Opini

Kelanjutan Krisis Ukraina: Pertarungan Putin Vs Biden

Oleh: Daemoen*

Rusia sudah mengakui kedaulatan republik-republik Donbas, dan membuat perjanjian kerja sama dengan mereka. Pertama-pertama berjanji mengirim pasukan penjaga perdamaian.

Apa kira-kira yang ada di benak Putin langkah selanjutnya? Pada dasarnya krisis Ukraina ini lebih fokus pada perang nyali dan kebulatan tekad, daripada perang fisik.

Strategi Putin pertama adalah memberi landasan hukum bagi masuknya tentara Rusia ke Donbas, sehingga tidak bisa disebut “invasi”. Semua dilakukan dalam waktu singkat.

Dunia Barat bangun dengan realitas bahwa: sudah dilakukan konsultasi internal antar institusi negara di Rusia; Donetsk dan Luhansk sudah diakui sebagai republik merdeka; sudah ada perjanjian republik-republik Donhas yang menjadi dasar hukum masuknya tentara Rusia ke Donhas.

Putin dengan demikian menyerahkan bola ke Barat, apa yang akan dilakukan Barat dengan realitas baru tersebut? Negara-negara Barat perlu lebih dari 1 hari untuk memikirkan langkah-langkah. Ternyata tidak ada langkah-langkah berarti, cuma beberapa sanksi ringan, dan ditundanya proyek Nord Stream II.

Itulah perang nyali yang dilancarkan Putin. Dari tanggapan Barat, terlihat jelas pihak Barat tidak serius ingin mempertahankan Ukraina.

Kenapa Biden tidak memberikan sanksi-sanksi lebih jauh? Seperti menghentikan layanan SWIFT bagi bank-bank Rusia, atau membekukan aset Rusia?

Jawabnya, karena Biden tidak ingin perang dengan Rusia. Biden ingin Rusia perang dengan Ukraina, bersedia mengirim bantuan senjata dan amunisi ke Ukraina, tetapi tidak bersedia terlibat langsung. Demikian juga dengan negara-negara NATO lain.

Dengan menangguhkan sanksi-sanksi berat, Biden ingin punya peluru untuk digunakan nanti. Jika sanksi-sanksi berat sudah semua dijatuhkan, pada waktu Rusia melangkah lebih jauh masuk Ukraina, maka pemerintah Biden terlihat seperti tidak berdaya, sudah tidak punya peluru untuk jaga muka.

Pada dasarnya ini kemenangan untuk Putin. Yang mengkritik langkah Putin hanya sebagian negara-negara Barat dan sekutu mereka. Dan umumnya cuma ikut setor mulut saja, sekadar basa basi.

Langkah Putin selanjutnya adalah pelan-pelan dan diam-diam memobilisasi pasukan Rusia ke Donbas. Dengan mobilisasi pasukan tanpa insignia, tidak menjadi berita utama dunia. Negara-negara Barat juga tidak ingin tahu, karena mereka tidak ingin tertekan harus melakukan respons. Daripada merespons, lebih baik mereka pura-pura tidak lihat dulu. Toh, Rusia sudah mencanangkan ingin mengirim pasukan.

Tak mendapatkan dukungan dari Barat, Presiden Ukraina Zelensky memanggil warga umur 18-60 tahun untuk berperang. Dia sendiri merencanakan mengungsi dengan bantuan Amerika, dan itu diketahui umum.

Pada dasarnya, Barat sudah mempersembahkan pion Ukraina untuk Rusia. Semua tindakan basa basi, seperti mengirim pasukan baru, diarahkan ke negara-negara lain, bukan Ukraina. Itu semua cuma panggung PR buat negara-negara seperti Amerika, Canada, dsb.

Apa tujuan Amerika selanjutnya di Ukraina? Saya duga adalah bukan mempertahankan Ukraina dari Rusia, tetapi menciptakan kondisi tidak aman dengan mendukung milisi ultra-kanan Ukraina sehingga Rusia terlibat dalam kondisi sukar.

Ukraina saat ini berubah menjadi tempat di mana kelompok ultra-kanan Neo-Nazi berkembang. Salah satunya di wilayah timur adalah milisi Azov, dengan simbol-simbol berafiliasi Nazi.

Kelompok-kelompok sayap ultra-kanan rasis gaya Nazi memang dari sejak Hitler melihat Rusia sebagai musuh. Dengan mendukung kelompok ini, mengingatkan kita waktu Amerika mendukung Mujahidin yang kemudian sebagian berkembang jadi Taliban di Afghanistan, demi melawan Uni Soviet waktu itu.

Jatuhnya Soviet juga disebabkan karena tidak bisa lepas dari Afghanistan, di mana Amerika melatih dan mempersenjatai muslim radikal melawannya.

Jika Rusia terjebak melawan Neo-Nazi yang didukung Amerika di Ukraina, diharapkan Rusia jatuh seperti Soviet. Itulah rencana “akbar” Biden.

Putin pasti sadar dengan jebakan ini. Kita simak saja apa langkah-langkah selanjutnya. Bagaimana caranya agar tidak terjebak dalam situasi tidak menentu berkepanjangan di Ukraina?

Amerika terlihat bernafsu untuk mengobarkan perang di Ukraina. Sebaliknya Eropa sangat khawatir dan berhati-hati. Karena Ukraina ada di Eropa. Dan milisi ultra-kanan neo-Nazi juga merupakan ancaman di hampir semua negara Eropa. Krisis fisik yang berkepanjangan akan merusak sendi-sendi Eropa.

Adalah kesalahan Eropa mendukung Amerika dalam krisis Ukraina ini. Seharusnya negara-negara Eropa lebih tegas, menolak untuk melibatkan Ukraina dalam NATO, dan menjalin kerja sama dengan Rusia. Jika itu terjadi, milisi-milisi ultra kanan Neo-Nazi tidak mendapat kesempatan berkembang.

Saya menduga strategi Amerika adalah mengobarkan perang berkepanjangan di Ukraina, di mana Amerika terlibat lewat proksi (tentara Ukraina dan milisi-milisi Neo-Nazi Ukraina). Rusia akan dilemahkan dengan perang proksi. Dalam perang proksi, Amerika punya kesempatan menang lebih besar.

Ukraina mengumumkan kondisi darurat seluruh negeri selama 30 hari. Pasar saham Amerika jatuh berat. Ada saham-saham yang jatuh sekitar 25% sejak minggu lalu, terutama saham-saham kategori growth. Krisis ini juga memukul ekonomi Amerika.

Kemenlu China mengecam Amerika yang terus menghasut dengan menambahkan bensin dalam panasnya krisis Ukraina. Justru tujuan Amerika adalah krisis Ukraina harus dipompa besar, dengan mengorbankan pion Ukraina dengan tujuan membakar Rusia.

Pimpinan Donetsk Denis Pushilin, dan pimpinan Lugansk Leonid Pasechnik, meminta Rusia untuk membantu mereka mengatasi serangan pihak Ukraina, sesuai dengan pakta yang mereka tangani bersama beberapa hari silam.

Putin memerintahkan operasi militer khusus di Donbas, tetapi tidak termasuk pendudukan terhadap Ukraina. Tujuannya dikatakan untuk melindungi warga Donbas dan Rusia menghadapi kaum nasionalis Ukraina.

Bisa jadi Rusia akan menduduki Ukraina setelah Putin melihat bahwa memang NATO dan Amerika tidak berminat membela Ukraina. Kalau itu terjadi, pelajaran besar untuk republik-republik kecil pecahan Soviet yang selama ini berani ikut membela NATO untuk mengecam Rusia.

Jika dengan shock therapy ini Putin bisa melumpuhkan Ukraina, dan perang tidak berkepanjangan, itu kemenangan besar Putin menghadapi Biden. Jika kemudian perang berkepanjangan, itu masalah besar bagi Putin, dan Biden akan dapat kredit.

Sekarang dunia menanti, sanksi apakah yang akan dijatuhkan Biden pada Rusia? Harusnya semua peluru sanksi yang masih tertinggal harus ditembakkan. Sesudah ditembakkan semua, maka Biden tidak punya peluru cadangan lagi, kecuali ikut terlibat langsung dalam perang.

Perang di darat akan lebih messy, tidak bisa mengandalkan rudal atau serangan udara saja. Ingat 20 tahun Amerika melakukan serangan rudal dan udara ke pihak-pihak Taliban, gagal melumpuhkan Taliban, akhirnya Amerika kalah.

Dalam perang darat seperti itu, pihak dengan senjata paling kuat dan modern belum tentu menang. Perang Afghanistan membuktikan hal itu.

Karena itulah, jika perang berkepanjangan, dan terjadi di darat, Rusia bisa terjebak dalam masalah. Itulah yang diinginkan oleh Amerika.

Tetapi jika gertakan Rusia sukses, milisi-milisi yang tadinya garang-garang ciut nyalinya, maka Rusia akan mendapatkan kemenangan cepat dan situasi bisa dikendalikan. Ini masalah perang mental, sekarang waktunya menguji nyali pihak milisi Ukraina yang bertahun-tahun garang-garang tersebut.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pihaknya tidak menyerang kota-kota di Ukraina. Serangan diarahkan ke infrastruktur militer seperti fasilitas pertahanan udara, airport milter, dsb.

Presiden Ukraina memberlakukan kondisi darurat militer untuk seluruh Ukraina. Menurutnya, perang ini bisa menyeret ke perang besar se-Eropa. Dia berusaha memperluas lingkup pertikaian, menyeret negara-negara lain untuk ikut di dalamnya.

Tempat yg dianggap paling aman di Ukraina sekarang adalah Lviv, kota dekat perbatasan Polandia, jauh dari perbatasan dengan Rusia.

Menurut saya, kecuali Rusia benar-benar kacau terjebak dalam perang berkepanjangan, ini adalah kesalahan besar Biden sesudah kesalahan menarik mundur pasukan dari Afghanistan tergesa-gesa. Biden terlalu meremehkan lawan. Dia meremehkan Taliban, sekarang meremehkan Putin.

Sepertinya timing serangan Rusia dicocokkan dengan waktu malam di pantai timur Amerika. Mereka melakukannya dengan cepat, dan usai waktu pagi hari di pantai timur. Waktu itu sesi DK-PBB juga dimulai, mulailah proses diplomasi.

Pasti pertama-tama yang akan dituntut DK-PBB adalah gencatan senjata. Dan kalaupun Rusia melakukannya, mereka akan usahakan sudah mendapat ground semaksimal mungkin di lapangan. Walaupun Rusia punya hak veto, lebih baik baginya menggunakan diplomasi sebisanya.

Hasil ini akan mempengaruhi sikap Ukraina, dan tergantung juga pada sikap Eropa dan Amerika yang sedang merancang kira-kira sanksi apa yang bisa dijatuhkan pada Rusia.

Dari pandangan singkat yang ada, kayaknya resistansi kuat yang dijanjikan oleh milisi-milisi ultra-kanan Ukraina tidak terjadi. Tetapi siapa tahu sesudah terbangun dari rasa kaget, mereka membuat perang besar-besaran.

Sanksi terhadap Rusia belum turun-turun juga, ini berarti ada masalah di blok negara-negara Barat soal ini. Negara-negara yang tidak punya hubungan ekonomi banyak dengan Rusia akan memaksakan pemutusan Rusia dari jaringan SWIFT. Negara-negara Eropa yang harus mendapat gas alam dari Rusia jelas menolaknya.

Pipa Nord Stream 1 tidak akan diganggu gugat, karena energi negara-negara seperti Jerman tergantung darinya. Pipa Nord Stream 2 yang belum operasional, juga kemungkinan akan beroperasi lagi karena kebutuhan energi Eropa. (*Artikel ini kami olah dari twit-twit Daemoen di akun Twitter @Mentimoen. Ia merupakan seorang pengamat global yang rutin menulis di Twitter)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top