Search

Strategi Penargetan Pemimpin Dinilai Gagal Melemahkan Iran, Pengamat: Justru Memperkuat Perlawanan terhadap AS-Israel

Pengamat Timur Tengah, Dr. Dina Y. Sulaeman. (Dok. Berita Alternatif)

BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat Timur Tengah, Dr. Dina Y. Sulaeman, menilai bahwa strategi yang digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel dalam menargetkan para pemimpin politik dan militer Iran tidak serta-merta mampu melemahkan negara tersebut. Bahkan, dalam banyak kasus, langkah tersebut justru memperkuat daya tahan dan semangat perlawanan Iran.

Dalam penjelasannya, Dina mengungkapkan bahwa tujuan utama dari pembunuhan tokoh-tokoh kunci tersebut adalah untuk melumpuhkan struktur kepemimpinan Iran.

AS dan Israel, kata dia, menggunakan strategi yang dalam studi keamanan disebut sebagai decapitation strategy—yaitu melemahkan lawan dengan menghilangkan figur-figur kunci kepemimpinan.

“Logikanya sederhana: jika pemimpin politik dan militer dihabisi, maka sistem akan kacau, koordinasi terganggu, dan pada akhirnya negara menjadi lemah atau bahkan runtuh,” jelasnya kepada awak media Berita Alternatif pada Rabu (18/3/2026).

Namun, ia menilai pendekatan tersebut sangat “Western-centric”, karena mengasumsikan bahwa kekuatan suatu negara bertumpu pada individu, bukan pada sistem dan ideologi. “Dalam kasus Iran, asumsi ini terbukti salah,” lanjutnya.

Dina menjelaskan bahwa meskipun pembunuhan tokoh-tokoh penting dapat menimbulkan dampak jangka pendek, efeknya tidak bersifat sistemik terhadap keberlangsungan pemerintahan Iran.

“Secara jangka pendek, tentu ada dampak—baik secara psikologis maupun operasional. Tetapi dalam konteks Iran, dampaknya tidak bersifat sistemik,” ujarnya.

Dia menekankan bahwa Iran memiliki struktur kelembagaan yang kuat dan berlapis. Sistem Iran tidak hanya bertumpu pada individu, tetapi pada ideologi dan jaringan yang terinternalisasi kuat dalam masyarakat dan elite politiknya.

Menurutnya, kondisi tersebut memungkinkan Iran untuk melakukan regenerasi kepemimpinan dengan cepat.

Karena itu, lanjutnya, kehilangan tokoh tidak otomatis berarti melemahkan Iran. “Justru sering kali, sistem tersebut mampu melakukan regenerasi dengan cepat,” terangnya.

Ia menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai “kemartiran strategis” dalam konteks Iran. Kematian tokoh penting justru menjadi pemicu konsolidasi sosial dan politik.

Dalam banyak kasus sebelumnya, jelas Dina, Iran justru menunjukkan resiliensi yang tinggi setelah kehilangan tokoh-tokoh penting. Kesyahidan tokoh di Iran justru menjadi “kemartiran strategis”, kematian tokoh tidak dipersepsikan sebagai kekalahan, tetapi sebagai energi baru bagi perlawanan.

Fenomena ini, menurutnya, berakar pada tradisi keagamaan yang kuat. “Ini bukan sekadar retorika, tetapi memiliki basis kultural dan teologis yang kuat dalam tradisi Syiah—terutama dalam narasi Karbala,” bebernya.

Akibatnya, dia menerangkan, alih-alih melemah, masyarakat Iran justru lebih solid, lebih termobilisasi, dan secara mental lebih siap untuk melanjutkan perlawanan.

“Jadi, secara realistis, kemampuan Iran untuk melawan justru masih sangat signifikan,” ungkapnya.

Terkait kemungkinan munculnya tokoh-tokoh baru, ia menyebut Iran memiliki tradisi panjang dalam mencetak elite politik dan militer yang ideologis dan terdidik.

“Jadi, selalu akan muncul sosok baru yang bahkan lebih termotivasi dan memiliki legitimasi moral yang lebih kuat karena membawa ‘warisan perjuangan’ tokoh sebelumnya,” katanya.

Dalam analisisnya, Dina menilai kecil kemungkinan Iran akan menghentikan perlawanan meski kehilangan tokoh penting.

Dia menjelaskan bahwa dalam kerangka ideologis Iran, baik kemenangan maupun kematian dalam perjuangan memiliki makna yang sama.

“Dalam logika yang mereka anut: menang adalah kemenangan, sebaliknya gugur sebagai syahid juga dipandang sebagai kemenangan. Artinya, tidak ada insentif ideologis untuk berhenti,” ujarnya.

Bahkan, menurutnya, pembunuhan tokoh justru memperkuat alasan untuk melanjutkan perlawanan. “Ini yang selalu saja gagal dipahami oleh AS dan Israel,” tegasnya.

Dengan perbedaan cara pandang yang tajam antara pihak-pihak yang terlibat, ia memprediksi konflik ini tidak akan segera berakhir.

Pasalnya, kata Dina, AS dan Israel melihat konflik ini dalam kerangka militer-strategis jangka pendek. Sementara Iran melihatnya dalam kerangka perjuangan jangka panjang yang bersifat ideologis dan historis.

Dia menutup dengan peringatan bahwa perbedaan perspektif tersebut berpotensi memperluas konflik.

“Selama kedua cara pandang ini tidak bertemu, konflik cenderung tidak cepat selesai, berpotensi bereskalasi, dan bahkan bisa meluas secara regional,” tutupnya. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA