Search

Duka dan Kebangkitan

Kesatuan yang begitu mendalam dalam duka ini bukanlah kesedihan yang pasif. Ia adalah sebuah kekuatan yang menuntut tindakan. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – “Saat fajar, ketika penguasa Timur membentangkan panjinya di atas pegunungan, dengan tangan penuh anugerah, Sang Kekasihku membukakan pintu harapan bagi para pencari. Lalu, ketika cahaya pagi menyingkap hakikat sejati cinta dan keadilan Ilahi, terdengarlah tawa yang gembira dan bercahaya yang menghantam kesombongan para pembawa kemenangan yang hampa.” Kutipan dari Ghazal 153 karya Hafez (1325–1390)

Baris-baris syair karya Hâfez ini sering dibacakan oleh seorang ibu kepada anaknya, yang kelak akan menjadi salah satu pemimpin legendaris Perlawanan, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Dan beliau membawa bait-bait tersebut, bersama kenangan akan ibunya, di dalam hatinya sepanjang hidupnya.

Bagi Sayyid Ali Khamenei, bait-bait itu lebih dari sekadar puisi; ia merupakan sebuah warisan yang hidup, untaian kata-kata puitis tentang harapan dan perlawanan yang membentuk jiwanya.

Sebab Hâfez tidak sekadar menggambarkan matahari terbit; ia sedang menggambarkan momen keadilan kosmis yang terjadi ketika cahaya kebenaran—matahari, Sang Kekasih, rakyat yang terbangun—terbit.

Hari ini, kita dapat memandang bait-bait tersebut sebagai sebuah “nubuat” yang membingkai upacara pemakaman rakyat bagi Sayyid Khamenei sebagai sebuah peristiwa kosmis: fajar kebangkitan ketika keadilan Ilahi disingkapkan, saat rakyat Iran, dalam persatuan dan dukanya, menyadari hakikat sejati dari “cinta dan keadilan Ilahi” lalu bangkit untuk menantang kekuatan-kekuatan imperialisme.

“Tawa yang bercahaya” menjadi suara pembebasan, bergema sebagai kegembiraan penuh perlawanan dari rakyat yang, melalui bertahun-tahun penderitaan, telah menemukan persatuan dan tujuan hidup. Tawa itu “menghantam kesombongan” semua pihak, baik kaum imperialis asing maupun sebagian rekan sebangsa yang telah “terbaratkan” (westoxified), yang percaya bahwa mereka mampu menindas suatu bangsa yang memiliki semangat yang tidak dapat dipatahkan.

Sang Pemimpin sebagai Cermin Rakyat

Siapakah sosok yang kini diratapi oleh jutaan orang itu? Mengenal seseorang bukanlah sekadar mendengar apa yang ia katakan, melainkan melihat bagaimana ia menjalani kehidupannya… dan melihat bagaimana gema dirinya hidup di dalam diri orang lain.

Beberapa kepingan mozaik dari masa awal kehidupannya: masa kecil yang dihabiskan dalam sebuah keluarga yang sederhana, sangat religius, dan memiliki budaya intelektual yang tinggi; kedua orang tua yang penuh kasih, berilmu, serta mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak mereka dalam studi Al-Qur’an dan berbagai bidang ilmu pengetahuan mendasar lainnya, di antaranya puisi menempati posisi yang sangat penting; penanaman terus-menerus mengenai nilai perjuangan dan keteguhan; masa-masa penahanan, penyiksaan, dan pengasingan di bawah SAVAK milik Shah; hingga upaya pembunuhan pertama terhadap dirinya—yang dilakukan oleh MEK—yang mengakibatkan beliau kehilangan fungsi lengan kanannya.

Pengalaman-pengalaman tersebut tidak menjadikannya pahit hati. Semua itu mengajarkannya kesabaran, ketangguhan, keteguhan, kerendahan hati, dan kebijaksanaan. Pengalaman itu memperdalam rasa kasih sayangnya serta kedekatannya dengan mustadafin (kaum tertindas), yang kepadanya beliau merasa memiliki kewajiban yang tidak akan pernah berakhir. Komitmen inilah yang kemudian menjadi inti doktrin politik dalam negeri dan kebijakan luar negeri Iran.

