BERITAALTERNATIF.COM – Ketersediaan beras lokal di Kutai Kartanegara (Kukar) masih mampu memenuhi kebutuhan pedagang di tengah musim kemarau.
Syaifudin, pedagang beras di Jalan Maduningrat Tenggarong, mengatakan kondisi tersebut didukung oleh aktivitas panen yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.
“Masih posisi panen. Masih cukup deras,” katanya kepada awak media Berita Alternatif pada Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, pasokan lokal masih menjadi penopang utama perdagangan beras di tingkat pedagang. Beras diperoleh dari sejumlah wilayah sekitar, termasuk Sebulu dan kawasan Tenggarong Seberang.
Ia mengatakan perputaran pasokan lokal lebih cepat dibandingkan beras yang didatangkan dari daerah yang lebih jauh.
Karena itu, kondisi cuaca dalam beberapa bulan ke depan menjadi perhatian bagi keberlangsungan pasokan.
Syaifudin berharap hujan kembali turun sekitar Oktober hingga November sehingga produksi dan perputaran beras lokal tetap berjalan.
Namun, dia memperkirakan kondisi dapat berubah apabila kemarau berlangsung lebih panjang hingga awal tahun. Ketika pasokan lokal mulai berkurang, beras dari luar daerah berpotensi masuk untuk memenuhi kebutuhan pasar.
“Kalau bulan satu belum hujan, mungkin nonlokal masuk,” ucapnya.
Ia menyebut beras dari Thailand sebagai salah satu kemungkinan pasokan yang masuk apabila kondisi tersebut terjadi.
Syaifudin mengaku tidak mengetahui secara pasti mekanisme masuknya beras impor tersebut, tetapi menurutnya beras dari Thailand pernah beredar di pasar lokal.
“Kalau kemarau ini panjang, jadi Thailand masuk. Pasti masuk,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, beras dari luar daerah maupun impor akan memiliki konsekuensi terhadap harga karena membutuhkan biaya distribusi yang lebih besar.
Ia menyebut harga beras nonlokal berpotensi lebih tinggi dibandingkan beras yang bersumber dari wilayah sekitar. “Jauh pulang impornya,” katanya.
Sementara itu, pasokan beras lokal yang dijual Syaifudin berasal dari sejumlah wilayah di Kukar.
Kecamatan Sebulu menjadi salah satu daerah yang disebutnya sebagai sumber pasokan.
Selain itu, beras juga diperoleh dari kawasan Tenggarong Seberang yang menurutnya memasok ke dua wilayah pasar, yakni Samarinda dan Kukar.
Dia juga menyebut pernah memperoleh pasokan padi dari Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Namun, padi dari wilayah tersebut umumnya masih dalam kondisi basah sehingga membutuhkan proses pengeringan sebelum dapat diolah lebih lanjut.
Ia mengatakan bahwa harga padi dari Babulu berada di kisaran Rp 6 ribu hingga Rp 6.500 per kilogram.
Setelah memperhitungkan biaya pengeringan dan proses lainnya, harga tersebut dapat mendekati harga padi lokal yang berada di kisaran Rp 8 ribu per kilogram.
Di tengah kondisi pasokan tersebut, pola pembelian masyarakat juga cenderung dalam jumlah kecil.
Syaifudin mengatakan konsumen umumnya membeli sekitar lima kilogram atau kurang. “Lima kilo ke bawah,” katanya.
Pembelian 20 kilogram masih terjadi, tetapi relatif jarang. Kondisi ekonomi masyarakat turut memengaruhi pola pembelian tersebut. “Apalagi ekonomi ini sulit,” ujarnya.
Dari sisi penjualan, dia memperkirakan dalam kondisi normal sekitar dua hingga tiga karung beras dapat terjual dalam sehari.
Jika permintaan meningkat, penjualan bahkan dapat mencapai sekitar lima karung.
Ia menilai keberadaan pasokan lokal menjadi faktor penting bagi pedagang karena membuat distribusi lebih cepat dan harga relatif lebih mudah dijangkau konsumen.
Karena itu, keberlanjutan panen dan kondisi cuaca dalam beberapa bulan ke depan menjadi perhatian bagi keberlangsungan pasokan beras lokal di Kukar.
“Kalau dua karung kan lima puluh. Kalau tiga karung kan tujuh puluh lima. Syukur-syukur lima karung,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











