BERITAALTERNATIF.COM – PT Mahakam Gerbang Raja Migas (MGRM) Perseroda semakin dekat dalam merampungkan proses pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) berkapasitas 30 kiloliter (KL) di Desa Handil Terusan, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar).
Fasilitas tersebut dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan BBM bagi masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai nelayan.
Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa PT MGRM, Denny Dharmawan, mengatakan SPBUN tersebut nantinya memiliki dua tangki penyimpanan BBM dengan kapasitas masing-masing 15 KL.
Satu tangki diperuntukkan bagi Pertalite, sedangkan satu lainnya untuk Solar bersubsidi.
“Kita mempunyai dua tangki. Itu satu Pertalite, satu Solar yang subsidi. Dengan kapasitas 15 KL satu tangki. Berarti dua tangki 30 KL,” jelas Denny.
Menurutnya, penyaluran BBM di SPBUN tersebut akan menggunakan mekanisme khusus bagi nelayan.
Setiap nelayan yang hendak membeli BBM harus memiliki identitas atau barcode yang nantinya digunakan saat melakukan pengisian.
“Mekanismenya itu hanya dijual khusus untuk nelayan, bukan untuk umum. Karena ketika nelayan itu membeli, mereka harus ada semacam barcode. Itu yang akan dia bawa ke SPBUN untuk bisa mendapatkan minyak tersebut,” ujarnya.
Dia mengatakan terdapat dua tahapan yang harus diselesaikan, yakni eksekusi pembangunan SPBUN dan penetapan kuota BBM bersubsidi yang akan dikenakan.
Setelah pembangunan selesai dan kuota BBM bersubsidi ditetapkan, lanjut dia, pengelolaan SPBUN tersebut akan berada langsung di bawah Kontrol dan naungan pihak MGRM.
Pengajuan kebutuhan Pertalite dan Solar bersubsidi telah disampaikan ke pihak Pertamina guna mengetahui jumlah kuota BBM yang akan ditetapkan.
“Kalau untuk kuota BBM, Pertalite maupun Solar subsidi, itu sudah kita mengajukan ke Pertamina. Dan belum ada penetapan berapa kuota yang kita dapat,” ungkapnya.
Denny mengakui pembangunan SPBUN tersebut tidak memiliki prospek keuntungan besar jika hanya dilihat dari sisi bisnis.
Ia menyebut pengembalian modal diperkirakan membutuhkan waktu cukup panjang.
“Kalau untuk segi bisnis sebenarnya sih kecil. Karena pengembalian modalnya itu sangat lama, 25 tahun sampai 30 tahun,” ujarnya.
Pembangunan fasilitas tersebut lebih diarahkan sebagai bagian dari penugasan Pemkab untuk membantu masyarakat nelayan mendapatkan BBM dengan akses yang lebih mudah, harga terjangkau, dan distribusi yang lebih cepat.
“Ini bagian daripada penugasan pemerintah daerah untuk bisa membantu masyarakat nelayan yang ada di Handil Terusan untuk bisa mendapatkan atau mendistribusikan BBM tersebut dengan murah dan cepat,” jelas Denny.
Untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai ketentuan, proses pengerjaan SPBUN akan mendapatkan pengawasan langsung dari Pertamina.
Denny mengatakan pengawasan diperlukan karena pembangunan fasilitas BBM memiliki tingkat risiko yang tinggi.
Selama proses pembangunan SPBU berjalan, Pihaknya berkomitmen akan terus memastikan setiap pengerjaan harus mengikuti spesifikasi teknis dan standar keselamatan yang telah ditetapkan.
“Karena dalam pembangunan itu nggak boleh sembarangan. Dan tingkat risiko terjadi insidennya itu sangat besar,” tegasnya.
Ke depan, MGRM berharap pembangunan SPBUN di Handil Terusan dapat berjalan dengan baik dan membuka peluang pengembangan fasilitas serupa di wilayah lain, termasuk kawasan hilir maupun hulu.
“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan pemerintah dalam penugasan SPBUN untuk dapat membantu masyarakat di Handil Terusan. Dan mudah-mudahan nanti kami juga akan bisa bangun lagi di hilir maupun di hulu,” pungkasnya. (*)
Penulis & Editor: Ulwan Firyal Murtadha











