Search

Kisah Perjalanan Bersejarah Syahid Imam Ali Khamenei ke Kurdistan

Bertahun-tahun telah berlalu sejak perjalanan bersejarah pemimpin syahid ke Kurdistan, namun hingga kini masyarakat provinsi tersebut masih menganggap Ordibehesht 1388 (Mei 2009) sebagai momen yang berbeda dalam ingatan kolektif mereka—sebuah perjalanan yang, menurut para pejabat, membawa pesan persatuan. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Bagi masyarakat Kurdistan, beberapa hari tidak hanya tercatat dalam kalender, tetapi juga abadi dalam ingatan sosial dan emosional mereka. Tanggal 22 Ordibehesht adalah salah satu hari itu; hari ketika jalan-jalan Sanandaj, Saqqez, Marivan, dan Bijar dipenuhi oleh masyarakat yang datang untuk menyambut Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

Pada hari-hari itu, suasana provinsi terasa berbeda; semangat dan antusiasme mengalir di tengah masyarakat, dan banyak yang merasa bahwa Kurdistan setelah bertahun-tahun akhirnya dilihat bukan dari sudut pandang keamanan, melainkan melalui lensa budaya, persatuan, dan kebersamaan.

Kini, pada peringatan perjalanan bersejarah tersebut, para pejabat provinsi berbicara tentang berbagai dimensi kehadiran itu—kehadiran yang menurut mereka masih meninggalkan dampak dalam lapisan sosial, budaya, bahkan psikologis masyarakat Kurdistan.

Dalam hal ini, Hujjatul Islam Abdolreza Pourzahabi, perwakilan Pemimpin Tertinggi di Kurdistan, dalam wawancara dengan reporter Mehr, mengenang pemimpin syahid tersebut dan membahas berbagai aspek perjalanan itu serta dampaknya terhadap suasana sosial dan budaya provinsi.

Ia menyatakan bahwa hari-hari ini bertepatan dengan peringatan kehadiran penuh cahaya dan kehormatan Pemimpin Tertinggi pada tahun 1388 (kalender Iran) di Kurdistan, dan mereka mengenang pemimpin syahid tersebut.

Meskipun ia tidak berada di Kurdistan saat perjalanan itu berlangsung, ia mengatakan bahwa berdasarkan apa yang didengarnya dari masyarakat, perjalanan itu disertai dengan spiritualitas, kecintaan rakyat, dan semangat sosial.

Ia juga menambahkan bahwa pemimpin tersebut mengunjungi Sanandaj, Saqqez, Bijar, dan Marivan, serta menyampaikan pidato kepada masyarakat, dan kehadirannya saat itu membawa persatuan, harapan, dan ketenangan.

Tahun 1388 (2009) merupakan salah satu periode sensitif dalam sejarah politik Iran, menjelang pemilihan presiden. Dalam kondisi itu, perjalanan tersebut berperan penting dalam memperkuat ketenangan dan kohesi sosial di Kurdistan.

Menurutnya, meskipun tahun itu penuh dinamika politik, kenangan masyarakat terhadap perjalanan tersebut tetap manis dan berkesan.

Ia menekankan bahwa salah satu hasil terpenting dari perjalanan tersebut adalah penguatan persatuan—baik secara agama, etnis, maupun nasional.

Salah satu contohnya adalah perhatian terhadap permintaan masyarakat terkait azan mazhab Syafi’i, yang kemudian disetujui dan sejak itu disiarkan melalui media nasional pada waktu yang tepat.

Ia juga menyoroti pendekatan penuh empati pemimpin terhadap peristiwa pahit dekade awal revolusi di Kurdistan, termasuk pengakuan bahwa banyak korban dari pihak lawan adalah pemuda yang keluarganya menderita dan perlu mendapat perhatian.

Pendekatan ini memberikan dampak mendalam pada opini publik dan menunjukkan bahwa pandangan terhadap Kurdistan tidak semata-mata politis atau keamanan, tetapi bersifat manusiawi dan penuh kepedulian.

Ia menjelaskan bahwa wilayah seperti Kurdistan sebelumnya sering dipandang dari sisi keamanan akibat konflik awal revolusi. Namun perjalanan tersebut menjadi awal perubahan, dengan penegasan bahwa Kurdistan adalah provinsi budaya, bukan sekadar wilayah keamanan.

Setelah perjalanan itu, perhatian terhadap seni, budaya, sastra, dan ilmu pengetahuan meningkat. Para seniman, akademisi, dan aktivis budaya mendapatkan ruang baru, dan citra Kurdistan pun berubah menjadi lebih positif.

Ia menggambarkan masyarakat Kurdistan sebagai masyarakat yang bijak, santun, dan memiliki kesadaran sosial tinggi, yang telah menunjukkan rasionalitas dan solidaritas dalam berbagai peristiwa.

Bahkan orang-orang yang tidak memiliki kedekatan politik pun datang untuk mendengarkan pidato pemimpin tersebut, menunjukkan adanya daya tarik personal yang kuat dan hubungan emosional dengan masyarakat.

Menurutnya, dampak perjalanan itu tidak hanya terbatas pada proyek pembangunan, tetapi juga pada penguatan persatuan, solidaritas, dan rasa memiliki terhadap negara.

Direktur Yayasan Syahid dan Urusan Veteran Kurdistan menyatakan bahwa perjalanan tersebut membawa manfaat material dan spiritual yang berkelanjutan bagi keluarga syuhada dan veteran.

Ia menambahkan bahwa perhatian khusus terhadap mereka tercermin dalam pengiriman tim untuk bertemu dan menyelesaikan masalah mereka, yang memberikan dampak nyata dalam kehidupan mereka.

Hingga kini, ketika Ordibehesht 1388 disebut, masyarakat Kurdistan mengenang hari-hari penuh harapan, kebersamaan, dan rasa memiliki.

Warisan terpenting dari perjalanan itu bukan hanya proyek atau kebijakan, tetapi perubahan cara pandang—yang mengeluarkan Kurdistan dari bingkai keamanan dan menegaskan kembali identitas budaya, kemuliaan sosial, dan potensi manusiawi masyarakatnya.

Kisah ini tetap hidup dalam ingatan kolektif Kurdistan hingga hari ini. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA