Search

Mengapa Pemimpin Israel Tak Dibunuh Poros Perlawanan?

Pengamat Timur Tengah, Ismail Amin Pasannai. (Dok. Berita Alternatif)

BERITAALTERNATIF.COM – Suasana di ibu kota Qatar, Doha, mendadak mencekam setelah serangan udara Israel menghantam kantor Hamas pada Selasa (9/9/2025) malam.

Lebih dari sepuluh roket diluncurkan dari jet tempur Israel ke fasilitas tersebut. Meskipun jajaran pimpinan Hamas dilaporkan selamat, sejumlah anggota Hamas tewas dalam serangan tersebut.

Peristiwa ini kembali menimbulkan pertanyaan publik: mengapa serangan Israel hampir selalu menargetkan pimpinan dan pejabat teras pihak lawan, sementara sebaliknya, tokoh penting Israel jarang sekali menjadi korban serangan Iran, Hamas, Hizbullah, atau kelompok perlawanan lainnya?

Pengamat Timur Tengah, Ismail Amin Pasannai, menjelaskan bahwa strategi Israel memang berbeda dengan pihak-pihak yang melawannya. Menurutnya, Israel selalu mengedepankan serangan spesifik yang diarahkan langsung kepada tokoh kunci.

“Bagi Israel, strategi kepala dipenggal, tubuh bubar, itu dianggap ampuh. Karena itu serangannya kerap diarahkan langsung ke tokoh penting lawan,” ungkap Ismail dalam video yang disiarkannya di akun Facebook pribadinya.

Dia mencontohkan bagaimana Israel baru-baru ini bahkan menargetkan Perdana Menteri Yaman, menunjukkan keyakinan mereka terhadap kemampuan intelijen dan militernya.

Sementara itu, lanjut Ismail, kelompok perlawanan seperti Iran, Hamas, Hizbullah, Ansarullah maupun Jihad Islam lebih sering melancarkan serangan ke instalasi militer, bandara, atau situs strategis. Tujuannya bukan menargetkan tokoh spesifik, tetapi lebih kepada pengiriman pesan politik.

Serangan-serangan itu adalah bentuk eksistensi. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka ada, bisa melawan, dan mampu membuat Israel terganggu. “Jadi, targetnya lebih ke simbolik dan strategis, bukan individu tertentu,” jelasnya.

Selain itu, Ismail menekankan betapa sulitnya menargetkan pejabat tinggi Israel. Para pejabat dan komandan militer rezim tersebut hidup dengan perlindungan berlapis.

Mereka dilindungi dengan bunker bawah tanah, mobil lapis baja, pengawal dua puluh empat jam, dan jarang berada di lapangan. “Mereka mengendalikan operasi dari ruang komando rahasia yang sangat sulit ditembus,” paparnya.

Israel, menurut dia, memiliki keunggulan besar di bidang intelijen. Dengan Mossad, unit delapan dua ratus, satelit, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan, Israel mampu mengidentifikasi dan mengeksekusi target dengan presisi tinggi.

“Mereka punya jaringan mata-mata luas, didukung kemampuan finansial untuk membayar agen maupun kolaborator lokal, plus sokongan politik Amerika Serikat. Itu membuat Israel percaya diri bisa menarget tokoh mana pun,” tambahnya.

Meski demikian, strategi Israel menargetkan pemimpin lawan tidak selalu efektif. Regenerasi kepemimpinan di pihak perlawanan berjalan cepat, sehingga kehilangan satu atau dua tokoh penting tidak otomatis membuat mereka lumpuh.

“Iran, Hamas, dan Hizbullah menunjukkan bahwa meski banyak jenderal atau komandan mereka terbunuh, struktur militer mereka tetap bertahan dan bangkit dengan cepat,” kata Ismail.

Dia juga menilai, jika kelompok perlawanan berani menargetkan pejabat tinggi Israel, hal itu bisa memicu eskalasi besar dan mengundang keterlibatan kekuatan dunia yang selama ini mendukung Israel. Karena itu, kelompok-kelompok tersebut cenderung menahan diri dan memilih serangan terbatas.

Serangan-serangan yang mereka lakukan, meski terlihat tidak menimbulkan kerugian langsung bagi Israel, sebenarnya sangat mengganggu. “Jika tidak, Israel tidak akan sampai melanggar aturan internasional secara terang-terangan, yang justru semakin membuat mereka dibenci dunia,” pungkas Ismail. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA