Search

Konfrontasi Uni Emirat Arab dan Arab Saudi di Yaman Menurut Media Dunia

Kumpulan pemberitaan media internasional menunjukkan bahwa konfrontasi terbaru antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman bukanlah insiden sementara, melainkan pertanda bahwa krisis di negara tersebut telah memasuki fase baru yang lebih kompleks dan berlapis.  (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Perkembangan terbaru di pelabuhan strategis Al-Mukalla di wilayah timur Yaman, yang disertai serangan udara terhadap kiriman senjata dan kendaraan militer yang dikaitkan dengan Uni Emirat Arab oleh koalisi pimpinan Arab Saudi, mendapat sorotan luas dari media internasional. Peristiwa yang pada awalnya bisa dipandang sebagai perbedaan operasional terbatas dalam kerangka koalisi Arab, dengan cepat berubah dalam analisis media Barat menjadi tanda konfrontasi terbuka dan keretakan mendalam antara dua mitra utama dalam perang Yaman. Banyak pengamat menyebutnya sebagai sebuah “retakan strategis yang berbahaya”.

Media-media dunia, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat, memandang peristiwa ini bukan sebagai kejadian terpisah, melainkan titik balik dalam perjalanan perang Yaman; sebuah titik di mana pertentangan kepentingan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak lagi tersembunyi, tetapi tampil secara terbuka di medan praktik.

Harian Inggris The Independent menulis bahwa krisis terbaru bermula setelah pengiriman senjata dan perlengkapan militer tanpa koordinasi dengan koalisi pimpinan Arab Saudi dipindahkan dari Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab ke Pelabuhan Mukalla di Provinsi Hadhramaut. Menurut Riyadh, kiriman tersebut ditujukan kepada pasukan yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan, sebuah entitas yang didukung langsung oleh Abu Dhabi dan memiliki tujuan strategis memisahkan Yaman selatan dari pemerintahan pusat.

The Independent menegaskan bahwa pemboman kiriman tersebut oleh Arab Saudi merupakan pesan yang jelas kepada Uni Emirat Arab. Dari sudut pandang Riyadh, perluasan pengaruh kelompok separatis di wilayah-wilayah sensitif dan strategis Yaman, terutama di dekat perbatasan selatan Arab Saudi, dipandang sebagai pelanggaran garis merah keamanan.

Melampaui Perbedaan Taktis

Sebagian besar analisis media menekankan bahwa perbedaan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bukanlah hal baru. Sejak 2019, bersamaan dengan pengurangan kehadiran militer langsung Uni Emirat Arab di Yaman, tanda-tanda perbedaan tujuan kedua negara mulai terlihat. Namun, menurut media, apa yang terjadi di Mukalla menandai peralihan dari tahap perbedaan tersembunyi menuju fase konfrontasi terbuka.

Harian Italia Inside Over dalam analisisnya secara lugas menyebut situasi ini sebagai “retakan strategis yang berbahaya di jantung koalisi anti-Yaman” dan menulis bahwa krisis ini tidak berkaitan langsung dengan Ansarullah, melainkan mencerminkan perbedaan mendasar antara pandangan Riyadh dan Abu Dhabi mengenai masa depan Yaman dan tatanan kawasan.

Dua Pandangan yang Bertolak Belakang tentang Yaman

Menurut analisis Inside Over, Arab Saudi memandang Yaman sebagai bagian dari persamaan besar keamanan nasionalnya; sebuah negara penyangga yang stabilitasnya sangat penting untuk mencegah ancaman di perbatasan. Sebaliknya, Uni Emirat Arab melihat Yaman sebagai mata rantai kunci dalam proyek pengaruh geopolitiknya, sebuah proyek yang dimulai dari pelabuhan-pelabuhan Tanduk Afrika dan meluas hingga Yaman selatan serta Laut Arab.

Media tersebut menekankan bahwa dukungan Abu Dhabi terhadap kelompok separatis selatan bukanlah langkah sementara, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengendalikan pelabuhan, jalur perdagangan, dan titik-titik maritim strategis, sebuah pendekatan yang tidak selalu sejalan dengan prioritas keamanan Arab Saudi.

Runtuhnya Narasi “Koalisi Arab yang Solid”

Harian Swiss Le Temps dengan nada kritis menulis bahwa perkembangan terbaru ini mempertanyakan narasi resmi tentang “koalisi Arab yang solid”. Menurut surat kabar tersebut, pembatalan perjanjian pertahanan antara pemerintah Yaman dan Uni Emirat Arab serta perintah penarikan pasukan Emirat dalam waktu 24 jam menunjukkan bahwa kepercayaan politik antara Riyadh dan Abu Dhabi telah mengalami kerusakan serius.

Le Temps menekankan bahwa kepentingan yang saling bertentangan kini mengalahkan tujuan awal bersama, yakni menghadapi Ansarullah, dan pada akhirnya membawa perang Yaman ke fase yang jauh lebih rumit.

Yaman Selatan; Arena Persaingan Proksi

Media-media Prancis juga menyoroti perkembangan ini dengan penuh kekhawatiran. Harian Libération melaporkan bahwa pasukan yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan menolak mundur dari wilayah-wilayah yang mereka kuasai pada awal Desember dan secara terbuka menentang perintah pemerintah yang didukung Arab Saudi. Surat kabar ini menulis bahwa kegigihan kaum separatis mempertahankan posisi mereka menunjukkan ketergantungan yang lebih besar pada dukungan eksternal dibandingkan pada struktur negara Yaman.

Sementara itu, Le Monde dengan nada lebih berhati-hati menyebut penarikan pasukan Uni Emirat Arab sebagai tanda meningkatnya ketegangan antara kedua negara, seraya menegaskan bahwa langkah ini tidak serta-merta berarti berakhirnya pengaruh Abu Dhabi di Yaman selatan.

Pertanyaan tentang Masa Depan Koalisi

Harian Italia Asia News mengajukan pertanyaan, “Ke mana arah koalisi ini?” dan menulis bahwa konfrontasi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bukan lagi perselisihan sesaat, melainkan cerminan kontradiksi mendalam dalam pandangan kedua negara tentang tatanan kawasan. Menurut media ini, pemberlakuan keadaan darurat, pembatalan perjanjian pertahanan, serta pembatasan udara dan laut menunjukkan pergeseran pendekatan Arab Saudi dari sekadar mengelola perbedaan menuju kebijakan penangkalan langsung terhadap Uni Emirat Arab.

Dampak di Luar Kawasan

Kekhawatiran media tidak hanya terbatas pada Yaman. Harian Inggris The Telegraph memperingatkan bahwa konfrontasi antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, sebagai dua aktor kunci di pasar energi global, dapat membawa dampak yang melampaui kawasan dan memengaruhi stabilitas pasar minyak dan gas dunia.

Di sisi lain, The Economist menulis bahwa perang Yaman telah memasuki tahap di mana koalisi justru saling berhadapan, dan poros utama konflik tidak lagi Ansarullah, melainkan persaingan antara mantan sekutu. The Guardian juga mengangkat kemungkinan pecahnya perang saudara di Yaman selatan dan potensi meluasnya ketidakstabilan ke negara-negara tetangga.

Perspektif Amerika

Di Amerika Serikat, The Wall Street Journal menilai konfrontasi ini dari sudut pandang kepentingan Washington dan menulis bahwa keretakan antara Riyadh dan Abu Dhabi membuat perhitungan Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi lebih rumit, terutama ketika Washington berupaya membendung Iran dan mencegah meluasnya krisis regional. Menurut surat kabar ini, berlanjutnya perbedaan antara dua sekutu utama Amerika Serikat dapat membuka ruang manuver yang lebih luas bagi para pesaing.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, narasi media dunia menunjukkan bahwa konfrontasi terbaru antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bukanlah peristiwa sementara, melainkan tanda bahwa krisis Yaman telah memasuki fase baru yang lebih kompleks; sebuah fase di mana persaingan kekuatan regional semakin membayangi nasib negara tersebut. Menurut media-media ini, jika retakan ini tidak dikelola dengan baik, bukan hanya koalisi Arab yang terancam, tetapi juga keseimbangan keamanan Teluk Persia, Laut Merah, dan bahkan stabilitas pasar energi global akan menghadapi tantangan yang lebih serius. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA