BERITAALTERNATIF.COM — Ketua Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar, Ahmad Fauzi, menyampaikan pandangannya terkait eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat-Israel.
Fauzi menilai sejumlah analisis dari berbagai pihak menunjukkan bahwa Iran memiliki peluang besar dalam menghadapi konflik tersebut.
Dalam wawancara lanjutan dengan awak media Berita Alternatif di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar pada Rabu (11/3/2026), dia mengaku dirinya bukan seorang analis militer.
Namun, ia menyebut sejumlah pengamat dan ahli geopolitik menilai bahwa posisi Iran cukup kuat dalam konflik yang sedang berlangsung.
“Sebenarnya sudah banyak ahli yang menyatakan hal tersebut. Kita ini bukan ahli, tetapi banyak analisis menyebut bahwa kemenangan Iran itu sangat mungkin terjadi,” ujarnya.
Menurut Fauzi, terdapat sejumlah faktor yang dinilai memperkuat posisi Iran dalam konflik tersebut, mulai dari faktor historis hingga semangat ideologis yang diyakini tertanam kuat dalam masyarakatnya.
Dia menjelaskan bahwa semangat pengorbanan dan perjuangan menjadi salah satu elemen penting dalam membentuk ketahanan mental masyarakat Iran ketika menghadapi konflik bersenjata.
“Kalau dulu ada istilah gugur satu tumbuh seribu, semangat seperti itu yang menurut banyak pengamat ada di Iran saat ini. Spirit itu yang menjadi salah satu kunci dalam peperangan,” jelasnya.
Ia menilai kekuatan mental dan ideologis tersebut menjadi faktor penting yang membedakan Iran dengan negara-negara lain dalam menghadapi konflik militer.
Selain itu, Fauzi menyinggung faktor teknologi, ketahanan nasional, serta kesiapan militer yang menurut sejumlah analisis menempatkan Iran pada posisi yang cukup kuat.
Dia bahkan menyebut konflik tersebut berpotensi berkembang menjadi perang besar yang menentukan arah geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Kita berharap konflik ini segera berakhir sehingga masyarakat bisa hidup dalam perdamaian,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyinggung sosok pemimpin Iran yang memiliki peran penting dalam membentuk semangat perlawanan di negara tersebut.
Fauzi menyebut figur Syahid Ayatullah Imam Ali Husaini Khamenei sebagai salah satu tokoh sentral yang konsisten dalam menjaga arah perjuangan politik dan ideologis Iran sejak masa sebelum revolusi hingga saat ini.
Menurutnya, perjalanan politik tokoh tersebut mencerminkan konsistensi dalam memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Iran.
“Kalau kita melihat perjalanan beliau sejak sebelum revolusi hingga sekarang, ada konsistensi yang kuat dalam mempertahankan nilai perjuangan,” jelasnya.
Dia juga mendorong masyarakat yang ingin memahami lebih dalam perjalanan tokoh tersebut untuk membaca berbagai referensi yang mengulas riwayat hidup serta pemikirannya.
Ia menilai pemahaman terhadap sejarah dan perjalanan tokoh-tokoh tersebut dapat memberikan perspektif yang lebih luas mengenai dinamika politik dan ideologi di kawasan Timur Tengah. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin












