Search

Sandal Mojtaba Khamenei

Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Mujtaba Khamenei, sedang memegang sandal lusuhnya. (Media Sosial)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Sebuah foto memperlihatkan Mojtaba Khamenei berdiri di tengah orang-orang sambil memegang sepasang sandal sederhana. Gestur itu tidak menampilkan kemegahan kekuasaan. Tidak ada simbol kemewahan. Yang tampak justru benda paling biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Gambar semacam ini mengingatkan pada satu prinsip yang telah lama ditegaskan oleh Ali ibn Abi Talib dalam kumpulan khutbah yang dikenal sebagai Nahj al-Balaghah: “Allah telah mewajibkan para pemimpin yang adil untuk hidup seperti lapisan masyarakat yang lemah, agar kemiskinan tidak mendorong orang fakir kepada pemberontakan dan kegelisahan.”

Ungkapan itu bukan sekadar nasihat moral. Ungkapan itu merupakan fondasi etika kepemimpinan.

Seorang pemimpin tidak diukur dari jarak yang ia ciptakan dari rakyatnya, tetapi dari kedekatan pengalaman hidupnya dengan mereka. Kehidupan yang terlalu jauh dari keadaan rakyat menimbulkan jurang psikologis. Jurang itu melahirkan rasa terasing, lalu berubah menjadi kemarahan sosial.

Ali ibn Abi Talib menegaskan bahwa keadilan tidak berhenti pada kebijakan yang benar. Keadilan juga tampak pada cara seorang pemimpin menjalani hidupnya sendiri. Pemimpin yang hidup dalam kemewahan sementara rakyat hidup dalam kesempitan menampilkan kontradiksi moral yang sulit diterima.

Dalam kerangka pemikiran itu, kesederhanaan merupakan bagian dari tanggung jawab kepemimpinan.

Kesederhanaan menjaga empati tetap hidup. Kesederhanaan menghalangi kekuasaan berubah menjadi privilese. Kesederhanaan juga menjaga hubungan batin antara pemimpin dan masyarakatnya.

Fakta sederhana yang terlihat dalam gambar semacam ini sekaligus menyingkap betapa rapuhnya narasi fitnah dan disinformasi yang kerap dilontarkan mengenai kekayaan dan gaya hidupnya. Tuduhan yang beredar sering dibangun dari spekulasi politik dan propaganda, bukan dari realitas kehidupan yang tampak di hadapan publik.

Gambar seorang pemimpin yang memegang sandal sederhana di tengah kerumunan manusia menghadirkan pesan yang melampaui simbol itu sendiri. Pesan itu mengingatkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus tampil dengan kemegahan.

Inilah kewibawaan yang justru lahir dari kesederhanaan.

Dalam tradisi politik Islam yang dirumuskan oleh Ali ibn Abi Talib, kekuasaan yang paling kuat bukanlah kekuasaan yang meninggikan diri. Kekuasaan yang paling kuat adalah kekuasaan yang tetap dekat dengan kehidupan orang-orang yang paling lemah. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA