Search

Menjual Diri untuk Allah: Pelajaran dari Imam Ali

Pembina Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar, Sayyid Thoriq Assegaff. (Berita Alternatif/Ulwan Murtadho)

Oleh: Sayyid Thoriq Assegaff*

Dalam Alquran, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 207, Allah berfirman bahwa di antara manusia ada yang menjual dirinya demi mencari keridhaan-Nya.

Ayat ini dalam banyak tafsir dikaitkan dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam, ketika Ali ibn Abi Talib menggantikan posisi Nabi Muhammad di tempat tidur pada malam hijrah.

Malam itu bukan malam biasa. Di luar rumah, orang-orang Quraisy telah bersepakat untuk membunuh Nabi. Sebuah rencana yang disusun dengan matang, menunggu saat yang tepat untuk menghabisi beliau.

Dalam situasi itu, Nabi memanggil Ali dan menyampaikan bahwa Allah memerintahkan hijrah. Agar beliau dapat keluar dari rumah tanpa dicurigai, seseorang harus tetap berada di tempat tidur beliau.

Posisi itu bukan sekadar menggantikan tempat tidur; itu adalah posisi yang menempatkan seseorang di hadapan kemungkinan kematian. Namun Ali menerimanya tanpa ragu.

Ia tidak bertanya tentang keselamatan dirinya, tidak pula mempertimbangkan risiko yang akan ia hadapi. Satu-satunya pertanyaan yang ia ajukan hanyalah: apakah dengan melakukan itu agama akan tetap selamat.

Inilah cara berpikir seorang manusia yang benar-benar menjual dirinya kepada Allah. Dalam benaknya tidak ada perhitungan untung-rugi duniawi. Tidak ada kalkulasi tentang keselamatan pribadi atau keuntungan materi. Yang ada hanya satu: bagaimana Islam tetap tegak. Karena itu, Alquran mengabadikannya sebagai manusia yang menyerahkan dirinya sepenuhnya demi keridhaan Tuhan.

Sikap yang sama terlihat dalam berbagai peristiwa besar setelah wafatnya Nabi. Ketika hak kepemimpinan yang diyakini banyak orang berada di tangannya justru beralih kepada orang lain, Ali memilih diam. Bukan karena tidak mampu merebutnya kembali, tetapi karena ia melihat potensi perpecahan umat yang lebih besar.

Bahkan ketika ada tawaran untuk menggerakkan kekuatan demi merebut kembali haknya, ia menolaknya. Keselamatan agama lebih penting daripada kemenangan pribadi. Persatuan umat lebih penting daripada ambisi kekuasaan.

Di sinilah letak pelajaran besar bagi umat manusia. Para tokoh suci dalam Islam tidak dihadirkan hanya untuk dikagumi dari kejauhan. Mereka dihadirkan sebagai teladan. Banyak orang beralasan bahwa mereka tidak mungkin meniru para tokoh tersebut karena para tokoh itu maksum. Padahal kehadiran mereka justru untuk menjadi standar moral tertinggi yang bisa diikuti manusia. Manusia mungkin tidak akan mencapai kesempurnaan seperti mereka, tetapi manusia diperintahkan untuk bergerak menuju kesempurnaan itu.

Kesalahan besar manusia modern adalah merasa cukup dengan standar spiritual yang rendah. Banyak orang berkata bahwa dirinya hanyalah manusia biasa sehingga tidak perlu meneladani para tokoh suci secara serius. Cara berpikir seperti ini pada akhirnya menciptakan jarak antara manusia dan teladan yang Allah turunkan. Padahal, tujuan teladan itu adalah agar manusia mendekat, bukan menjauh.

Ironisnya, manusia justru sangat bersungguh-sungguh dalam mengejar hal-hal duniawi yang bersifat fana. Harta, kedudukan, dan kenyamanan dikejar dengan tenaga dan waktu yang luar biasa. Seolah-olah semua itu adalah sesuatu yang akan kekal.

Padahal ketika usia bertambah dan tubuh mulai melemah, manusia baru menyadari bahwa banyak dari hal yang dikejarnya tidak lagi berarti. Yang benar-benar dibutuhkan justru kedekatan dengan Allah dan nilai-nilai spiritual yang sebelumnya sering diabaikan.

Inilah paradoks kehidupan manusia. Kesempatan dunia tidak ingin dilewatkan, tetapi kesempatan akhirat sering diabaikan. Manusia takut kehilangan hal-hal yang sementara, namun dengan mudah meninggalkan hal-hal yang abadi. Padahal jalan menuju kesempurnaan spiritual terbuka bagi siapa saja yang bersedia melangkah.

Teladan Ali ibn Abi Talib menunjukkan bahwa kesempurnaan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari pengorbanan. Menjual diri kepada Allah berarti menyerahkan seluruh hidup untuk jalan-Nya: pikiran, tenaga, waktu, bahkan keselamatan diri. Jalan ini tidak selalu mudah, tetapi inilah jalan yang melahirkan manusia-manusia besar dalam sejarah.

Manusia mungkin tidak akan mencapai derajat para tokoh suci. Namun selama ia terus bergerak menuju kesempurnaan itu, ia sedang menapaki jalan yang benar. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa siapa yang mendekat kepada Allah satu langkah, Allah akan mendekatinya sepuluh langkah. Siapa yang datang berjalan, Allah akan datang kepadanya dengan berlari.

Karena itu, yang terpenting bukanlah menjadi sempurna, tetapi terus menyempurna. Terus bergerak menuju Allah, sebagaimana para teladan agung telah menunjukkan jalannya. Kesempurnaan manusia sejatinya bukan berarti kita harus menjadi sempurna terlebih dahulu untuk mengikuti teladan para insan mulia. Justru sebaliknya, teladan itu hadir agar kita bergerak menuju kesempurnaan. Kita tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi dituntut untuk terus menyempurna—terus berusaha mendekati kesempurnaan itu.

Inilah mengapa majelis-majelis zikir, majelis milad, dan berbagai peringatan spiritual terus dihidupkan. Bukan sekadar seremoni, melainkan ruang untuk mendengar, belajar, dan mengambil teladan dari manusia-manusia pilihan, dari insan-insan yang telah mencapai derajat kemuliaan. Dari merekalah kita mendapatkan uswah, mendapatkan contoh nyata tentang bagaimana manusia berjalan menuju kesempurnaan.

Perkara apakah kita akhirnya mencapai kesempurnaan atau tidak, itu sepenuhnya urusan Allah. Yang terpenting adalah adanya gerak, adanya upaya dari diri kita untuk mendekat kepada-Nya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa apabila seorang hamba datang kepada Allah satu langkah, maka Allah akan mendatanginya sepuluh langkah. Jika ia mendekat sepuluh langkah, Allah mendekatinya seratus langkah.

Bahkan jika seorang hamba datang berjalan, Allah akan datang kepadanya dengan berlari. Artinya, yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk bergerak. Yang sering menjadi masalah justru ketika manusia merasa dirinya sudah cukup. Ia merasa batasnya hanya sampai di situ, lalu berhenti berusaha.

Padahal, anehnya untuk perkara dunia yang sifatnya fana dan sementara, manusia justru berjuang dengan segala daya. Ia mengejar harta, jabatan, dan berbagai kenikmatan yang pada akhirnya akan ia tinggalkan juga. Kita bekerja keras mencari harta sepanjang hidup. Namun ketika usia mulai menua, kita mulai menyadari bahwa harta itu tidak lagi sepenting yang kita bayangkan dulu.

Ketika tubuh sakit, yang dibutuhkan bukan lagi kekayaan yang menumpuk, melainkan kehadiran orang-orang yang kita cintai dan ketenangan jiwa. Saat itulah kita sadar bahwa banyak hal yang dulu kita kejar ternyata bersifat sementara.

Ironisnya, kesempatan dunia yang sifatnya sementara sering kita kejar mati-matian, sementara kesempatan spiritual yang justru bernilai abadi sering kita abaikan. Banyak orang mengenal kebenaran, tetapi tidak mendapatkan manfaat dari kebenaran itu.

Sudah menjadi Muslim, namun tidak menampilkan nilai-nilai Islam dalam hidupnya. Sudah menjadi seorang mukmin, tetapi tidak menampakkan akhlak dan keteladanan yang seharusnya lahir dari iman itu sendiri.

Padahal untuk meraih kesempurnaan akhirat, Allah menggambarkan manusia yang benar-benar menyerahkan dirinya kepada-Nya. Mereka adalah orang-orang yang seakan menjual dirinya untuk Allah, menyerahkan seluruh hidupnya demi meraih ridha-Nya.

Namun, sering kali manusia justru berpikir sebaliknya. Ketika muda, ia merasa cukup aktif dalam urusan spiritual, lalu ketika usia bertambah ia merasa sudah saatnya beristirahat dari perjuangan itu. Padahal kenyataannya justru terbalik. Semakin tua manusia, semakin lemah tubuhnya, semakin sedikit pula kemampuan yang ia miliki untuk beramal. Maka dari itu, masa muda seharusnya menjadi masa untuk memperbanyak bekal.

Inilah yang dapat kita lihat dari teladan para tokoh besar dalam sejarah perjuangan umat. Mereka tidak berhenti berjuang meskipun usia terus berjalan. Semangat mereka justru semakin kuat, karena mereka memahami bahwa hidup ini bukan sekadar perjalanan dunia, tetapi perjalanan menuju kesempurnaan yang hakiki.

Pada peringatan syahadah Imam Ali hari ini, kita diingatkan kembali pada sosok-sosok yang menjalani hidup dengan penuh pengorbanan dan keteguhan. Dari merekalah kita belajar bahwa jalan menuju kesempurnaan bukanlah jalan yang mudah, tetapi jalan yang harus ditempuh dengan kesungguhan, kesabaran, dan pengabdian yang tulus kepada Allah.

Anda bisa membayangkan bagaimana umumnya manusia ketika memasuki usia tua. Biasanya seseorang menjadi lebih sensitif, ingin dimanja, ingin diperhatikan, dan mudah tersinggung.

Keinginan-keinginan kecil itu muncul karena jiwa manusia mulai mencari kenyamanan setelah perjalanan hidup yang panjang. Tetapi sifat seperti itu tidak kita temukan pada sosok seperti Ali bin Abi Thalib. Hal itu terjadi karena pengolahan jiwanya yang luar biasa. Setiap hari yang ada di benaknya hanyalah satu hal: bagaimana menyempurnakan diri. Bagaimana terus menyempurnakan pengabdian kepada Allah.

Pikiran seperti ini tidak menyisakan ruang bagi ego untuk meminta perhatian atau mencari pengakuan. Bahkan dalam kehidupan keluarganya sekalipun, ia tidak sibuk menuntut untuk diperhatikan, melainkan justru memperhatikan segala sesuatu secara rinci dan penuh tanggung jawab.

Dalam berbagai riwayat dan penjelasan para ulama, kita melihat bagaimana kualitas jiwa seperti ini membentuk keberanian dan keteguhan yang luar biasa.

Dikisahkan ketika situasi perang dan ancaman pembunuhan atasnya begitu santer, para penasehat dan pengawal Sayyid Ali Khamenei meminta beliau berkenan dievakuasi ke tempat perlindungan yang aman. Namun jawabannya justru mencerminkan jiwa yang telah melampaui kepentingan pribadi: bagaimana mungkin ia meninggalkan rakyatnya jika jutaan orang yang dipimpinnya tidak memiliki tempat untuk berlindung.

Di situlah letak hakikat gerakan menuju kesempurnaan itu—sebuah harakah yang membuat manusia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Ia bergerak menuju langit, menuju nilai-nilai yang lebih tinggi. Kakinya masih menapak di bumi, tetapi orientasi hidupnya tidak lagi terikat oleh kepentingan duniawi.

Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari kita sering beragama dengan cara yang sangat berbeda. Kita menjalankan agama sambil tetap menimbang ego kita sendiri.

Kita mempertimbangkan bagaimana pandangan orang lain terhadap kita, bagaimana perlakuan orang lain kepada kita, bahkan kadang kita baru mau melakukan sesuatu untuk agama setelah melihat apakah orang lain melakukannya atau tidak. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa manusia masih tersandera oleh keinginan-keinginan dirinya sendiri.

Padahal, tokoh yang kita kenang hari ini, Ali bin Abi Thalib, memandang dunia dengan cara yang sangat berbeda. Dalam salah satu ungkapannya yang terkenal, beliau menyatakan bahwa dunia ini tidak lebih berharga daripada air liur seekor unta yang menyembur.

Ungkapan itu bukan sekadar metafora yang keras, tetapi sebuah cara untuk menggambarkan betapa kecilnya nilai dunia dibandingkan dengan nilai kebenaran dan pengabdian kepada Allah.

Karena itulah peringatan syahadah beliau selalu mengingatkan kita pada satu hal: dunia membutuhkan teladan manusia seperti itu. Bumi ini seakan memerlukan prototipe manusia sempurna—manusia yang hidup bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi untuk menegakkan keadilan, kebenaran, dan pengabdian kepada Tuhan.

Dan melalui risalah yang dibawa oleh Muhammad, umat manusia diberi anugerah besar berupa teladan-teladan agung seperti ini. Teladan yang tidak hanya mengajarkan bagaimana beribadah, tetapi juga bagaimana menjalani kehidupan dengan keberanian, keikhlasan, dan kesempurnaan jiwa. (*Pembina Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA