Oleh: Sayyid Thoriq Assegaff*
Dalam sejarah Islam, ada peristiwa-peristiwa yang bukan sekadar tragedi politik, melainkan guncangan spiritual yang mengguncang fondasi umat. Salah satunya adalah syahadah Ali ibn Abi Talib, sosok yang dikenal sebagai Amirul Mukminin dan salah satu pilar utama petunjuk dalam Islam.
Peristiwa kesyahidan beliau bukan hanya kehilangan seorang pemimpin. Ia adalah kehilangan sebuah rujukan kebenaran yang selama ini menjadi tempat umat merujuk dalam memahami agama.
Pada malam-malam peringatan syahadah Imam Ali, kaum mukminin mengenang kembali duka yang begitu dalam.
Bukan semata-mata karena seorang khalifah terbunuh, sebab sejarah mencatat bahwa sebelumnya beberapa khalifah juga wafat dalam situasi tragis. Namun syahadah Imam Ali membawa dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian kepemimpinan politik. Ia adalah guncangan spiritual.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa ketika tebasan pedang mengenai kepala Imam Ali, terdengar seruan dari langit yang menggambarkan bahwa salah satu pilar petunjuk telah runtuh.
Ungkapan ini bukan sekadar metafora. Ia menunjukkan bahwa keberadaan Imam Ali dalam kehidupan umat bukan hanya sebagai tokoh politik, tetapi sebagai sumber ilmu, kebijaksanaan, dan kebenaran.
Karena itu, kehilangan beliau berarti kehilangan salah satu rujukan paling otoritatif dalam memahami agama.
Guncangan seperti ini sebelumnya hanya pernah dirasakan oleh kaum Muslimin ketika wafatnya Muhammad. Ketika Rasulullah wafat, umat merasa kehilangan pusat petunjuk. Namun ketika Imam Ali syahid, umat kembali merasakan hilangnya salah satu pilar penting yang menjaga kesinambungan pemahaman agama.
Bagi orang yang hidupnya semata-mata berorientasi pada materi, kehilangan seperti ini mungkin tidak terasa. Orang yang seluruh hidupnya hanya diarahkan pada pencapaian duniawi akan terguncang jika sumber penghidupannya hilang, seperti pedagang yang kehilangan usahanya atau seseorang yang kehilangan harta bendanya.
Namun bagi orang yang mengikatkan hidupnya pada kebenaran dan nilai-nilai spiritual, kehilangan sumber petunjuk jauh lebih mengguncang daripada kehilangan materi.
Karena itu dalam doa-doa yang diajarkan kepada kaum mukmin terdapat peringatan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai puncak harapan dan batas pengetahuannya. Dunia adalah sesuatu yang fana. Segala yang ada di dalamnya pada akhirnya akan ditinggalkan.
Harta, jabatan, kedudukan, bahkan ilmu sekalipun tidak menjadi milik permanen manusia. Semua itu akan berlalu bersama perjalanan waktu.Yang benar-benar melekat pada manusia hanyalah nilai-nilai spiritual yang ia bangun sepanjang hidupnya.
Dalam konteks ini, syahadah Imam Ali menjadi tragedi besar bagi umat. Ia bukan sekadar kehilangan seorang tokoh, tetapi kehilangan sebuah pilar petunjuk.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi pernah mengatakan kepada Imam Ali bahwa di dunia ini ada dua manusia yang paling celaka: orang yang membunuh unta Nabi Saleh dan orang yang membunuh Imam Ali.
Mengapa demikian? Karena unta Nabi Saleh merupakan mukjizat dan bukti kebenaran kenabian beliau. Membunuhnya berarti meruntuhkan legitimasi kenabian dan menolak tanda kebesaran Allah.
Demikian pula dengan Imam Ali. Beliau adalah salah satu manifestasi hujjah ilahi dalam menjaga ajaran Islam setelah wafatnya Rasulullah. Membunuhnya bukan hanya menghilangkan seorang tokoh, tetapi mematahkan salah satu pilar petunjuk bagi umat.
Akibatnya, umat kehilangan kesempatan untuk terus mendapatkan bimbingan dari sosok yang memiliki kedalaman ilmu dan kesucian jiwa yang luar biasa.
Namun mengenang peristiwa ini bukan berarti membuka kembali luka sejarah atau menyalakan api dendam. Mengenang Imam Ali bukanlah sekadar persoalan emosional karena beliau adalah tokoh yang kita cintai. Yang lebih penting adalah memahami makna spiritual dari kehilangan tersebut.
Ketika pilar petunjuk runtuh, umat akan menghadapi berbagai bentuk kebingungan. Kebohongan dapat bertebaran di tengah masyarakat. Kebenaran menjadi sulit dikenali. Umat terpecah dalam berbagai kelompok dan mazhab yang saling berselisih. Perpecahan seperti ini dapat diibaratkan sebagai gempa ideologis yang mengguncang umat hingga hari ini.
Al-Qur’an pernah menyebut umat Islam sebagai “sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia.” Namun realitas yang kita lihat sering kali jauh dari gambaran ideal tersebut.
Jumlah umat Islam sangat besar. Banyak negeri Muslim memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang cerdas. Namun di banyak tempat justru kita melihat kemunduran, perpecahan, dan berbagai bentuk krisis moral.
Kita sering mengklaim diri sebagai umat terbaik, tetapi kenyataan sosial sering memperlihatkan hal yang sebaliknya.
Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai penyimpangan moral juga terjadi di tengah masyarakat yang mengaku religius. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan umat bukan sekadar persoalan jumlah atau identitas, melainkan persoalan kehilangan orientasi spiritual yang benar. Dalam pandangan spiritual, kondisi seperti ini merupakan bentuk guncangan ideologis yang menimpa umat.
Berbeda dengan umat-umat terdahulu yang sering dihancurkan secara fisik melalui bencana besar, umat Nabi Muhammad menghadapi bentuk ujian yang berbeda. Ujian itu sering hadir dalam bentuk kebingungan intelektual dan spiritual.
Mukjizat para nabi terdahulu banyak bersifat fisik: laut terbelah, tongkat berubah menjadi ular, atau api yang tidak membakar. Namun mukjizat utama Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an—sebuah mukjizat intelektual yang menuntut manusia untuk berpikir.
Kehancuran umat ini sering kali terjadi bukan karena kekurangan kekuatan fisik, tetapi karena kehilangan kemampuan untuk melihat kebenaran secara jernih.
Ketika manusia kehilangan rujukan kebenaran, ia akan mudah terjebak dalam kebingungan. Kebenaran tidak lagi terlihat jelas. Ia hanya menjadi wacana tanpa manifestasi nyata dalam kehidupan.
Karena itu, kehilangan beliau bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin atau figur sejarah. Kehilangan beliau adalah runtuhnya salah satu rujukan utama kebenaran dalam kehidupan umat.
Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi pernah menyandingkan dua peristiwa besar dalam sejarah manusia: pembunuhan unta Nabi Saleh dan pembunuhan Imam Ali.
Unta Nabi Saleh adalah mukjizat dan hujah Ilahi yang menjadi bukti kenabian beliau. Ketika umatnya membunuh unta tersebut, mereka tidak hanya melakukan pelanggaran moral, tetapi juga meruntuhkan tanda kebesaran Allah yang menjadi pilar petunjuk bagi mereka. Akibatnya, azab pun ditimpakan kepada mereka.
Salah satu azab yang disebutkan dalam riwayat adalah suara dahsyat yang memekakkan telinga mereka, sehingga mereka tidak lagi mampu mendengar kebenaran.
Ketika Imam Ali terbunuh, Nabi telah memberi isyarat bahwa peristiwa ini memiliki makna yang sebanding. Namun azab yang menimpa umat Nabi Muhammad tidak selalu hadir dalam bentuk fisik seperti umat terdahulu. Azab itu hadir dalam bentuk kepekakan spiritual.
Umat menjadi sulit mendengar kebenaran. Kebohongan bertebaran di tengah masyarakat. Informasi bercampur dengan manipulasi, sehingga umat tidak lagi mampu membedakan mana petunjuk yang sahih dan mana yang menyesatkan. Mereka kehilangan rujukan yang jelas untuk kembali kepada kebenaran.
Perpecahan pun muncul dalam berbagai firqah dan mazhab yang saling bertentangan. Semua ini terjadi karena sumber kebenaran telah hilang dari pusat kehidupan umat.
Azab yang dahulu ditimpakan kepada umat Nabi Saleh dalam bentuk bencana fisik, dalam konteks umat Nabi Muhammad hadir dalam bentuk lain: gempa perpecahan. Gempa ini bukan sekadar metafora.
Ia adalah guncangan ideologis yang terus berlangsung hingga hari ini. Magnitudonya tidak pernah benar-benar menurun. Getarannya terus melemahkan umat, memecah belah mereka, dan menghilangkan kekuatan yang seharusnya mereka miliki.
Padahal Al-Qur’an menyebut umat Islam sebagai “khairu ummah”—sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia. Namun realitas yang kita lihat sering kali tidak mencerminkan gambaran itu. Jumlah umat Islam sangat besar. Di banyak negeri Muslim terdapat kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Umat ini juga memiliki banyak manusia cerdas dan terdidik.
Namun anehnya, di banyak tempat justru kita menyaksikan kehinaan, konflik, dan keterbelakangan. Seolah-olah ayat yang menyebut umat ini sebagai umat terbaik tidak lagi termanifestasi dalam kenyataan sosial.
Padahal potensi yang dimiliki umat sangat besar. Di banyak negeri Muslim terdapat kekayaan alam yang luar biasa. Sumber daya manusia yang cerdas juga tidak sedikit. Tetapi potensi itu sering tidak mampu melahirkan kemajuan yang seharusnya.
Yang muncul justru perpecahan dan krisis moral. Kita sering mengklaim diri sebagai kelompok yang paling benar, paling suci, bahkan seakan-akan menjadi pemilik surga. Namun kenyataan sosial memperlihatkan sesuatu yang berbeda.
Korupsi merajalela, penyalahgunaan kekuasaan terjadi, bahkan penyimpangan moral bisa muncul di tempat-tempat yang seharusnya menjadi pusat pendidikan agama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan umat bukan sekadar persoalan identitas keagamaan. Masalah utamanya adalah krisis orientasi spiritual. Inilah yang dapat disebut sebagai gempa keyakinan—sebuah guncangan ideologis yang menimpa umat Nabi Muhammad.
Berbeda dengan umat-umat nabi terdahulu yang dihancurkan secara fisik melalui bencana besar, umat Nabi Muhammad menghadapi bentuk ujian yang lebih halus tetapi tidak kalah dahsyat.
Mukjizat para nabi terdahulu banyak bersifat fisik: laut yang terbelah, tongkat yang berubah menjadi ular, atau api yang tidak membakar. Namun mukjizat Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an, sebuah mukjizat intelektual yang menuntut manusia untuk berpikir.
Karena itu, kehancuran umat ini sering kali tidak terjadi melalui bencana fisik, tetapi melalui kebuntuan intelektual dan spiritual.
Manusia menjadi banyak, cerdas, dan berpendidikan, tetapi kehilangan kemampuan untuk berpikir secara jernih.
Ketika rujukan kebenaran tidak lagi hadir secara nyata dalam kehidupan umat, kebenaran hanya tersisa sebagai wacana. Ia tidak lagi terpersonifikasi dalam figur yang dapat menjadi teladan.
Akibatnya, manusia berbicara tentang kebenaran, tetapi tidak lagi melihatnya hidup dalam sosok manusia yang nyata.
Dan ketika kebenaran hanya tinggal wacana, umat akan kehilangan arah dalam perjalanan sejarahnya.
Karena itu, mengenang Imam Ali seharusnya tidak berhenti pada ritual kesedihan semata. Peringatan syahadah beliau harus menjadi momentum untuk merenungkan kembali arah perjalanan umat.
Apakah kita masih menjadikan kebenaran sebagai tujuan hidup, ataukah kita telah menggantinya dengan ambisi duniawi? Pertanyaan inilah yang seharusnya terus hidup dalam kesadaran umat setiap kali nama Imam Ali disebut.
Sebab kehilangan seorang tokoh besar mungkin tidak dapat kita ubah. Tetapi mengambil pelajaran dari kehidupannya adalah pilihan yang masih terbuka bagi setiap manusia. (*Pembina Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kutai Kartanegara)












