israel”. Doktrin inilah yang membangun “Poros Perlawanan”, sebuah jaringan sekutu dan kelompok bersenjata di Lebanon, Suriah, Irak, Yaman, dan Gaza. Sayyid Khamenei pula yang menjadikan perjuangan Palestina sebagai poros utama kebijakan luar negeri Iran.
Ketiga, ahli strategi keseimbangan internasional. Sayyid Khamenei mampu membangun aliansi strategis dengan kekuatan-kekuatan seperti Tiongkok dan Rusia. Beliau memandang Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Tiongkok bukan hanya sebagai perjanjian ekonomi, tetapi juga sebagai dialog antarperadaban dan salah satu pilar bagi tatanan dunia multipolar.
Kuba di Teheran: Pelukan Dua Perlawanan
Bagi Kuba, keikutsertaan dalam pemakaman ini merupakan penegasan kembali atas aliansi strategis yang telah dibangun Sayyid Khamenei selama lebih dari dua dekade. Delegasi resmi Kuba disambut di Bandara Internasional Imam Khomeini oleh Direktur Jenderal Urusan Amerika di Kementerian Luar Negeri Iran, Dr. Zahra Ershadi, sebagai tanda tingginya tingkat hubungan bilateral kedua negara.
Namun kehadiran Kuba tidak hanya terbatas pada upacara pemakaman. Pada hari-hari berikutnya, Menteri Kuba Walter Baluja García bertemu dengan Menteri Sains Iran Hossein Simaei-Sarraf untuk menegaskan perlunya memperluas kerja sama akademik dan pendidikan. Menteri Kuba memuji kemajuan ilmiah Iran meskipun berada di bawah sanksi, sementara mitranya dari Iran menyatakan harapan agar Kuba, sebagaimana Iran, mampu mengatasi tekanan AS.
Salah satu bidang kerja sama yang paling menjanjikan adalah bioteknologi. Kuba dan Iran telah mencapai kemajuan penting dalam produksi obat-obatan dan vaksin, menentang blokade ilmiah yang diberlakukan Barat. Kerja sama di sektor ini, yang secara pribadi didorong oleh Sayyid Khamenei, telah memungkinkan kedua negara mengembangkan kemampuan sendiri di bidang yang sangat strategis bagi kesehatan masyarakat dan kedaulatan nasional.
Kunjungan penting ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ini merupakan kelanjutan dari hubungan yang mencapai puncaknya pada Desember 2023, ketika Presiden Miguel Díaz-Canel melakukan kunjungan bersejarah ke Teheran dan bertemu dengan Sayyid Khamenei.
Dalam pertemuan tersebut, pemimpin Iran itu menyatakan dengan tegas: “Kemampuan-kemampuan ini harus dimanfaatkan untuk membentuk sebuah aliansi dan koalisi di antara negara-negara yang memiliki sikap yang sama dalam menghadapi perilaku koersif Amerika Serikat.”
Kekaguman Sayyid Khamenei terhadap Revolusi Kuba didasarkan pada apa yang beliau sebut sebagai “tiga S”, yaitu “ketulusan revolusioner” (revolutionary sincerity), “perlawanan revolusioner” (revolutionary resistance), dan “kesungguhan revolusioner” (revolutionary seriousness).
Visi Fidel Castro: Seorang Saudara, Sahabat, dan Sekutu
Untuk memahami kedalaman hubungan antara Kuba dan Iran, penting merujuk pada pernyataan Panglima Besar Fidel Castro, yang meletakkan dasar-dasar persaudaraan tersebut. Dalam kunjungan resminya ke Teheran pada Mei 2001, Fidel menyatakan: “Iran adalah bangsa yang bersaudara, sahabat, dan sekutu.”
Ia menambahkan: “Saya datang bukan untuk melakukan perjalanan bisnis; saya datang untuk melakukan perjalanan politik.”
Fidel melihat Iran yang revolusioner sebagai “benteng utama kemerdekaan dan martabat kawasan ini.” Menurut pemimpin Kuba tersebut, Revolusi Islam telah mengakhiri peran yang sebelumnya diberikan imperialisme Amerika kepada Iran pada masa Shah, sementara rakyat Iran yang “cerdas, pejuang, dan pemberani” ditakdirkan memainkan peran penting di panggung dunia.
Sayyid Khamenei sendiri mengakui bahwa: “Revolusi Kuba dan sosok Castro selalu memiliki daya tarik khusus bagi para revolusioner Iran, bahkan sebelum kemenangan Revolusi Islam.”
Kekaguman yang saling berbalas itulah yang menjadi fondasi dibangunnya sebuah aliansi yang hingga kini tetap kokoh.
Pada tahun 2010, dalam salah satu tulisan terkenalnya berjudul “Reflections“, Fidel menulis: “Iran tidak akan pernah tunduk pada ancaman musuh mana pun.”
Sebuah prediksi yang, menurut penulis, telah dibuktikan oleh sejarah.
Jenderal Angkatan Darat Raúl Castro melanjutkan garis persaudaraan tersebut. Pada Juni 2023, saat menerima Presiden Iran, ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Iran atas dukungannya terhadap perjuangan Kuba melawan blokade ekonomi, perdagangan, dan keuangan yang tidak adil, sekaligus menegaskan kembali bahwa hubungan kedua negara melampaui naik turunnya dinamika politik internasional.
Aliansi Teheran–Havana: Sebuah Ikatan yang Melampaui Segalanya
Aliansi Teheran–Havana, yang dibangun di atas perlawanan bersama terhadap imperialisme, akan tetap bertahan meskipun arsitek utamanya telah wafat. Hubungan ini bukanlah sesuatu yang bersifat sementara. Fondasinya telah diletakkan sejak tahun 2001, ketika Sayyid Khamenei mengatakan kepada Fidel Castro: “Berdasarkan keyakinan agama kami, kami memandang Amerika Serikat sebagai rezim yang arogan, dan kami menentang tatanan dunia unipolar.”
Keyakinan yang diungkapkan seperempat abad lalu itu hingga kini tetap menjadi poros hubungan kedua negara.
Karena itu dapat ditegaskan bahwa ikatan kedua bangsa bukan sekadar hubungan strategis, melainkan juga hubungan spiritual yang dibangun atas dasar saling menghormati dan keyakinan bahwa perlawanan merupakan sebuah nilai tersendiri. Kuba menyaksikan bagaimana Sayyid Khamenei mengubah Iran menjadi kekuatan regional meskipun berada di bawah sanksi. Sebaliknya, Iran mengagumi kemampuan Kuba bertahan menghadapi lebih dari enam dekade blokade tanpa menyerah.
Kuba meyakini bahwa berbagai kesepakatan yang ditandatangani pada tahun 2023, khususnya di bidang ilmu pengetahuan, kesehatan, energi, dan bioteknologi, akan terus dijalankan. Kehadiran delegasi Kuba dalam prosesi pemakaman menunjukkan bahwa Havana bukan hanya memberikan penghormatan, tetapi juga tetap berkomitmen mengembangkan kerja sama dan memperkuat hubungan dengan kepemimpinan baru Iran.
Perempuan Iran: Tokoh-Tokoh Utama Revolusi
Dalam prosesi pemakaman tersebut, perempuan Iran mewujudkan sebuah Revolusi yang hidup dan berkeadilan. Kehadiran mereka yang begitu besar dan menonjol dalam upacara pemakaman merupakan jawaban paling nyata bagi mereka yang berusaha menggambarkan perempuan Iran sebagai sosok yang tertindas.
Mesin media Barat telah membangun jaringan kebohongan dan distorsi untuk mendelegitimasi Republik Islam. Salah satu narasi utamanya adalah tuduhan mengenai penindasan terhadap perempuan di Iran, sebuah tuduhan yang, menurut penulis, runtuh oleh kenyataannya sendiri. Pemandangan dalam pemakaman Sayyid Khamenei, di mana perempuan-perempuan Iran berada di barisan terdepan, berjaga di sisi pemimpin mereka sambil meneriakkan slogan-slogan menentang AS dan “Israel”, menjadi bukti terbaik bahwa narasi Barat tersebut hanyalah sebuah sandiwara.
Barat, yang selama berabad-abad telah menindas perempuan-perempuannya sendiri, menganggap dirinya berhak mengajari Iran, dengan mengabaikan kenyataan bahwa Revolusi Islam telah mengangkat kedudukan perempuan Iran ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perempuan Iran merupakan kalangan profesional, ilmuwan, politisi, akademisi, dan pengusaha. Mereka mengakses pendidikan tinggi dalam persentase yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki dan berpartisipasi secara aktif dalam seluruh aspek kehidupan nasional.
Keberlanjutan Kepemimpinan dan Warisan yang Abadi
Dapat dipastikan bahwa kepemimpinan baru Iran, yang dipimpin oleh Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei dan dibimbing oleh warisan spiritual serta politik ayahnya, akan tetap mempertahankan garis tegas perlawanan terhadap imperialisme. Revolusi merupakan sebuah proses kolektif, dan prinsip-prinsip yang membimbingnya telah berakar dalam kesadaran rakyat. Iran akan terus menjadi mercusuar bagi gerakan-gerakan pembebasan serta benteng menghadapi fasisme dan keangkuhan imperialisme.
Pemakaman Sayyid Khamenei, dengan kehadiran massa yang sangat besar dan partisipasi para pemimpin dunia, merupakan bukti kemampuan beliau dalam menggerakkan rakyat serta menunjukkan sentralitas sosoknya dalam imajinasi Revolusi Islam. Beliau adalah penjaga kedaulatan Iran dan simbol perlawanan terhadap imperialisme. Di tengah dunia yang, menurut penulis, sedang menyaksikan bangkitnya fasisme, Iran telah menjadikan dirinya sebagai tembok penahan tirani imperial, menantang tatanan dunia unipolar serta membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang memilih untuk melawan dapat meraih kemenangan.
Upacara-upacara penghormatan akan terus berlangsung selama 40 hari, tetapi warisannya kini tidak lagi hanya menjadi milik Iran. Warisan itu menjadi milik semua orang yang meyakini bahwa dunia yang lain adalah mungkin untuk diwujudkan. Bangsa Iran akan menjaga dan memperdalam warisan tersebut. Kerja sama dengan Kuba, Tiongkok, Rusia, serta seluruh bangsa yang menentang imperialisme akan tetap menjadi poros kebijakan luar negeri yang bertujuan membangun dunia yang multipolar dan berkeadilan. Kuba dan Iran, yang dipersatukan oleh duka dan harapan, akan terus menulis bersama sejarah perlawanan yang berhasil dirajut oleh Sayyid Khamenei.
Wafatnya Sayyid Khamenei bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari sebuah tahap baru. Diperkuat oleh kesyahidan pemimpinnya, Iran akan terus menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara. Sebagaimana Imam Husain melampaui kematiannya dan menjadi simbol abadi perjuangan melawan tirani, Sayyid Khamenei akan tetap hidup dalam ingatan manusia sebagai sosok yang tidak pernah menyerah.
Salam sejahtera atas Sayyid Khamenei, dan semoga warisannya menginspirasi generasi-generasi mendatang untuk terus melanjutkan perjuangan demi dunia yang lebih adil dan berdaulat. (*)
Penulis: Pedro Monzón Barata
Sumber: Al Mayadeen