Sayyid Khamenei selama puluhan tahun mendukung pembebasan Palestina melalui bantuan militer, logistik, dan politik dalam perjuangan untuk menghapus entitas Zionis yang disebutnya sebagai teroris dari kawasan tersebut. Kasih sayangnya juga meluas kepada rakyat Lebanon, yang selama puluhan tahun turut mengalami penderitaan di bawah penjajahan Zionis; beliau memandang Hizbullah dan perlawanan Lebanon sebagai pilar-pilar penting dalam perjuangan yang bersatu.

Di bawah kepemimpinannya, Iran juga mendukung Ansarullah dalam perjuangan mereka membebaskan diri dari dominasi Arab Saudi. Beliau mendukung perjuangan melawan apartheid di Afrika Selatan—Nelson Mandela menyebutnya “pemimpin saya”. Dan Thomas Sankara serta Sayyid Khamenei dipersatukan oleh keyakinan bahwa rakyat mereka tidak akan pernah benar-benar merdeka selama masih berada di bawah dominasi Barat.

Beliau adalah seorang yang memiliki kebudayaan tinggi: seorang filsuf, penyair, dan cendekiawan sastra. Beliau menguasai empat bahasa. Beliau juga merupakan seorang ahli strategi militer yang brilian yang merancang Strategi Pertahanan Mozaik (Mosaic Defense Strategy), yang membawa Iran meraih kemenangan dalam Perang Ramadan melawan negara yang disebut sebagai negara adidaya dunia.

Namun, besarnya rasa cinta dan kepedihan yang tampak dalam gelombang duka atas wafatnya Sayyid Khamenei berakar pada kualitas-kualitas pribadinya: kemanusiaannya, kasih sayangnya, ketulusannya, kerendahan hatinya, dan kesetiaannya—nilai-nilai universal yang bergema di seluruh budaya. Rakyat menghormatinya bukan hanya karena otoritas teologis atau kejeniusannya dalam strategi, melainkan karena karakter moralnya: gaya hidupnya yang sederhana, keteguhannya, dan kepeduliannya terhadap rakyat biasa. Bagi banyak orang, beliau adalah sosok seorang ayah.

Bahasa Hati yang Sama: Persatuan dalam Duka

Para pelayat yang saling berpelukan, menangis, serta meneriakkan slogan-slogan untuk Palestina dan Lebanon bahkan di tengah duka mereka sendiri—itulah bahasa hati, sebuah bahasa yang melampaui segala batas usia, kelas sosial, etnis, agama, dan ideologi. (Dalam salah satu video, Ayatullah Jannati yang berusia 99 tahun—”lebih tua daripada ‘Israel'”—berjalan dengan susah payah dalam iring-iringan pemakaman.) Itulah bahasa hati yang merasakan penderitaan orang lain, bahkan melampaui batas-batas nasional dan agama.

Rakyat telah menyadari bahwa penderitaan mereka berkaitan dengan penderitaan bangsa-bangsa lain di dunia, yang disebabkan oleh musuh yang sama, yang diselimuti oleh supremasi, kolonialisme, dan kekuasaan yang tanpa belas kasihan.

Kesatuan yang begitu mendalam dalam duka ini bukanlah kesedihan yang pasif. Ia adalah sebuah kekuatan yang menuntut tindakan… dan kekuatan itu semakin menguat. Persatuan itu sendiri merupakan sebuah pernyataan politik sekaligus spiritual.

Dari Duka Menuju Keadilan

Di dalam upacara pemakaman itu tidak hanya terdapat air mata, tetapi juga bendera-bendera merah—bertuliskan “Wahai Penuntut Balas Darah Husain”—serta gelang tangan merah yang melambangkan tuntutan akan pembalasan.

