Oleh: Riyawan*
Di era digital seperti sekarang, nilai manusia sering kali diukur dari hal-hal yang tampak di layar seperti foto profil yang estetik, jumlah pengikut media sosial, jabatan mentereng, atau saldo rekening.
Tanpa sadar, kita hidup dalam standar sosial yang keras dan kadang kejam. Siapa yang dianggap “bernilai”, dan siapa yang dipandang sebelah mata.
Namun Islam sejak awal telah mematahkan logika ini melalui kisah seorang sahabat Nabi yang nyaris tak dipedulikan manusia, tetapi justru dimuliakan langit. Dialah Julaibib.
Kisah Julaibib bukan cerita sedih tanpa makna. Ini adalah tamparan lembut bagi generasi modern yang terjebak pada standar palsu.
Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati tidak pernah lahir dari rupa, harta, atau nasab, melainkan dari iman dan ketakwaan.
Julaibib: Sosok yang Diremehkan Dunia, Dicintai Rasulullah
Secara fisik dan sosial, Julaibib berada di posisi paling bawah. Ia digambarkan bertubuh pendek, berkulit gelap, wajahnya tidak menarik, dan berpakaian lusuh. Ia miskin, tidak memiliki rumah tetap, bahkan sering tidur di masjid hanya beralaskan pasir.
Yang lebih berat lagi, nasab atau asal-usul keluarganya tidak diketahui. Di masyarakat Arab yang sangat menjunjung garis keturunan, kondisi ini adalah “vonis sosial”.
Tak sedikit orang yang terang-terangan menolaknya. Ia dianggap mengganggu, tidak layak duduk di majelis, dan tidak punya masa depan.
Namun semua pandangan manusia itu runtuh di hadapan satu fakta penting yakni Julaibib sangat dicintai oleh Muhammad.
Rasulullah melihat sesuatu yang tak mampu dilihat mata manusia biasa, hati yang tulus dan iman yang jujur.
Suatu hari, Rasulullah bertanya dengan lembut, “Wahai Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?” Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi bagi Julaibib terasa seperti ironi.
Dengan jujur ia menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang mau menikahkan putrinya dengan orang sepertiku?” Ia sadar betul bahwa di mata dunia, dirinya bukan siapa-siapa.
Namun Rasulullah tidak berhenti di situ. Beliau sendiri yang mencarikan jodoh untuk Julaibib, mendatangi rumah seorang tokoh Anshar dan meminang putrinya.
Awalnya keluarga itu terkejut dan berat menerima. Tapi sang putri merupakan seorang wanita shalihah, ia berkata dengan tegas, “Apakah kalian akan menolak permintaan Rasulullah?” Ia memilih taat kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan pada standar sosial. Pernikahan pun terjadi, menjadi bukti bahwa nilai manusia di sisi Allah jauh melampaui penilaian manusia.
Pernikahan Singkat, Syahid yang Agung
Kebahagiaan Julaibib sebagai pengantin baru tidak berlangsung lama. Belum genap satu malam, seruan jihad dikumandangkan.
Tanpa ragu, Julaibib memenuhi panggilan itu. Ia tidak terbuai oleh kebahagiaan dunia yang baru saja ia rasakan. Ia memahami prioritas hidup yakni Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya.
Di medan perang, Julaibib bertempur dengan keberanian luar biasa. Ia bukan panglima, bukan pula tokoh terkenal. Namun semangatnya menggetarkan. Hingga pertempuran usai, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Setelah semua nama disebut, Rasulullah bersabda dengan nada berbeda, “Tetapi aku kehilangan Julaibib. Carilah dia.”
Julaibib ditemukan dalam keadaan gugur sebagai syahid, dikelilingi tujuh mayat musuh yang berhasil ia kalahkan seorang diri. Rasulullah berdiri di samping jasadnya dan bersabda, “Dia telah membunuh tujuh orang, lalu mereka membunuhnya. Dia bagian dariku, dan aku bagian darinya.” Kalimat ini diulang hingga dua kali, sebuah kemuliaan yang luar biasa.
Lebih mengharukan lagi, Rasulullah sendiri yang memangku, mengafani, menyolatkan, dan menguburkan Julaibib.
Tidak semua sahabat mendapatkan kehormatan ini. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan, Rasulullah melihat bidadari surga turun dan berebut menjemput ruh Julaibib. Sosok yang di dunia dianggap buruk rupa, di akhirat justru menjadi rebutan surga.
Relevansi Kisah Julaibib di Era Modern
Kisah Julaibib terasa sangat dekat dengan problem hidup masa kini. Setidaknya ada tiga pelajaran besar yang relevan untuk kita renungkan.
Pertama, tentang standar nilai manusia. Hari ini, banyak orang merasa tidak berharga karena tidak memenuhi standar sosial seperti tidak good looking, tidak kaya, tidak populer. Julaibib mengajarkan bahwa nilai sejati tidak ditentukan oleh validasi manusia, tetapi oleh ketakwaan. Jika Rasulullah saja memuliakan Julaibib, lalu siapa kita hingga berani merendahkan sesama?
Kedua, tentang prioritas hidup. Dunia modern sering membuat kita lupa arah. Karier, harta, dan kenyamanan kadang membuat iman berada di urutan belakang. Julaibib menunjukkan bahwa kebahagiaan dunia bahkan pernikahan, tidak boleh melalaikan panggilan Allah. Jihad hari ini bisa berupa menjaga kejujuran, melawan hawa nafsu, atau tetap taat di tengah godaan zaman.
Ketiga, tentang keberanian melawan tekanan sosial. Wanita Anshar yang menerima Julaibib adalah simbol keberanian. Ia tidak tunduk pada gengsi keluarga atau omongan masyarakat. Di era sekarang, ketika pernikahan sering diukur dari status dan materi, kisah ini mengingatkan kita untuk kembali pada standar iman dan akhlak.
Penutup
Julaibib adalah bukti hidup bahwa kita tidak perlu menjadi “orang besar” di mata manusia untuk menjadi mulia di sisi Allah.
Ia tidak punya rupa, harta, atau nasab. Tapi ia punya iman yang utuh dan hati yang terpaut pada Rasulullah. Dunia mungkin memalingkan wajah darinya, tetapi langit justru membukakan pintu kehormatan.
Kisah ini mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk penilaian dunia. Mari bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita memandang manusia sebagaimana Rasulullah memandang Julaibib? Semoga kita termasuk orang-orang yang kelak menjadi “bagian” dari Rasulullah bukan karena popularitas, tetapi karena keteguhan iman. Aamiin. (*Pengamat Sosial)












