Opini

Bisnis Senjata Amerika di Balik Perang Rusia dan Ukraina

Oleh: Daemoen

Artikel ini sebagai kesinambungan dari artikel sebelumnya, membicarakan tentang latar belakang krisis Ukraina, dugaan tentang apa yang sebenarnya mendorong perang di Ukraina.

Alasan saya membuat artikel baru adalah tiba-tiba saya tersadar ada yang terlewat dari rencana Amerika. Tadinya saya pikir rencana Amerika adalah untuk melemahkan Rusia lewat perang berkepanjangan. Itu tidak salah. Tetapi ada sesuatu yang terlewati, kelihatannya rencana Amerika lebih kompleks.

Yang membuat saya tersadar adalah, kejadian sebelum Rusia masuk Ukraina, Amerika sudah merencanakan untuk mengungsikan Zelensky. Pertanyaan, mengapa belum apa-apa Amerika sudah merencanakan di tingkat tinggi untuk mengungsikan Zelensky? Apakah Amerika takut Zelensky tertangkap dan ngoceh? Atau hal lain sehingga Amerika begitu khawatir dan ingin mengungsikannya?

Kemudian, ada pertanyaan, untuk apa melemahkan Rusia? Apa keuntungan buat Amerika? Jawaban sederhana adalah supaya habis itu lawan China lebih gampang. Itu bukan jawaban yang bagus, karena melawan China dimensinya sama sekali berbeda, itu dimensi ekonomi, di mana Rusia lemah.

Kemudian dihubungkan dengan satu kekuatan dominan yang selalu menjadi gaya dorong kebijakan geopolitik Amerika sesudah World War 2 (WW2), yaitu military-industrial complex.

Setelah Amerika keluar dari Afghanistan, clique military-industrial complex benar-benar perlu pasar baru. Gimana caranya? Amerika keluar dari Afghanistan karena tidak mau menanggung beban biaya pendudukan di sana. Tetapi pada saat yang sama, tidak banyak lagi perang berkepanjangan yang terjadi, sehingga bisnis militer tidak berkembang.

Trump menghadapi masalah yang sama dengan Biden. Pada dasarnya Trump anti perang. Karena dia orang bisnis, dia tidak begitu mengerti perang fisik. Dia suka perang dagang di mana dia bisa berbicara terus setiap hari. Kalau perang fisik, dia tidak mengerti, dan jendral-jendral yang berbicara.

Jadi, industri militer di masa Trump, bahwa kebijakannya menghentikan perang, ingin menarik pasukan Amerika dari Afghanistan, semua itu tidak menguntungkan industri militer. Industri ini adalah tulang punggung kekuatan superpower Amerika. Jadi, tidak boleh dilemahkan.

Solusi Trump adalah mencari bisnis militer dengan cara lain. Yaitu dengan meminta sekutu-sekutu Amerika untuk membeli produknya. Tapi sekutu-sekutu di Eropa sudah terlalu nyaman, anggaran belanja militer sedikit, tidak bisa membelinya dalam jumlah banyak. Jadi, bagaimana?

Waktu itu, Trump dikasih solusi, “Kalau begitu, bikin mereka tidak nyaman”. Pertama-tama dicari faktor yang bisa membuat Eropa tidak nyaman. Jawabannya adalah Rusia. Hanya Rusia yang bisa menakutkan negara-negara Eropa. Masalahnya, Rusia dan Eropa hubungannya baik, saling menguntungkan.

Karena itulah Trump memulai proyek untuk menjauhkan hubungan Rusia dengan Eropa. Masih ingat Trump yang tidak setuju Nord Stream 2 diselesaikan? Dia menekan Jerman untuk membatalkan Nord Stream 2. Eropa perlu energi Rusia. Hubungan inilah yang membuat mereka erat. Tanpa suplai energi, hubungan Eropa dan Rusia akan hancur, tidak ada lagi kepentingan bersama.

Inilah yang dihancurkan Amerika. Usaha Trump itu brilian, tetapi dia tidak bisa menyelesaikannya, karena tahun-tahun terakhir direpotkan soal pandemi Covid-19, lalu kemudian ribut-ribut soal pemilu.

Biden terpilih menjadi Presiden. Ternyata Biden melihat strategi Trump itu hebat. Dia melanjutkan melaksanakan strategi itu. Trump mau keluar dari Afghanistan, tidak berhasil dilakukan. Biden memaksa melakukannya, sampai kacau balau dan Taliban kembali berkuasa. Itu kesalahan Biden karena dia tidak sabar. Dia tahu kemungkinan dia cuma presiden satu periode. Dia harus melakukannya dengan cepat. Hasilnya, kacau.

Di sinilah dia memulai rencana Amerika yang sudah dimulai sejak lama, yaitu ekspansi NATO ke Ukraina. Dari semua republik eks Soviet, Ukraina yang paling sensitif bagi Rusia. Biden memberi sinyal bahwa Ukraina bisa menjadi anggota NATO. Hal itu membuat Putin marah.

Tujuan Amerika adalah membuat Rusia menyerang Ukraina dan sukses menduduki Ukraina, walaupun kemudian menjadi perang berkepanjangan. Tujuannya, membuat Eropa takut. Ketika negara Eropa takut, mereka akan cepat-cepat menaikkan anggaran belanja militer: beli senjata.

Sebelumnya, ada yang bilang bisa juga dilakukan di Asia Timur, dengan mengganggu China. Tapi China susah diganggu, terlalu kalem dan perhitungan. Dan yang bisa membuat China mengamuk hanya urusan Taiwan. Tetapi dari segi kalkulasi untung rugi, ini tidak menguntungkan Amerika.

Karena kalau China menyerang Taiwan, siapa yang akan membeli senjata Amerika? Cuma Jepang yang bisa diandalkan untuk merasa terancam dan meningkatkan anggaran militer membeli senjata Amerika. Negara-negara ASEAN terlalu miskin untuk bisa belanja banyak.

Karena itu, lebih menguntungkan untuk memprovokasi Eropa karena terdiri dari puluhan negara kaya. Jika Eropa bisa meningkatkan anggaran belanja militer, industri militer Amerika bisa mekar untuk beberapa puluh tahun lagi. Ini juga akan mempertahankan posisi Amerika sebagai super power.

Idenya adalah menciptakan Perang Dingin Baru di Eropa, sehingga Eropa terancam oleh Rusia. Pada waktu itu, Amerika muncul lagi sebagai pahlawan Eropa dengan mensuplai kebutuhan militer di sana, memperpanjang hegemoni Amerika atas Eropa yang semakin hari semakin tipis.

Karena itulah, waktu Rusia masuk, lebih baik Zelensky diungsikan keluar. Dengan demikian, Rusia bisa dengan cepat menguasai Ukraina. Amerika akan mengecam keras, dan jadi dirigen untuk menjatuhkan sanksi-sanksi pada Rusia, dan Eropa akan didorong melakukan hala yang sama.

Tetapi Zelensky dasarnya pelawak. Dia jadi kuda hitam. Dia tidak mau mengungsi cepat. Dia mau mencoba bertahan dengan cara melawak, dengan melakukan serangan verbal ke Eropa, hampir menangis dan bilang Ukraina ditinggalkan oleh Eropa. Ini dikatakannya secara eksplisit di Parlemen Eropa.

Sebelumnya, Zelensky sudah mau berunding dengan Putin, dan Amerika melihat rencana ini bisa bubar. Amerika pun cepat-cepat menjatuhkan sanksi berat ke Putin. Zelensky seharusnya juga dihubungi untuk menunda perundingan, dan itu dilakukan.

Waktu jeda ini kemudian dipakai untuk memprovokasi Eropa. Langkah ini sukses besar. Eropa panik dan histeris. Gila benar menjatuhkan segala macam sanksi. Bahkan sebelum Amerika menutup ruang udaranya untuk Rusia, Eropa sudah menutup semuanya.

Dalam waktu singkat, Jerman meningkatkan anggaran militer secara signifikan. Ini benar-benar mengejutkan. Betapa cepatnya bola bergulir. Proyek Nord Stream 2 batal. Dan Jerman bilang, hubungan dengan Amerika akan mengalami era new renaissance.

Saya yakin ketika semua ini terjadi, para elite di Washington membuka botol champagne. Merayakan kemenangan. Lalu waktu State of Union, Biden membuat victory lap, seperti sudah menang perang. Tadinya saya bingung, urusan Ukraina belum beres, kok sudah senang banget?

Barusan saya sadar, ternyata target yang dituju bukan mempertahankan Ukraina, tetapi menghancurkan hubungan Rusia dan Eropa pada titik nadir. Belum pernah dalam sejarah hubungan Eropa dan Rusia serendah ini. Belum pernah. Ini seluruh Eropa.

Dengan ini saya harus mengakui kesuksesan strategi Amerika yang memang hebat. Salut! Dalam waktu singkat, Eropa dan Rusia bisa kacau balau seperti ini. Siapa yang bisa membuat situasi seperti ini tanpa banyak keluar modal? Modal Amerika hanya beberapa ratus rudal Stinger.

Jika Eropa dan Rusia tidak bisa memperbaiki hubungan dengan cepat (sulit sekali kalau sudah ada dalam tingkat seperti ini), maka terjadilah Perang Dingin berkepanjangan di Eropa, dan berpuluh-puluh tahun Amerika bisa menjadi big-boss di Eropa lagi.

Saya lihat China tiba-tiba diam. Kemungkinan mereka sadar cepat, dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantu Rusia. Mereka mencoba sedikit di PBB, lalu lewat media-medianya, tetapi efeknya minimal. Dalam situasi seperti ini, paling bagus bagi China adalah menyimak. Sambil siaga.

Tetapi rencana Amerika ini bisa buyar, jika pimpinan Eropa bisa sadar bareng dan membereskan masalah. Itu susah sekali. Rasa saling tidak percaya sudah tercipta. Masing-masing sudah siaga perang nuklir. Belum pernah dalam sejarah Eropa dan Rusia dalam posisi seperti ini.

Walau semua pimpinan Eropa sadar, mereka juga susah baikan dengan Rusia, karena publik sudah anti Rusia terlalu dalam. Ini publik yang melakukan protes demo ala SJW. Mereka bukan kelompok yang bisa berpikir bagus multi-dimensi. Tahunya cuma berpikir satu arah.

Selama dua minggu ini, ratusan juta orang Eropa sudah mengalami proses pengentalan citra tentang Rusia. Tidak gampang mengembalikan citra Rusia ke tingkat sebelumnya. Bahkan conductor orkes yang populer bisa dipecat dengan gampang gara-gara ini.

Kemudian soal “prinsip”. Orang-orang Eropa berpikir mereka berprinsip. Makanya bilang Rusia salah karena menyerang negara berdaulat. Walau misalnya mereka tahu mereka sudah “tertipu” Amerika, mereka tidak bisa keluar dari jebakan “prinsip” yang mereka bikin sendiri.

Mereka tidak bisa melihat masalah secara praktis, dan membuat solusi yang bisa diterima bersama, termasuk jika di dalamnya adalah pemecahan negara Ukraina. Ukraina sudah pasti dikorbankan. Tidak ada keraguan soal itu. Jadi, saling tidak percaya antara Rusia dan Eropa sukar sembuh.

Yang jelas, jika tidak ada “mukjizat”, pemenang pergolakan ini adalah Amerika. Itu sudah sangat jelas, dan mereka sudah merayakannya di Congress waktu State of Union.

Yang bisa dilakukan Eropa mengurangi kerugian yang terjadi. Damage control. Itu saja. Apakah Putin sadar tentang strategi Amerika ini? Saya duga sadar. Waktu Eropa mengenakan sanksi pada Putin, saya lihat Lavrov sedih dan bilang ini adalah “point of no return“. Walaupun sadar, belum tentu Putin bisa menghindar, kalau jebakan sudah dipasang.

Seperti main catur, terkadang pemain ulung bisa mengatur langkah pihak lain. Kita tahu kita diatur langkahnya, tetapi itulah yang harus dijalankan, karena kalau tidak, kerugian akan jauh lebih besar. Akhirnya, kita jalan dengan tujuan meminimalkan kerugian, bukan mencari untung atau kemenangan.

China? Cara terbaik dalam situasi ini adalah filsafat Tao, “Rasakan ke mana arus berjalan, dan ikuti arus sampai kemudian bisa mengalihkan arah arus”. Jika melawan arus terlalu frontal, habis tenaga dan malah jatuh. Ini sudah perlu kebijakan level tinggi.

Kalau buat Indonesia, saya sarankan, dalam menjalankan strategi geopolitik negara, jangan terlalu pakai emosi, jangan kaku prinsip ini itu, banyak mendengar pihak-pihak lain, dan selalu bersikap pragmatis. Yang penting tujuan jauh di depan: kesejahteraan rakyat.

Saya tambahkan, ini saya tadi pikirkan juga, waktu heran kenapa Zelensky mau diangkut pergi mengungsi cepat? Fakta lain, kenapa Biden dulu bilang, kalau Rusia invasi “minor” tidak akan dikasih sanksi? Seperti mengundang Rusia meninvasi Ukraina.

Ada kemungkinan, ingat cuma kemungkinan. Bahwa Putin dan Biden sudah deal di belakang. Rusia dipersilakan masuk ke Ukraina. Makanya, sepertinya “diundang” dan Zelensky mau diungsikan, supaya pendudukan Rusia gampang dilakukan.

Deal itu kalau terjadi sesuai rencana, biaya invasi Rusia minimum sekali, sambil mempertahankan banyak sekali kekuatan militer Rusia. Dengan berhasil menginvasi Ukraina dengan usaha minimum, pasti akan mengagetkan Eropa. Jika Ukraina saja bisa diinvasi dengan mudah, enggak ada negara yang lolos. Dengan demikian, Putin dapat Ukraina dengan gampang, dan Biden bisa dapat kepanikan Eropa. Sama-sama untung.

Tetapi saya menduga yang terjadi tidak sesuai dengan rencana, karena Zelensky mau mencoba dulu sebelum mengungsi, dan ternyata bakat showbiz-nya benar-benar bagus. Eropa dibikin panik.

Bagi Amerika, hasilnya sama-sama bagus. Zelensky berhasil menggugah perasaan “bersalah” Eropa sehingga menyebabkan histeria Eropa.

Bagi Putin, berarti lebih sukar menjalankan operasinya di Ukraina. Perlu waktu lebih panjang. Tetapi sejarah selalu begitu, sering ada kuda hitam, atau faktor X yang tak terduga muncul. Seberapa jauh faktor itu mempengaruhi sejarah, kita simak saja. Bisa jadi faktornya ternyata tidak signfikan. Peran Zelensky ternyata tetap jadi pelawak, dan dilupakan.

Asal tahu, kepekaan Rusia soal Ukraina bukan hal baru, ini sudah dibahas di tingkat atas di Amerika sejak 2008. Perancang strategi saat ini tinggal memakainya saja, provokasi di Ukraina, lalu Putin masuk.

Apakah Putin pintar membaca dan menyusun strategi? Iya. Ingat, seorang yang jenius pun tidak akan bisa membalikkan situasi yang sudah berkembang rusak. Jika tidak menang, dia bisa meminimalkan kerugian.

Yang terkecoh parah itu Mikail Gorbachev yang percaya Rusia akan lebih baik jika Uni Soviet dibubarkan, dan merangkul sistem demokrasi Barat. Ternyata dengan cepat Rusia jatuh dan bisa dibilang Putin-lah yang mengembalikan martabatnya selama ini.

Putin tahu cara perang, cuma sayang, dia tidak tahu cara membuat organisasi yang efektif di seluruh negeri seperti China, dan tidak begitu sukses dalam perencanaan ekonomi. Tetapi kalau soal geopolitik dan mempertahankan keutuhan negaranya, dia bagus. (*Artikel ini kami rangkum dari twet-twet @Mentimoe dengan beberapa perubahan kata, namun tak mengubah substansinya)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top