BERITAALTERNATIF.COM – Puluhan mahasiswa membakar ban bekas di depan Mapolres Kukar pada Selasa (24/2/2026) siang.
Dalam aksi tersebut, terdapat tiga ban bekas yang dibawa mahasiswa. Salah satunya dibakar setelah sekitar 20 menit mahasiswa melakukan orasi secara bergantian.
Satu ban lainnya dibakar sekitar 35 menit setelah mahasiswa berorasi di hadapan aparat kepolisian yang menjaga gerbang masuk Mapolres Kukar.
“Kami dilarang bakar ban. Ini usaha membungkam mahasiswa,” teriak seorang mahasiswa.
Diberitakan sebelumnya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi di lingkungan kampus Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) mengadakan aksi demonstrasi di depan Mapolres Kukar pada Selasa siang.
Mereka berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unikarta dan perwakilan sejumlah BEM fakultas di Kampus Ungu.
Dalam aksi ini mereka menyampaikan aspirasi menyusul kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap seorang pelajar di Kota Tual, Provinsi Maluku.
Para demonstran melakukan orasi secara bergantian di gerbang masuk Mapolres Kukar.
Mereka membawa spanduk dan bekas yang dibakar massa dalam aksi tersebut.
“Kami meminta kepolisian bertanggung jawab. Jangan sampai tidak ada pertanggungjawaban,” ujar seorang demonstran dalam orasinya.
Aksi yang dimulai pada pukul 14.15 Wita tersebut dijaga ketat oleh puluhan aparat kepolisian berseragam lengkap dan bebas.
Hingga berita ini diterbitkan, meski terjadi usaha pelarangan pembakaran ban, aksi masih berlangsung damai dan tertib.
Diketahui, seorang pelajar MTs berusia 14 tahun di Kota Tual, Maluku, Arianto Tawakal, meninggal dunia usai terjadi insiden di ruas jalan kawasan RSUD Maren, Kamis (19/2/2026) pagi. Korban diduga terkena pukulan helm oleh oknum anggota Brimob saat melintas di lokasi.
Peristiwa itu terjadi ketika Arianto berboncengan dengan kakaknya, Nasri Karim (15). Keduanya baru saja berputar arah dari sekitar rumah sakit dan melaju di jalan menurun.
Di waktu yang sama, disebut-sebut ada rombongan kendaraan lain yang melintas kencang dan diduga melakukan balap liar. Namun Nasri membantah dirinya dan sang adik terlibat.
“Kami jalan sendiri. Dari arah Rumah Sakit Maren, kami putar balik. Memang posisi turunan, jadi motor agak laju. Adik sudah bilang ada polisi di depan,” ujar Nasri, Sabtu (21/2/2026).
Menurut Nasri, sebelum sampai di titik turunan, ia melihat seorang anggota Brimob bernama Bripda Masias Siahaya berada di pinggir jalan.
“Waktu kami sudah dekat, dia langsung loncat dari balik pohon. Langsung ayunkan helm yang dipakai, kena tepat di wajah adik saya,” ungkapnya.
Ia menyebut, adiknya sempat masih memegang kendali motor meski sudah terkena pukulan.
“Dia masih pegang motor, mata sudah tertutup. Karena kena di wajah, dia hilang kendali. Motor terus melaju lalu jatuh tersungkur. Kepalanya sempat terseret di aspal. Motor adik juga tabrak saya sampai saya ikut jatuh,” katanya.
Arianto kemudian dilarikan ke rumah sakit. Namun nyawanya tak tertolong.
Kematian pelajar 14 tahun itu memicu kemarahan keluarga dan warga. Dari video yang diunggah akun Instagram @mangentemaluku, tampak para warga, termasuk keluarga korban mendatangi markas Brimob di Tual dan meminta agar terduga pelaku diproses hukum.
“Kalau memang salah, kenapa tidak diberikan pembinaan saja? Kenapa harus dipukul seperti binatang? Pelaku harus dihukum sesuai undang-undang yang berlaku. Kalau tidak dihukum adil, kami akan terus kawal kasus ini,” kata Moksen Ali, keluarga korban. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin









