Search

Dari Kampung ke Parlemen: Jejak Muhammad Idham Meniti Jalan Politik

Anggota DPRD Kukar, Muhammad Idham. (Dok. Berita Alternatif)

BERITAALTERNATIF.COM — Perjalanan hidup seseorang tokoh sering kali tidak lahir dari ruang-ruang besar, melainkan dari kampung-kampung sederhana.

Hal itu tercermin dalam sosok Muhammad Idham, wajah baru yang saat ini merasakan hangatnya kursi anggota DPRD Kutai Kartanegara dari Dapil II.

Idham bisa dibilang merupakan tokoh masyarakat yang memulai langkahnya dari desa hingga akhirnya duduk di kursi legislatif.

Dia lahir di Tanjung Harapan pada 3 Januari 1981. Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan desa dengan kehidupan yang sederhana.

Ia mengenyam pendidikan dasar di SD 009 Sanggulan selama enam tahun, sebuah fase yang menjadi pondasi awal perjalanan hidupnya.

Idham merupakan anak dari almarhum Haji Jambri, seorang tokoh yang cukup dikenal di lingkungan Sanggulan dan Tanjung Harapan. Nilai-nilai yang diwariskan dari keluarga, khususnya dari sosok ayahnya, menjadi bagian penting dalam membentuk karakternya sejak dini.

“Bapak saya almarhum Haji Jambri. Beliau tokoh di situ, di Sanggulan, Tanjung Harapan,” ungkapnya kepada awak media Berita Alternatif di Kantor DPRD Kukar pada Rabu (26/3/2026).

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, dia dihadapkan pada pilihan yang cukup menentukan. Di tengah dorongan dari guru-gurunya untuk melanjutkan ke sekolah umum, ia justru memilih jalan berbeda dengan masuk ke pondok pesantren.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Idham melihat pesantren sebagai ruang pembentukan kemandirian dan karakter.

“Guru-guru waktu itu menyarankan ke SMP umum, tapi saya lebih tertarik masuk pondok, karena ingin mandiri,” ujarnya.

Dia kemudian melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Ribathul Khail (PPKP) Tenggarong, dan menghabiskan waktu selama enam tahun di sana, mulai dari tingkat Tsanawiyah hingga Aliyah.

Awal masuk pesantren bukanlah hal yang mudah. Ia mengakui sempat mengalami fase sulit dalam beradaptasi. Namun, ketahanan menjadi kunci hingga akhirnya mampu bertahan dan menyelesaikan pendidikan.

“Awal-awal masuk pondok itu memang berat, tapi alhamdulillah saya bisa bertahan sampai enam tahun,” katanya.

Benih Kepemimpinan sejak Dini

Di lingkungan pesantren, Idham tidak hanya menempuh pendidikan formal, tetapi juga mulai menunjukkan minat kuat dalam organisasi.

Ketertarikannya terhadap dunia organisasi sudah terlihat sejak remaja. Ia aktif dalam organisasi siswa dan mulai terlibat sebagai pengurus sejak tingkat Tsanawiyah.

Puncaknya, dia dipercaya menjadi Ketua OSIS saat berada di tingkat Aliyah.

“Saya memang hobi berorganisasi. Dari kelas dua Tsanawiyah sudah masuk pengurus, dan waktu di Madrasah Aliyah kelas dua saya jadi ketua OSIS,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi titik awal pembentukan mental kepemimpinan yang kelak berpengaruh besar dalam perjalanan kariernya, termasuk di dunia politik.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, ia sempat melanjutkan ke perguruan tinggi di Universitas Mulawarman. Namun, perjalanan akademiknya sempat terhenti karena berbagai kendala.

Idham kemudian memilih untuk kembali ke kampung dan memulai usaha secara mandiri. Pada tahun 2000, dia merintis usaha televisi kabel di wilayah Sanggulan.

“Saya sempat usaha TV kabel di Sanggulan sekitar tahun 2000 sampai 2002,” tuturnya.

Meski usaha tersebut mengalami pasang surut, pengalaman itu menjadi bagian penting dalam membentuk mental kewirausahaan dan ketahanan menghadapi kegagalan.

Dia juga memperluas usaha ke wilayah Selerong, sekaligus mulai aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi di tingkat desa.

Mengabdi dari Bawah

Anggota DPRD Kukar Muhammad Idham bersama masyarakat Kukar. (Ada Kaltim)

Setelah melewati fase usaha dan pencarian arah hidup, Idham mulai menapaki jalan pengabdian yang lebih dekat dengan masyarakat. Dia terjun langsung ke dunia pendidikan, menjadi tenaga pengajar di SD 016 Ngadang.

Di sekolah tersebut, dia tidak hanya mengajar, tetapi juga mengisi kekosongan di berbagai mata pelajaran, khususnya matematika—bidang yang kerap dihindari oleh banyak tenaga pengajar.

“Awalnya saya ngajar matematika, karena banyak yang menyerah di situ. Kalau guru lain kosong, saya juga ikut ngisi pelajaran lain,” ungkapnya.

Namun perannya tidak berhenti sebagai pengajar. Seiring perkembangan kebutuhan administrasi sekolah berbasis teknologi, ia kemudian dipercaya menjadi operator sekolah, sebuah posisi yang bertanggung jawab atas pengelolaan seluruh data administrasi pendidikan.

Peran ini justru menjadi titik penting dalam membangun kapasitasnya. Idham terbiasa mengelola data siswa, pembaruan sistem, hingga memastikan seluruh administrasi berjalan dengan baik.

“Data siswa, yang masuk, yang keluar, semua saya yang pegang. Setiap pembaruan data, saya yang urus,” jelasnya.

Posisi tersebut dijalaninya dalam waktu yang cukup panjang, bahkan hingga menjelang dirinya terpilih sebagai anggota DPRD Kukar pada 2024.

Selain di dunia pendidikan, dia juga aktif dalam organisasi sosial di tingkat desa.

Ia pernah menjadi pengurus Karang Taruna di Selerong, memperkuat keterlibatannya dalam aktivitas kepemudaan dan sosial kemasyarakatan.

Kehadirannya di tengah masyarakat bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan warga sehari-hari.

Idham terlibat dalam berbagai kegiatan, membangun relasi, serta memahami persoalan riil yang dihadapi masyarakat desa.

Aktivitas inilah yang secara perlahan membentuk basis sosialnya, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap dirinya.

Gagal di Awal, Tidak Berhenti Berjuang

Langkah awal Idham di dunia politik dimulai dari level paling dekat dengan masyarakat, yakni mencalonkan diri sebagai kepala desa di Sanggulan pada tahun 2009.

Namun, langkah tersebut belum membuahkan hasil. Dia harus menerima kekalahan dengan selisih suara yang sangat tipis. “Selisihnya cuma 56 suara dengan yang terpilih,” kenangnya.

Kekalahan tersebut tidak membuatnya mundur. Hal itu justru menjadi pengalaman berharga untuk memahami dinamika politik di tingkat akar rumput, sekaligus memperkuat mentalnya dalam menghadapi kontestasi.

Di waktu yang sama, ia tetap menjalankan perannya sebagai guru dan operator sekolah, menjaga kedekatan dengan masyarakat melalui jalur pengabdian, bukan sekadar ambisi politik.

Melanjutkan Pendidikan di Tengah Kesibukan

Di tengah aktivitasnya sebagai pengajar dan pengabdi masyarakat, Idham tidak melupakan pentingnya pendidikan formal. Dia kemudian melanjutkan studi ke Universitas Terbuka (UT) dengan mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

Menjalani kuliah sambil bekerja bukan perkara mudah. Dia harus membagi waktu antara mengajar di sekolah dan mengikuti perkuliahan yang berlangsung pada akhir pekan.

“Saya kuliah Sabtu sore sampai Minggu. Senin sampai Sabtu pagi tetap mengajar,” ujarnya.

Dengan disiplin dan komitmen tinggi, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu lima tahun dan meraih gelar sarjana pendidikan pada tahun 2010.

Baginya, pendidikan bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari tanggung jawab pribadi untuk terus berkembang.

“Kalau ada nilai kurang, saya langsung cari dosennya, minta perbaikan. Pokoknya harus selesai,” tegasnya.

Menemukan Jalan Politik

Ketertarikan Idham di dunia politik sebenarnya sudah tumbuh sejak lama, seiring dengan kegemarannya berorganisasi. Namun, langkah awalnya di dunia partai tidak langsung menemukan tempat yang tepat.

Pada tahun 2004, dia sempat bergabung dengan Partai Bintang Reformasi (PBR). Saat itu, ia sebenarnya sedang mencari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tetapi belum menemukan akses atau jaringan yang membawanya ke sana. “Akhirnya masuk PBR dulu,” tuturnya.

Barulah pada tahun 2005, Idham mulai mengenal lebih dekat PKS melalui sosok Saiful Aduar, seorang anggota DPRD dari partai tersebut.

Pertemuan ini menjadi titik awal perpindahannya ke PKS, yang kemudian menjadi kendaraan politiknya hingga saat ini.

Dua Kali Gagal, Mental Tidak Goyah

Perjalanan politik Idham tidak langsung mulus. Dia harus melewati dua kali kegagalan dalam kontestasi pemilihan legislatif sebelum akhirnya berhasil.

Pada tahun 2014, ia pertama kali maju sebagai calon legislatif. Dalam kontestasi tersebut, Idham memperoleh 666 suara—angka yang belum cukup untuk mengantarkannya ke kursi DPRD.

Lima tahun kemudian, pada 2019, dia kembali mencoba. Namun hasilnya masih belum berpihak kepadanya. Kursi legislatif dari partainya kembali diraih oleh kandidat lain.

Meski demikian, kegagalan berulang tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia justru menjadikannya sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran.

“Walaupun gagal terus dua kali, saya tetap siap. Yang penting kita berusaha dulu,” ujarnya.

Dari dua kegagalan itu, Idham mulai memahami pola kontestasi, membaca kekuatan lawan, serta memperbaiki strategi politiknya.

Memasuki Pemilu 2024, dia tampil dengan pendekatan yang jauh lebih matang. Ia bersama timnya menyusun strategi berbasis pengalaman sebelumnya, sekaligus memperkuat basis dukungan di wilayah yang selama ini menjadi tempat pengabdiannya.

Tiga desa menjadi titik utama basis suaranya: Sanggulan, Senoni, dan Selerong. Idham menyadari bahwa kekuatan utamanya bukan pada modal besar, melainkan pada kedekatan emosional dan rekam jejak pengabdian di tengah masyarakat.

Target pun dipasang secara realistis namun terukur. “Target kami waktu itu 2.000 suara. Kalau tembus itu, insyaallah bisa jadi,” jelasnya.

Hasilnya, strategi tersebut membuahkan hasil. Ia berhasil meraih 2.092 suara, melampaui target yang telah ditetapkan sekaligus menjadi peraih suara terbanyak di antara calon dari partainya.

Capaian ini menjadi bukti bahwa kerja panjang dan konsistensi akhirnya membuahkan hasil.

Modal Sosial Mengalahkan Politik Uang

Dalam kontestasi politik yang kerap diwarnai praktik politik uang, Idham justru mengandalkan pendekatan berbeda. Dia membangun kepercayaan masyarakat melalui pengabdian nyata, jauh sebelum masa kampanye dimulai.

Selama bertahun-tahun, ia aktif membantu masyarakat dalam berbagai hal, mulai dari mengurus beasiswa, memberikan informasi bantuan pemerintah, hingga mendampingi proses administrasi warga.

“Kalau ada beasiswa, saya yang urus. Berkasnya saya yang bawa. Ada bantuan UMKM, saya kasih info ke masyarakat,” ungkapnya.

Peran tersebut membuat masyarakat mengenalnya bukan sebagai calon yang datang saat pemilu, tetapi sebagai sosok yang sudah lama hadir dan membantu.

Bahkan di bidang keagamaan, ia juga aktif mengisi khutbah Jumat di berbagai desa, memperkuat posisinya sebagai tokoh yang tidak hanya hadir secara sosial, tetapi juga spiritual.

“Setiap kegiatan agama, kita ikut bantu. Kalau perlu, saya juga ngisi khutbah,” katanya.

Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi kekuatan utama, mengalahkan pengaruh kandidat lain yang mungkin memiliki modal finansial lebih besar.

Salah satu faktor penting yang mendorong kemenangan Idham adalah keinginan masyarakat untuk memiliki representasi dari wilayah mereka sendiri.

Selama ini, daerah seperti Sanggulan dan sekitarnya belum memiliki perwakilan di DPRD Kukar. Kehadiran Idham menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk memiliki suara langsung di tingkat legislatif.

“Selama ini belum ada wakil dari daerah kami. Jadi masyarakat ingin ada perwakilan sendiri,” jelasnya.

Dengan latar belakang sebagai putra daerah yang tumbuh, besar, dan mengabdi di wilayah tersebut, dia menjadi simbol representasi yang dinantikan.

Fokus Kerja di Parlemen

Setelah berhasil menembus kursi legislatif, Idham kini mengemban amanah sebagai anggota DPRD Kukar yang duduk di Komisi IV, komisi yang membidangi sektor pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Posisi tersebut bukan sekadar capaian politik, melainkan ruang untuk melanjutkan pengabdiannya dalam skala yang lebih luas.

Salah satu fokus utama yang menjadi perhatiannya adalah kondisi infrastruktur pendidikan, khususnya sekolah-sekolah di wilayah pedesaan yang masih memerlukan banyak perbaikan.

“Harapan saya, ke depan jangan ada lagi sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Banyak sekolah lama yang perlu diperbaiki,” ujarnya.

Dalam masa awal jabatannya, dia mengaku telah mulai mendorong perbaikan di sejumlah sekolah, mulai dari pembangunan fisik hingga fasilitas dasar seperti sanitasi.

“Sudah ada beberapa sekolah yang bisa kita bantu, baik bangunan maupun fasilitas seperti WC,” katanya.

Anggota DPRD Kukar Muhammad Idham menyerap aspirasi masyarakat Kukar. (Kutai Raya)

Selain pendidikan, Idham memberi perhatian besar pada sektor ekonomi masyarakat, khususnya penguatan usaha berbasis desa.

Dia terlibat dalam pengembangan program perikanan melalui keramba di wilayah Sanggulan dan Selerong. Program tersebut kini mulai menunjukkan hasil, dengan panen yang sudah dirasakan oleh masyarakat setempat.

“Alhamdulillah keramba di Sanggulan dan Selerong sudah panen. Ini jadi harapan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Di sektor pertanian, ia juga mendorong bantuan alat pertanian bagi kelompok tani, sebagai upaya meningkatkan produktivitas hasil panen, khususnya komoditas unggulan seperti padi. Baginya, pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi bagaimana masyarakat bisa mandiri secara ekonomi.

Sebagai wakil rakyat, Idham memposisikan dirinya bukan hanya sebagai pengambil kebijakan, tetapi juga sebagai penghubung antara masyarakat dan pemerintah.

Dia ingin memastikan bahwa kebutuhan dan aspirasi masyarakat di daerah pemilihannya dapat tersampaikan dan diperjuangkan secara konkret di parlemen.

Pendekatan yang dibangunnya pun tidak jauh berbeda dengan sebelum ia terpilih—tetap dekat, komunikatif, dan responsif terhadap kebutuhan warga.

“Yang penting kita tetap bersama masyarakat. Apa yang jadi kebutuhan mereka, itu yang kita perjuangkan,” ungkapnya.

Bagi Idham, keberhasilannya menjadi anggota DPRD bukanlah titik akhir dari perjalanan panjang yang ditempuhnya. Justru, ini menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Perjalanan dari kampung ke parlemen telah dilewatinya dengan berbagai dinamika dari keterbatasan, kegagalan, hingga akhirnya meraih kepercayaan masyarakat.

Kini, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga kepercayaan tersebut dengan kerja nyata dan keberpihakan yang konsisten.

Perjalanan hidupnya menjadi cerminan bahwa politik tidak selalu dibangun dari kekuatan modal, tetapi juga dari ketekunan, kedekatan, dan komitmen terhadap pengabdian.

Dari desa sederhana di Tanjung Harapan, Idham membuktikan bahwa langkah kecil yang dijalani dengan kesabaran dapat mengantarkan seseorang pada peran yang lebih besar.

Namun bagi dirinya, kursi legislatif bukanlah puncak, melainkan titik awal untuk terus memperjuangkan aspirasi masyarakat yang telah membersamainya hingga hari ini. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA