Search

Jalan Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Penulis. (Istimewa)

Oleh: Muh. Al Aswar Rusman*

Indonesia, negara dengan kekayaan alam yang melimpah, seharusnya menjadi salah satu negara yang dapat menjamin ketahanan pangan dengan baik. Namun, sektor pertanian yang telah menjadi tulang punggung ekonomi bangsa kini berada pada persimpangan jalan. Pada tahun 2025, sektor pertanian Indonesia menghadapi tantangan besar yang mengancam ketahanan pangan nasional. Di tengah potensi besar yang dimilikinya, sektor ini juga berhadapan dengan sejumlah persoalan yang perlu segera diselesaikan agar Indonesia bisa mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan. Dalam menghadapi masa depan, sektor pertanian harus bertransformasi agar tetap relevan dan mampu memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat Indonesia.

Pertanian Indonesia, yang selama ini masih menyerap sekitar 30% angkatan kerja Indonesia, tercatat berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 12,66% pada 2025. Meskipun kontribusinya sedikit turun, sektor pertanian tetap menjadi sumber utama kehidupan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di pedesaan. Pertanian juga menjadi sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Indonesia, bahkan lebih besar dibandingkan dengan sektor manufaktur dan jasa. Meskipun peranannya sangat besar, sektor pertanian Indonesia kini menghadapi banyak tantangan, baik yang bersifat struktural maupun yang terkait dengan perubahan global yang sangat dinamis.

Pada 2025, masalah pertama yang harus dihadapi sektor pertanian adalah ketergantungan pada cara bertani konvensional yang sudah tidak lagi efisien dan tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Pertanian konvensional yang masih banyak diterapkan di Indonesia sering kali mengandalkan tenaga kerja manual dan metode yang tidak didukung oleh teknologi modern. Meskipun pertanian tradisional telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia, kenyataannya cara bertani ini mulai tergerus oleh zaman. Banyak petani yang terjebak dalam cara bertani yang tidak produktif, kurang ramah lingkungan, dan tidak dapat memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang. Sebagai contoh, produk pertanian seperti padi, jagung, dan kedelai yang merupakan komoditas utama Indonesia, mengalami penurunan produktivitas jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang telah lebih maju dalam teknologi pertanian.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Indonesia, meskipun ada beberapa upaya untuk memperkenalkan benih unggul dan teknologi pertanian modern, adopsinya masih terbatas. Sekitar 70% petani Indonesia masih bergantung pada cara bertani tradisional yang tidak efisien. Hal ini semakin memperburuk keadaan karena sektor pertanian Indonesia harus bersaing dengan negara-negara lain yang lebih maju dalam hal teknologi pertanian. Meskipun teknologi seperti drone untuk pemantauan tanaman dan sistem irigasi otomatis dapat meningkatkan hasil pertanian secara signifikan, implementasinya masih sangat rendah di kalangan petani. Tanpa ada peningkatan pemahaman dan pelatihan tentang penggunaan teknologi ini, sektor pertanian Indonesia akan terus tertinggal.

Tantangan lainnya adalah perubahan iklim yang semakin nyata dampaknya. Tahun 2025 membawa banyak harapan, namun perubahan iklim menjadi ancaman besar yang terus menghantui sektor pertanian Indonesia. Fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan panjang pada tahun 2023 dan La Nina yang menyebabkan curah hujan yang tidak merata pada 2024, memperburuk ketidakpastian dalam produksi pangan. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia diperkirakan akan menghadapi cuaca ekstrem pada tahun 2025, yang berpotensi menyebabkan kerugian besar bagi sektor pertanian. Beberapa daerah yang bergantung pada pertanian padi dan hortikultura telah merasakan dampak negatif dari perubahan iklim, di mana pola musim yang tidak menentu menyebabkan gagal panen dan penurunan hasil pertanian. Meskipun pemerintah telah berupaya mengimplementasikan kebijakan adaptasi perubahan iklim, dampaknya masih belum optimal untuk menjaga stabilitas produksi pertanian.

Selain perubahan iklim, masalah alih fungsi lahan pertanian juga menjadi salah satu isu besar yang harus dihadapi. Seiring pertumbuhan urbanisasi dan industrialisasi, lahan pertanian yang luas di Indonesia semakin tergerus. Pada 2025, data dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menunjukkan bahwa lebih dari 500 ribu hektare lahan pertanian beralih fungsi setiap tahun untuk pembangunan infrastruktur dan perumahan. Alih fungsi lahan ini tidak hanya menyebabkan lahan untuk produksi pangan berkurang, tetapi juga mengancam keberlanjutan ketahanan pangan di masa depan. Salah satu contoh nyata adalah di Jawa dan Sumatera, dua pulau utama yang menjadi lumbung pangan nasional, di mana banyak lahan pertanian subur telah beralih fungsi menjadi lahan untuk pembangunan jalan tol, perumahan, dan pabrik.

Untuk itu, penting bagi pemerintah untuk memiliki kebijakan yang lebih tegas dalam melindungi lahan pertanian dan mengurangi konversi lahan yang tidak terkendali. Kebijakan perlindungan terhadap lahan pertanian yang produktif harus menjadi prioritas agar sektor pertanian Indonesia bisa terus berkembang dan memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Selain itu, pemerintah harus memberikan insentif kepada petani agar tetap mempertahankan dan mengelola lahan pertanian mereka dengan cara berkelanjutan. Perlindungan terhadap lahan pertanian harus dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan keberlanjutan sektor pertanian.

Selain itu, sektor pertanian harus menghadapi masalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah di bidang pertanian. Meskipun sektor ini menyerap banyak tenaga kerja, sebagian besar petani Indonesia masih terbilang kurang terdidik dan tidak memiliki keterampilan untuk mengelola pertanian secara modern dan efisien. Pada tahun 2025, pendidikan pertanian masih sangat terbatas di banyak daerah, dan tidak banyak yang tertarik untuk berkarir sebagai petani atau ahli pertanian. Hal ini semakin memperburuk keadaan karena minim tenaga kerja terampil yang dapat memanfaatkan teknologi dan inovasi di sektor pertanian.

Meningkatkan kualitas SDM di sektor pertanian adalah langkah penting untuk mencapai ketahanan pangan berkelanjutan. Pemerintah perlu melakukan reformasi sistem pendidikan pertanian dan meningkatkan akses pendidikan bagi petani, terutama di daerah-daerah pedesaan. Program pelatihan yang berbasis pada keterampilan dan teknologi harus diperkenalkan kepada petani agar mereka bisa memanfaatkan kemajuan teknologi. Selain itu, penting untuk menarik generasi muda supaya tertarik untuk terjun ke sektor pertanian, baik sebagai petani atau profesional di bidang pertanian yang lebih modern dan berbasis teknologi.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut, ada sejumlah peluang besar yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah serta menciptakan sektor pertanian yang lebih berkelanjutan. Salah satu peluang terbesar adalah memanfaatkan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Penggunaan teknologi seperti drone untuk pemantauan lahan, sensor untuk mengukur kelembaban tanah, dan sistem irigasi otomatis dapat membantu petani mengelola sumber daya secara lebih efisien. Pemerintah juga harus lebih agresif dalam mendorong adopsi teknologi ini dengan memberikan insentif bagi petani yang mengadopsi teknologi pertanian modern.

Selain itu, sektor pertanian bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui diversifikasi produk pertanian. Mengembangkan produk pertanian yang bernilai tambah, seperti produk olahan makanan dari hasil pertanian, dapat membantu petani meningkatkan pendapatan mereka. Pemerintah dan sektor swasta dapat bekerja sama untuk menciptakan pasar baru untuk produk pertanian yang lebih bernilai tinggi. Dengan membuka akses pasar global, produk pertanian Indonesia dapat dikenal lebih luas dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.

Inovasi dalam sistem distribusi pangan juga perlu dilakukan untuk meningkatkan ketahanan pangan. Salah satu tantangan besar di sektor pertanian adalah distribusi pangan yang tidak merata, yang menyebabkan kekurangan pasokan pangan di beberapa daerah dan kelebihan pasokan di daerah lain. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperbaiki infrastruktur distribusi pangan, memperkenalkan sistem logistik yang lebih efisien, serta memperkuat sistem pangan lokal agar ketahanan pangan bisa terjaga dengan lebih baik.

Peluang besar lain adalah mengembangkan pertanian berbasis ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan semakin meningkatnya kesadaran tentang keberlanjutan, pertanian yang ramah lingkungan dan berbasis pada prinsip-prinsip ekonomi hijau menjadi pilihan yang tepat untuk masa depan. Pertanian organik dan pertanian berkelanjutan bisa menjadi alternatif yang menguntungkan, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Pemerintah dan lembaga terkait perlu memberikan dukungan penuh kepada petani yang beralih ke sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan, termasuk memberikan insentif dan akses pasar bagi produk pertanian yang berkelanjutan.

Kesimpulannya, sektor pertanian Indonesia pada tahun 2025 harus menghadapi berbagai tantangan besar, tetapi juga memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berkembang. Ketahanan pangan yang berkelanjutan dapat tercapai jika kita mampu mengatasi tantangan-tantangan tersebut melalui kebijakan yang tepat, peningkatan kualitas SDM, adopsi teknologi modern, dan perlindungan terhadap lahan pertanian. Sektor pertanian yang modern dan berkelanjutan akan menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia di masa depan, serta menciptakan peluang ekonomi yang lebih besar bagi petani dan masyarakat Indonesia. Dengan langkah-langkah strategis ini, Indonesia dapat menjadi negara yang tidak hanya mandiri pangan, tetapi juga mampu menembus pasar global dengan produk pertanian yang berkualitas tinggi. (*Pengamat pertanian Indonesia)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA