Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Dulu, sebelum internet menjadi bagian dari hidup sehari-hari, kami memandang media-media besar dengan rasa hormat yang nyaris otomatis. Surat kabar terbit setiap pagi dengan halaman yang tebal, seolah menjadi monumen kerja keras. Kami membayangkan wartawan berangkat ke lapangan, mencatat dengan teliti, berdebat di ruang redaksi, lalu menulis setelah melalui penyaringan panjang. Tebal halaman dianggap sebanding dengan bobot kerja dan kedalaman tanggung jawab.
Gambaran itu pelan-pelan runtuh ketika internet, media sosial, dan kemudian AI menyatu ke dalam arus informasi. Masyarakat menjadi semakin cepat mengakses kabar, sementara media arus utama justru bergerak ke arah yang berlawanan dari imaji lamanya. Mereka tidak lagi menyebar wartawan ke mana-mana, tidak menunggu laporan lapangan, dan tidak bersusah payah memeriksa realitas secara mandiri. Jalan pintas dipilih sebagai kebajikan baru.
Praktiknya sederhana: salin dan tempel. Agar tetap tampak berwibawa, rujukan kepada Reuters, AFP, atau pusat-pusat berita global disematkan sebagai stempel legitimasi. Dengan sedikit polesan bahasa, berita pun siap edar. Dunia lalu dibaca dari sumber yang sama, dengan sudut pandang yang seragam, seolah realitas global hanya memiliki satu wajah dan satu suara. Keanekaragaman pengalaman manusia dipadatkan menjadi narasi tunggal yang diulang tanpa jarak kritis.
Dalam situasi seperti ini, menyebut mereka sebagai media salin-tempel sebenarnya masih terlalu lunak. Yang berlangsung bukan sekadar pengulangan informasi, melainkan pengosongan kerja jurnalistik itu sendiri. Nama besar dipertahankan, ritme publikasi dijaga, tetapi upaya memahami kenyataan digantikan oleh kecepatan dan kemalasan struktural. Mereka berlomba menjadi yang tercepat, bukan yang paling jujur.
Masalahnya menjadi jauh lebih serius ketika perhatian diarahkan ke negeri-negeri yang sejak awal diposisikan sebagai lawan kepentingan global. Iran, misalnya, jarang dibaca sebagai masyarakat dengan dinamika sejarah, politik, dan sosial yang kompleks. Ia lebih sering diperlakukan sebagai simbol gangguan terhadap tatanan dunia yang mapan. Dalam konteks ini, media-media global berfungsi sebagai corong, bukan sebagai penafsir.
Yang diperbanyak bukan peristiwanya, melainkan fabrikasinya. Bukan konteksnya, melainkan manipulasi maknanya. Fragmen kecil diangkat, dibesarkan, dan disusun sedemikian rupa hingga tampak sebagai ancaman besar. Tujuannya jelas: provokasi ke dalam, tekanan psikologis ke luar, serta pelemahan spirit masyarakat yang menolak tunduk kepada hegemoni imperialis, kolonialis, dan kapitalis yang menguasai arus global.
Media arus utama lalu bertindak sebagai penguat gema. Narasi dari pusat-pusat opini disalin, disebarkan, dan dipresentasikan sebagai laporan objektif. Sejarah panjang relasi kuasa dihapus, sudut pandang dari dalam diabaikan, dan realitas dipaksa masuk ke dalam kerangka hitam-putih yang nyaman bagi kepentingan dominan. Yang patuh dirayakan, yang melawan dicurigai.
Akibatnya, batas antara media besar dan pengguna internet biasa semakin kabur. Kualitas informasi yang disajikan sering kali setara dengan arus konten yang beredar bebas: menarik lebih utama daripada benar, sensasi lebih dihargai daripada ketelitian. Kredibilitas bertahan bukan karena proses yang dapat diuji, melainkan karena reputasi lama yang terus diperas meski isinya kian menipis.
Dalam keadaan seperti ini, sikap kritis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar. Nama besar tidak otomatis menjamin kebenaran. Yang patut dinilai hanyalah satu hal: apakah masih ada kerja sungguh-sungguh untuk memahami dunia, atau yang tersisa hanyalah produksi ilusi dengan wajah serius dan bahasa netral yang makin kehilangan makna. (*Cendekiawan Muslim)












