Oleh: Nur Hasanah*
Fenomena sosial yang terjadi akhir-akhir ini tentang merosotnya akhlak anak dan remaja semakin menjadi kekhawatiran sekaligus harus menjadi atensi khusus bagi elemen yang memiliki andil dalam perbaikan karakter anak bangsa baik itu keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat. Perilaku menyimpang sering dipertontonkan secara vulgar seperti perundungan, kekerasan fisik, pembunuhan, kecanduan narkoba, judi online, kurangnya rasa hormat kepada guru dan orang tua, perilaku menyimpang tersebut diperlihatkan secara terbuka di ruang publik dan media sosial, beberapa contoh kasus tersebut menjadi gambaran buramnya kondisi generasi muda saat ini. Banyak pihak saling menyalahkan sekolah, lingkungan, bahkan teknologi. Namun, sering kali kita lupa menoleh ke sumber utama yang membentuk akhlak anak adalah keluarga.
Keluarga sebagai pondasi utama yang memiliki andil besar dalam pembentukan akhlak yang juga sering disebut sebagai madrasah pertama bagi anak. Di sanalah nilai, sikap, dan cara pandang hidup mulai ditanamkan. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, namun yang utama dari keteladanan. Ketika orang tua mudah berkata kasar, tidak jujur, atau mengabaikan nilai agama dalam keseharian, maka pesan moral yang diterima anak pun menjadi buram. Anak tumbuh dan besar dengan kebingungan terhadap apa yang mereka dengar dengan bagaimana yang mereka lihat.
Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk belajar tentang cinta, hormat, dan nilai. Namun, tak jarang rumah justru menjadi tempat pertama anak menyaksikan pertengkaran, bentakan, ketidaksabaran, dan keteladanan yang hilang. Kita meminta anak berlaku santun, sementara lisan kita sendiri kerap melukai. Kita menuntut kejujuran, tetapi anak melihat kebohongan kecil yang dianggap biasa.
Terlepas dari itu, kesibukan orang tua di era modern juga menjadi tantangan serius. Banyak keluarga yang secara fisik tinggal bersama, namun secara emosional terpisah. Interaksi digantikan oleh gawai, komunikasi digeser oleh layar, dan perhatian dialihkan oleh tuntutan pekerjaan. Akibatnya, anak mencari figur teladan di luar rumah yang sering kali didapatkan dari sumber yang keliru dan tanpa filter nilai.
Dalam kacamata Islam, tanggung jawab orang tua terhadap akhlak anak sangatlah besar. Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, dan orang tualah yang berperan menentukan arah perkembangan kepribadiannya. Hal Ini menegaskan bahwa baik atau buruknya akhlak anak bukan semata-mata kesalahan sekolah atau lingkungan, tetapi cerminan dari nilai yang hidup di dalam keluarga itu sendiri.
Bukan berarti keluarga harus sempurna. Tapi keluarga perlu hadir secara sadar dalam proses tumbuh kembang anak. Membiasakan doa bersama, komunikasi yang hangat, disiplin yang penuh kasih, serta penanaman nilai tauhid dan adab sejak dini adalah fondasi utama pembentukan akhlakul karimah.
Jika kita menginginkan generasi yang berakhlak, berkarakter, dan beriman, maka perbaikan harus dimulai dari rumah. Sebab ketika cahaya nilai dalam keluarga mulai redup, jangan heran jika akhlak anak pun tampak buram. Keluarga bukan sekadar tempat pulang, melainkan tempat pertama dan utama membentuk manusia seutuhnya.
Perubahan tidak selalu membutuhkan ceramah panjang. Kadang cukup dengan hadir, mendengar, memeluk, dan memperbaiki diri. Karena ketika keluarga kembali menjadi cahaya, anak pun akan menemukan jalannya. Dan dari rumah yang sederhana itulah, akhlak mulia kembali lahir. (*Akademisi Pendidikan Agama Islam Politeknik AMA Kota Bima)