Mereka menuntut pembalasan bagi pemimpin yang mereka cintai, yang dibunuh secara brutal di rumahnya bersama anggota keluarganya yang lain dalam sebuah pembunuhan terarah berteknologi tinggi yang dilakukan melalui serangan udara gabungan AS dan Israel. Mereka menuntut pembalasan bagi seluruh orang tak berdosa yang dibantai di sekolah-sekolah, taman bermain, rumah-rumah, dan tempat-tempat kerja. Mereka menuntut pembalasan atas genosida yang terus berlangsung terhadap Palestina, yang kini telah meluas ke Lebanon. Mereka menuntut pembalasan atas upaya brutal yang telah berlangsung selama berabad-abad untuk menghancurkan peradaban mereka.

Lautan bendera merah merupakan isyarat paling kuat bahwa jalan perlawanan tetap menjadi jalan rakyat. Rekaman udara memperlihatkan iring-iringan itu menyerupai sungai-sungai darah yang berdenyut di dalam sebuah jantung raksasa yang terus berdetak.

Revolusi tidak pernah berakhir. Revolusi terus berlangsung.

Warisan Sang Pemimpin

Di dunia yang merindukan kepemimpinan yang autentik, upacara ini menunjukkan bahwa otoritas spiritual yang sejati lahir dari karakter, bukan dari kekuasaan kelembagaan; bahwa seorang pemimpin yang kuat melayani rakyatnya dengan menjadikan mereka kuat; bahwa kedaulatan sejati suatu negara berada di dalam rakyatnya.

Di dunia yang mengajarkan kita untuk mematikan perasaan, menenggelamkan diri dalam “roti dan hiburan” (bread and circuses), serta menghindari kepedihan realitas, rakyat Iran memilih untuk merasakan semuanya secara mendalam, sepenuhnya, dan bersama-sama. Ini merupakan tindakan pemberontakan terhadap struktur masyarakat neoliberal itu sendiri—sebuah sistem yang menawarkan ilusi berupa konsumsi, status, dan gangguan tanpa akhir. Rakyat Iran telah menunjukkan kepada kita apa yang sesungguhnya nyata: cinta, pengorbanan, solidaritas, dan keberanian untuk berdiri demi keadilan.

Pelajaran dari jalan-jalan Iran menjadi bukti bahwa sebuah bangsa yang bersatu dalam iman dan tujuan mampu menghadapi kekuatan-kekuatan global yang paling tangguh sekalipun serta menentukan nasibnya sendiri.

Dari Duka Menuju Kesadaran Baru

Upacara Duka Rakyat Iran, pada tingkat maknanya yang paling dalam, merupakan seruan bagi lahirnya sebuah dunia baru—sebuah dunia di mana komunitas spiritual dibangun atas dasar kemanusiaan bersama, di mana kepemimpinan berakar pada karakter, di mana duka menjadi sumber kekuatan, dan di mana solidaritas terhadap kaum tertindas merupakan sebuah kewajiban suci.

Bagi semua orang yang mencari pembebasan dari penindasan, kolonialisme, dan kapitalisme neoliberal Barat, peristiwa ini menawarkan pelajaran-pelajaran yang nyata: pentingnya kesadaran sejarah, solidaritas yang melampaui batas-batas negara, serta penolakan terhadap materialisme.

Lautan duka yang begitu luas di dalam dan di sekitar Imam Khomeini Grand Mosalla, yang membanjiri kota dengan iring-iringan warna hitam perkabungan dan merah yang menyala, menandai sebuah momen yang secara unik sakral dalam sejarah umat manusia. Itulah gambaran jutaan manusia yang bersatu, yang hingga saat ini diperkirakan mencapai hampir 25 juta orang, yang menolak menyerahkan jiwa mereka. Itulah prosesi pemakaman terbesar dalam sejarah umat manusia. Dan karena itu, peristiwa tersebut merupakan sebuah pertanda yang penuh harapan bagi umat manusia.

Fajar telah menyingsing, panji telah dikibarkan, dan pintu harapan telah terbuka. (*)

Penulis: Nora Hoppe
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA