Search

Trump: Paradoks Kombinasi Pedofilia, Skandal Elite, dan Doktrin Evangelis

Sejumlah pendeta membacakan doa untuk Preside AS, Donald Trump. (Mina News)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Bagaimana seorang presiden dapat berdiri di puncak negara yang mengaku sekuler, modern, bahkan postmodern, sementara di sekelilingnya orang-orang berdoa seperti sedang menobatkan tokoh dalam legenda religius? Fenomena Donald Trump bukan sekadar anomali pribadi. Ia adalah gejala paling telanjang dari kontradiksi yang sudah lama menggerogoti politik Amerika: perpaduan antara mitologi religius kuno dengan mesin kekuasaan modern yang sangat sekuler.

Trump tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari atmosfer ideologis yang telah berakar sejak pendirian republik. Di balik fasad rasionalitas konstitusi dan pemisahan gereja-negara (First Amendment), hidup mitologi nasional yang jauh lebih tua: keyakinan bahwa Amerika adalah “bangsa pilihan” (chosen nation) dengan misi ilahi.

Tradisi ini berasal dari Puritan abad ke-17 yang menyebut Amerika sebagai “kota di atas bukit” (city upon a hill)—sebuah konsep yang terus dihidupkan kembali oleh setiap presiden, dari Reagan hingga Trump. Dalam imajinasi ini, sejarah bukan hanya soal diplomasi dan GDP, melainkan panggung drama kosmik di mana Amerika memainkan peran utama.

Di sinilah kalangan evangelikal Amerika—yang kini mencapai sekitar 25% populasi dewasa dan memberikan dukungan hingga 80% kepada Trump dalam beberapa siklus pemilu—membaca politik bukan sebagai manajemen negara biasa, melainkan sebagai pemenuhan nubuat. Mereka tidak menilai Trump dari moral pribadinya (tiga kali menikah, rekaman Access Hollywood, gaya hidup mewah). Mereka melihatnya sebagai “vessel yang cacat” (flawed vessel) atau bahkan “Cyrus modern”—merujuk pada Cyrus Agung dalam Alkitab yang bukan orang Yahudi tapi dipakai Tuhan untuk memulihkan Israel. Tokoh seperti Lance Wallnau, Paula White, dan Jerry Falwell Jr. secara terbuka mempromosikan narasi ini. Bagi mereka, Trump bukan santo; ia adalah alat Tuhan untuk melindungi nilai-nilai Kristen dari “ancaman sekuler, Islam radikal, dan liberalisme”.

Paradoks ini semakin dramatis dalam ritual-ritual yang hampir teatrikal. Pada 2016 di Trump Tower, dan berulang kali di masa jabatannya, sekelompok pendeta evangelikal berkumpul, meletakkan tangan di pundak Trump, dan berdoa dengan Allah bahasa nubuat: “Tuhan telah memanggilmu untuk zaman ini”, “Kamu adalah Cyrus bagi bangsa ini”. Video-video tersebut beredar luas di kalangan pendukungnya. Bahasa yang digunakan bukan politik konvensional, melainkan bahasa eskatologi: akhir zaman, pertempuran rohani, dan pemulihan “peradaban Kristen”. Negara yang mengajarkan sekularisme kepada dunia justru memperlihatkan adegan yang mirip penobatan raja dalam tradisi kuno.

Namun paradoks ini tidak lengkap tanpa unsur Zionisme Kristen (Christian Zionism). Pada awalnya, Zionisme Theodor Herzl (1896) adalah proyek sekuler murni: solusi nasionalisme bagi bangsa Yahudi yang terusir. Tapi di Amerika, Zionisme bertemu dengan teologi dispensasionalis yang populer sejak John Nelson Darby (abad ke-19) dan Alkitab Scofield. Dalam teologi ini, pembentukan negara Israel tahun 1948 dan penguasaan Yerusalem adalah “jam Tuhan” yang menandai kedatangan Kristus kedua. Dukungan terhadap Israel bukan lagi soal geopolitik semata, melainkan kewajiban teologis. Hasilnya: aliansi kuat antara evangelikal Amerika dan pemerintah Israel.

Kebijakan Trump menjadi contoh paling gamblang. Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel (2017) dan pemindahan kedutaan AS (2018) disambut kalangan evangelikal sebagai “pemenuhan nubuat”, bukan sekadar langkah diplomatik. Mike Pence, Mike Pompeo, dan kemudian tokoh seperti Mike Huckabee atau Pete Hegseth di lingkaran Trump kedua, berbicara dengan bahasa yang sama: “Israel adalah tanah yang dijanjikan”. Bagi analis geopolitik, ini strategi containment Iran dan proyek kekuasaan regional. Bagi pendukung religius, ini bagian dari rencana ilahi. Dua bahasa yang sama sekali berbeda untuk satu kebijakan.

Di sinilah ironi paling tajam muncul. Di satu sisi, retorika moral dan kesucian menggema keras: perang melawan “woke culture”, perlindungan keluarga tradisional, dan perjuangan rohani. Di sisi lain, lingkaran kekuasaan elite Amerika—termasuk yang dekat dengan Trump—kerap terseret skandal serius tentang penyimpangan moral, termasuk jaringan eksploitasi seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Kasus Jeffrey Epstein menjadi simbol paling mencolok. Epstein, yang pernah berteman dekat dengan Trump di era 1980-2000an (Trump pernah memujinya sebagai “terry baik” yang suka perempuan muda), memiliki jaringan yang menyeret nama-nama elite lintas partai: politisi, miliarder, bahkan kalangan kerajaan. Dokumen pengadilan Epstein yang dirilis secara bertahap menunjukkan betapa jaringan ini merambah pusat kekuasaan.

Trump sendiri memutus hubungan dan melarang Epstein masuk Mar-a-Lago sekitar 2004-2007 setelah dugaan insiden dengan gadis di bawah umur di sana. Namun fakta bahwa nama Trump muncul dalam flight logs dan dokumen (meski mayoritas konteks sosial, tanpa bukti langsung keterlibatan seksual dengan minor) memperlihatkan betapa tipis batas antara elite “saleh” dan dunia gelap yang mereka kecam.

Gugatan serupa pernah muncul pada 2016 (kasus Katie Johnson) yang kemudian dicabut tanpa bukti kuat, serta berbagai rumor yang beredar di kalangan konspirasi.

Yang penting bukan membuktikan atau membantah setiap laporan terhadap satu individu, melainkan melihat pola yang lebih besar: retorika religius yang sangat keras sering berfungsi sebagai selimut moral bagi struktur kekuasaan yang sama sekali tidak suci. Agama dijadikan bahasa legitimasi, sementara praktik kekuasaan mengikuti logika lain—uang, pengaruh, dan jaringan yang melampaui ideologi.

Trump tidak menciptakan paradoks ini. Ia hanya membuang topengnya. Ia membuat terlihat jelas apa yang selama ini disembunyikan di balik bahasa diplomasi dan kesopanan politik: bahwa rasionalitas modern Amerika masih hidup berdampingan dengan mitologi kuno tentang bangsa pilihan, tanah yang dijanjikan, dan pemimpin yang “dipanggil Tuhan”. Politik berbicara strategi; imajinasi publik membacanya sebagai nubuat. Sekularisme diucapkan; ritual religius dipraktikkan di pusat kekuasaan.

Pada akhirnya, fenomena Trump adalah cermin. Ia menunjukkan bahwa di balik klaim sekularisme, modernitas, dan postmodernitas, masih hidup keyakinan bahwa sejarah memiliki skenario sakral—sebuah panggung tempat doktrin evangelis, dukungan Zionis, kekuasaan geopolitik, skandal elite, dan retorika moral dapat berdiri berdampingan tanpa rasa malu. Paradoks ini bukan milik Trump seorang. Ia adalah paradoks Amerika itu sendiri—dan mungkin, paradoks setiap kekuasaan yang mengklaim dirinya “pilihan”. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA