Oleh: Ustadz Sayyid Ali Hadi Assegaff*
Segala puji bagi Allah Swt yang telah memanjangkan umur kita, mengizinkan jantung kita kembali berdetak, dan menggerakkan langkah kaki kita untuk kembali bersimpuh di majelis duka ini. Kita kembali menjumpai bulan Muharram, sebuah bulan yang bukan sekadar lembaran kalender, melainkan sebuah madrasah agung dan mukjizat waktu.
Muharram adalah momentum perubahan spiritual yang luar biasa. Di bulan ini, jarak antara dasar neraka yang paling kelam menuju puncak surga yang paling tinggi bisa dipangkas hanya dalam hitungan jam. Lihatlah bagaimana Al-Hurr bin Yazid Ar-Riyahi, seorang panglima yang awalnya datang untuk menghadang kafilah suci, mampu merombak total takdir abadinya hanya dalam waktu setengah hari pada hari Asyura.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena Imam Husain as memiliki sejenis daya tarik spiritual dan kemampuan khusus untuk mengangkat derajat manusia secara drastis, seburuk apa pun masa lalu manusia tersebut.
Untuk memahami hakikat dari seruan para Wali Allah, mari kita kembali ke ribuan tahun yang lalu, ke masa ketika kakek dari garis leluhur suci ini, Nabi Ibrahim Khalilullah as, setelah selesai membangun bait suci Ka’bah.
Setelah batu terakhir diletakkan, Allah Swt. berfirman kepada Nabi Ibrahim as: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)
Mendengar perintah ini, Nabi Ibrahim as menoleh ke sekelilingnya. Saat itu, Mekkah hanyalah sebuah lembah tandus yang sunyi, dikelilingi gunung-gunung batu tanpa ada tanda-tanda kehidupan manusia. Maka Ibrahim as mengadu dengan penuh
ketundukan: “Wahai Tuhanku, ke manakah suaraku harus kuarahkan? Lembah ini kosong, dan suaraku yang lemah ini tidak akan mampu menembus batas-batas dunia.”
Allah Swt kemudian menjawab dengan firman-Nya yang menenangkan: “Wahai Ibrahim, tugasmu hanyalah mengumandangkan seruan (azan), dan Akulah yang memegang urusan untuk menyampaikannya ke seluruh penjuru dunia.”
Nabi Ibrahim as kemudian naik ke atas Jabal Qubais, meletakkan jemarinya di telinga, lalu menyeru dengan suara lantang: “Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian telah membangun sebuah rumah-Nya, maka datanglah dan penuhilah panggilan-Nya!”
Riwayat dari Imam Ja’far ash-Shadiq as menyebutkan bahwa mukjizat terjadi pada saat itu. Allah Swt melipatgandakan suara Nabi Ibrahim as hingga menembus batas ruang dan waktu. Suara itu tidak hanya terdengar oleh manusia yang hidup saat itu, melainkan menembus masuk ke alam ruh (alam al-dzar). Suara itu bergema di telinga setiap ruh manusia yang masih berada di dalam sulbi ayah mereka dan rahim ibu mereka, bahkan hingga manusia yang belum terlahir sampai hari kiamat.
Pada saat itu, seluruh ruh yang kelak akan menjadi orang-orang mukmin menjawab dari alam gaib dengan ucapan: “Labbaikallahumma Labbaik…” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah). Riwayat menambahkan bahwa siapa pun yang menjawab panggilan itu satu kali di alam ruh, dia akan mendapatkan kesempatan berhaji satu kali di dunia. Siapa yang menjawab dua kali, akan berhaji dua kali, dan seterusnya. Kehadiran para jamaah haji hari ini di tanah suci adalah bukti bahwa ingatan ruhani itu tidak pernah hilang.
Sekarang, mari kita bawa hati kita dari bukit Mekkah menuju padang gersang Karbala pada siang hari Asyura, tahun 61 Hijriah. Ketika seluruh sahabat telah gugur, ketika panji Abbas telah tumbang, dan ketika Ali Al-Akbar telah bersimbah darah, Imam Husain as berdiri seorang diri di tengah kepungan puluhan ribu pasukan musuh. Beliau memandang ke sekeliling, menatap tubuh-tubuh suci yang terhampar di atas pasir panas. Dalam kondisi tubuh yang penuh luka sabetan pedang dan tancapan anak panah, dengan tenggorokan yang kering terbakar kehausan, Imam Husain as mengumandangkan sebuah seruan yang abadi: “Apakah ada penolong yang akan menolongku? Apakah ada pembela yang akan membela kehormatan wanita-wanita suci ini?”
Secara lahiriah, orang-orang hina akan menilai bahwa Imam Husain as sedang mengemis bantuan karena beliau sedang terdesak dan kekurangan pasukan. Namun, demi Allah, itu adalah kesalahpahaman yang besar. Panggilan Imam Husain as bukanlah jeritan keputusasaan, melainkan apa yang disebut oleh para arif sebagai “Bahasa Kasih Sayang Ilahi”.
Perhatikan bagaimana Allah Swt di dalam Al-Qur’an sering kali berfirman: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik?” atau “Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” Apakah Allah Swt yang Maha Kaya, Maha Kuasa, yang memiliki seluruh bala tentara langit dan bumi itu membutuhkan pinjaman harta atau bantuan dari makhluk-Nya yang lemah? Tentu tidak! Allah menggunakan bahasa itu untuk merayu hamba-Nya, memberikan mereka jalan dan alasan agar mau
mendekat, sehingga Allah bisa mengganjar mereka dengan pahala yang berlipat ganda.
Hal yang persis sama dilakukan oleh Imam Husain as di Karbala. Beliau berseru “Apakah ada penolong…” bukan karena beliau membutuhkan kita untuk
menyelamatkan nyawanya. Beliau tahu bahwa beberapa jam lagi beliau akan syahid. Beliau mengumandangkan seruan itu agar suaranya menembus melintasi zaman, melintasi abad, hingga sampai ke telinga kita yang hidup di malam ini. Panggilan itu adalah cara Imam Husain as untuk merayu kita, mengetuk pintu hati kita yang membatu karena dosa, dan menawarkan tangan-Nya yang suci. Beliau berseru agar kita memiliki alasan untuk menjawab, “Labbaik ya Husain!” sehingga beliau dapat menggandeng tangan kita dan menyelamatkan kita dari api neraka.
Untuk menegaskan kembali bahwa para Hujjah Allah di muka bumi sama sekali tidak pernah berada dalam posisi lemah atau membutuhkan bantuan makhluk secara materi, mari kita merenungkan sebuah kisah agung yang dialami oleh cucu beliau, Imam Ali Al-Hadi as di kota Samarra.
Pada masa itu, Khilafah Abbasiyah dipimpin oleh seorang penguasa yang sangat kejam, penuh kedengkian, dan memiliki kebencian mendalam kepada Ahlulbait, ia bernama Mutawakkil Al abbasi. Mutawakkil selalu merasa terancam oleh keberadaan Imam Hadi as, karena meskipun Imam hidup dalam pengawasan ketat, hati masyarakat selalu condong kepada beliau.
Suatu hari, Mutawakkil ingin memamerkan kekuatan militernya yang raksasa untuk menggertak dan menciutkan nyali Imam Hadi as, agar Imam tidak pernah berpikir untuk melakukan gerakan perlawanan. Mutawakkil mengumpulkan seluruh devisi pasukannya yang berjumlah lebih dari 90.000 tentara berkuda.
Dia mengeluarkan perintah yang aneh namun ambisius, ia berkata: “Perintahkan setiap prajurit untuk mengisi kantong pelana kuda mereka dengan tanah merah dari luar kota, lalu bawa tanah itu ke tengah gurun ini dan tumpahkan di satu titik yang sama!”
Bisa kita bayangkan, ketika 90.000 prajurit menumpahkan kantong-kantong tanah secara bergantian, gundukan itu perlahan-lahan meninggi hingga membentuk sebuah bukit buatan yang sangat besar dan menjulang tinggi. Bukit itu kemudian dinamakan Makhadi.
Mutawakkil kemudian mengundang Imam Hadi as untuk berjalan-jalan. Dia membawa Imam naik ke puncak bukit buatan tersebut. Dari atas ketinggian, Mutawakkil menunjuk ke arah dataran luas di bawah mereka, di mana puluhan ribu pasukan berpakaian besi lengkap dengan pedang dan tombak yang berkilauan sedang berbaris rapi membentuk formasi perang yang mengerikan.
Dengan senyum sombong dan nada suara yang meremehkan, Mutawakkil berkata, “Wahai Abal Hasan, aku sengaja mengundangmu kemari agar kamu menyaksikan sendiri pasukan raksasa yang aku miliki. Aku memiliki bala tentara yang siap menghancurkan apa saja dalam sekejap.”
Imam Hadi as mendengarkan kesombongan itu dengan wajah yang tenang, penuh wibawa ilahi. Tidak ada sedikit pun rasa takut atau gentar di wajah suci beliau. Beliau memandang Mutawakkil dengan pandangan penuh belas kasihan, lalu berkata dengan lembut: “Apakah kamu ingin melihat pasukan kami juga, wahai Mutawakkil?”
Mutawakkil tertawa meremehkan, “Tentu, perlihatkanlah kepadaku!”
Pada momen itulah, Imam Hadi as menggunakan ilmu wilayah takwiniyyah-nya. Beliau membuka tirai penutup mata batin Mutawakkil untuk melihat alam malakut. Beliau mengisyaratkan dua jarinya ke arah langit. Seketika itu juga, pemandangan di hadapan Mutawakkil berubah drastis. Langit di atas gurun Samarra runtuh dalam pandangan spiritualnya. Di seluruh penjuru mata angin, dari timur hingga barat, dari bumi hingga menembus batas langit, Mutawakkil melihat barisan malaikat yang tak terhitung jumlahnya. Mereka menunggangi kuda-kuda cahaya, memegang tombak-tombak dari api, dan setiap malaikat telah meletakkan anak panah di busurnya, siap dilepaskan hanya dengan satu isyarat dari Imam Hadi as.
Pemandangan gaib yang begitu agung, dahsyat, dan mengerikan itu seketika meremukkan seluruh keangkuhan Mutawakkil. Jantungnya berdegup kencang, lututnya lemas, dan karena tidak kuat menahan rasa takut yang luar biasa, Mutawakkil langsung jatuh tersungkur dan pingsan di atas bukit tersebut.
Imam Hadi as membiarkannya beberapa saat. Ketika Mutawakkil mulai siuman dengan tubuh yang gemetar dan wajah yang pucat tanpa darah, Imam Hadi as membantu beliau berdiri dan berkata dengan kalimat yang sangat mendalam: “Tenanglah, wahai Mutawakkil. Jangan takut. Kami tidak pernah berebut dunia dengan kalian. Jika kami menghendaki, kami bisa menghancurkan kerajaanmu dalam sekejap. Namun, kami para Imam adalah pembawa rahmat. Tugas kami bukan mengumpulkan kekuasaan lahiriah.”
Dari kisah ini kita belajar, jika seorang Imam kesepuluh saja memiliki pasukan langit yang begitu dahsyat, bagaimana dengan Imam Husain as di padang Karbala?
Dalam kitab-kitab maqtal disebutkan, pada hari Asyura, sekelompok pemimpin bangsa jin datang menemui Imam Husain as. Mereka berlutut dan berkata, “Wahai putra Rasulullah, izinkan kami turun ke medan laga. Kami tidak terlihat oleh mata manusia, kami bisa memenggal kepala seluruh pasukan Yazid dalam hitungan menit tanpa ada satu pun dari kalian yang terluka!”
Bahkan para malaikat pun turun menawarkan bantuan yang sama. Namun, apa jawaban Imam Husain as? Beliau menolaknya. Beliau berkata, “Jika aku menggunakan mukjizat atau bantuan gaib, lalu bagaimana ujian manusia akan berjalan? Bagaimana dunia akan belajar tentang arti pengorbanan, cinta, dan kesetiaan?”
Imam Husain as memilih untuk membiarkan tubuhnya tercabik-cabik, memilih untuk menumpahkan darah sucinya secara alami, karena beliau tahu bahwa hanya dengan cara itulah gerbang keselamatan spiritual akan terbuka bagi manusia.
Beliau tidak ingin menaklukkan manusia dengan ketakutan; beliau ingin memenangkan hati manusia melalui perantara air mata, ketulusan, dan cinta yang suci.
Cinta kepada Imam Husain as adalah tali pengikat yang sangat kuat. Kadang kala, kita sebagai manusia yang rajin shalat atau hadir di majelis sering kali
merasa sombong dengan amal ibadah kita. Padahal, jika ditakar dengan keadilan Allah, shalat kita yang penuh dengan kelalaian, pikiran yang melayang ke mana-mana, dan ibadah kita yang dinodai riya, sama sekali tidak layak untuk kita banggakan di hadapan-Nya. Kita selamat semata-mata karena karunia dan kasih sayang-Nya.
Dan salah satu manifestasi terbesar dari karunia Allah itu adalah nama Imam Husain as, yang mampu meraih siapa saja, bahkan mereka yang sudah tenggelam di dasar lumpur dosa sekalipun.
Sebesar apa pun dosa kita, sekotor apa pun lembaran masa lalu kita, jika kita datang ke majelis ini dengan ketulusan dan setetes air mata duka, Imam Husain as siap membersihkan dan mengangkat derajat kita.
Malam-malam awal Muharram adalah malam di mana kita membuka lembaran duka dengan mengenang sosok yang membuka gerbang kesyahidan dalam kafilah Karbala. Beliau adalah pintu gerbang menuju duka Husaini, utusan setia, sepupu, sekaligus orang yang sangat dipercaya oleh Imam Husain as. Beliau adalah Hazrat Muslim bin Aqil as.
Dalam catatan sejarah digambarkan bahwa Hazrat Muslim bin Aqil as memiliki perawakan yang sangat gagah. Wajahnya tampan, wibawanya luar biasa, dan jika dilihat dari kejauhan, usia dan wajahnya sangat mirip dengan pahlawan Karbala, Hazrat Abbas bin Ali as. Beliau diutus oleh Imam Husain pergi lebih dulu ke kota Kufah untuk memeriksa apakah surat-surat dukungan dari masyarakat Kufah itu benar adanya.
Namun, apa yang terjadi? Kufah adalah kota pengkhianatan. Hanya dalam hitungan hari, setelah kedatangan gubernur yang keji, Ubaidillah bin Ziyad, masyarakat Kufah yang awalnya berjumlah puluhan ribu membaiat Muslim, perlahan-lahan mundur karena takut akan ancaman dan tergiur oleh suap emas.
Hingga pada suatu malam, setelah melaksanakan shalat Maghrib di masjid Kufah, Muslim menoleh ke belakang. Beliau terkejut. Masjid yang tadinya penuh sesak, kini kosong senyap. Ketika beliau keluar ke jalanan kota Kufah, tidak ada satu pun orang yang sudi membukakan pintu rumah untuknya. Beliau berjalan seorang diri di kegelapan malam, haus, lapar, dan terasing di kota yang asing.
Setelah pertempuran yang heroik di jalanan Kufah, di mana Muslim dikeroyok dari segala penjuru, dilempari batu dari atas atap, dan dijebak ke dalam lubang yang dipenuhi tombak, tubuh beliau yang penuh luka akhirnya berhasil ditangkap.
Beliau dibawa ke istana Kufah dalam keadaan bersimbah darah. Ubaidillah bin Ziyad yang durjana memandangnya dengan tawa kemenangan dan memerintahkan algojonya: “Bawa Muslim ke atas atap tertinggi istana Kufah! Penggal kepalanya di sana, dan lemparkan tubuhnya ke bawah agar menjadi pelajaran bagi siapa saja yang berani mendukung Husain!”
Ketika digandeng oleh algojo menuju tangga atap istana, para saksi mata melihat air mata mengalir membasahi janggut Muslim bin Aqil yang berlumuran darah.
Melihat hal itu, salah seorang perwira musuh mengejeknya dengan nada sarkas: “Wahai Muslim, seseorang yang maju ke medan perang untuk melakukan urusan besar seperti ini, tidak pantas menangis cengeng saat menghadapi kematian! Di manakah keberanianmu?”
Muslim bin Aqil as menoleh, menatap musuhnya dengan pandangan mata yang tajam namun penuh kesedihan, lalu berkata dengan kalimat yang mengiris hati: “Demi Allah, engkau tidak tahu mengapa aku menangis. Kalian mengira aku menangis karena takut mati? Demi Allah, kami adalah Ahli Bait yang menganggap kematian di jalan Allah adalah sebuah kemuliaan, dan kami merindukan syahid sebagaimana seorang bayi merindukan air susu ibunya! Aku tidak menangis untuk diriku sendiri. Aku menangis karena aku teringat surat yang telah terlanjur kukirimkan kepada Husain beberapa hari yang lalu. Di dalam surat itu aku menulis: ‘Wahai Husain, datanglah ke Kufah, sesungguhnya 18.000 pasukan telah siap membelamu dan menumpahkan darah untukmu.’ Aku menangis karena membayangkan saat ini, sepupuku Husain, putra Fatimah, sedang melangkah mantap menuju tempat ini. Beliau tidak datang sendiri! Beliau membawa saudara-saudaranya, membawa wanita-wanita sucinya, membawa anak-anaknya yang masih kecil, membawa Zainab, membawa Sukainah… Beliau berjalan menuju pembantaian ini tanpa tahu bahwa Kufah telah berkhianat, tanpa tahu bahwa utusannya telah sebatang kara!”
Muslim kemudian dibawa ke tepi atap istana. Beliau membalikkan tubuhnya ke arah rute perjalanan Imam Husain, meletakkan tangannya di dada, lalu berseru untuk terakhir kalinya: “Assalamu ‘alaika ya Aba ‘Abdillah… Kembalilah wahai Husain, jangan datang ke Kufah…”
Lalu pedang algojo berkilat di udara. Kepala Muslim bin Aqil terpenggal dan jatuh menggelinding ke jalanan, disusul oleh tubuh sucinya yang dilemparkan dari atas atap istana. Tidak cukup sampai di situ, kaki jasad beliau diikat dengan tali, lalu diseret oleh kuda-kuda melewati pasar-pasar kota Kufah.
Kabar duka yang memilukan ini akhirnya sampai ke telinga Imam Husain as ketika kafilah beliau berada di sebuah tempat bernama Thalabiyyah, beberapa hari sebelum sampai di Karbala.
Ketika utusan membawa berita bahwa Muslim telah syahid di Kufah, Imam Husain as terduduk. Beliau menangis dengan suara yang keras, seraya berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… semoga Allah merahmati mu, wahai Muslim. Engkau telah menunaikan tugasmu, dan sekarang giliran kami yang akan menyusulmu.”
Imam Husain as kemudian mengusap air matanya. Beliau memandang ke arah tenda wanita. Beliau memanggil salah seorang putri kecil Muslim bin Aqil yang ikut dalam kafilah tersebut, seorang anak perempuan yang masih polos bernama Hamidah. Hamidah saat itu sedang bermain di dekat tenda, tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Imam Husain mendudukkan bocah perempuan yang kebingungan itu di atas pangkuannya. Beliau memperlakukannya dengan cara yang sangat tidak biasa. Beliau mengusap-usap kepala Hamidah dengan penuh kelembutan, mencium keningnya berulang kali, dan memberikan perhatian yang sangat berlebih persis seperti cara masyarakat Arab memperlakukan seorang anak yang baru saja kehilangan ayahnya.
Hamidah yang cerdas merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia menatap mata Imam Husain yang sembab dan memerah karena menangis. Dengan suara kekanak-kanakannya, Hamidah bertanya: “Wahai paman… mengapa paman memperlakukanku seperti ini? Mengapa paman mengusap kepalaku seperti cara paman mengusap kepala anak yatim? Apakah… apakah telah terjadi sesuatu pada ayahku, Muslim?”
Imam Husain as tidak mampu lagi membendung air matanya. Beliau mendekap erat Hamidah ke dadanya, menangis terisak-isak, lalu berbisik dengan suara yang parau: “Wahai putriku, Hamidah… Jangan menangis, jangan merasa asing. Jika ayahmu Muslim telah tiada, maka mulai hari ini, akulah yang akan menjadi ayahmu. Anak-anakku adalah saudaramu, dan wanita-wanita di tenda ini adalah ibumu.”
Betapa indahnya kasih sayang Imam Husain as. Beliau mengusap kepala anak yatim Muslim di awal Muharram, memastikan anak itu tidak merasa kehilangan kasih sayang seorang ayah. Namun, mari kita bayangkan sejenak. Siapakah yang akan mengusap kepala putri-putri Imam Husain sendiri beberapa hari kemudian? Ketika Imam Husain gugur di atas padang Karbala, ketika tubuh beliau tanpa kepala terkapar di atas pasir, siapakah yang mengusap kepala Sukainah? Siapakah yang mengusap kepala Ruqayyah? Tidak ada!
Musuh justru datang ke tenda-tenda bukan untuk mengusap kepala mereka, melainkan untuk menampar pipi mereka dan merenggut anting-anting dari telinga mereka!
Dan nasib yang paling tragis juga menimpa putri kecil ini, Hamidah. Riwayat mencatat, ketika pasukan Yazid membakar kemah-kemah suci Ahli Bait, anak-anak kecil berlarian ketakutan ke tengah kegelapan gurun dalam kondisi pakaian yang terbakar. Di tengah kepanikan, kekacauan, dan derap kaki kuda musuh yang berlarian liar menghancurkan apa saja, putri kecil Muslim, Hamidah, terjatuh di atas tanah. Dalam kegelapan malam yang kelam itu, tubuh mungil Hamidah yang tak berdaya ikut gugur syahid karena terinjak-injak oleh kaki-kaki kuda pasukan musuh yang beringas. (*Disampaikan dalam peringatan malam-malam duka Asyura di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar pada 16 Juni 2026)












