BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat Timur Tengah Ismail Amin Pasannai menilai bahwa pengembangan teknologi nuklir oleh Iran selama ini sering disalahpahami dan dijadikan alat tekanan oleh negara-negara besar dunia.
Dalam pandangannya, sikap Iran yang gigih mengembangkan nuklir bukan didorong oleh ambisi untuk membuat senjata pemusnah massal, tetapi oleh kebutuhan strategis, ilmiah, dan simbol kedaulatan nasional.
“Satu pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa Iran betul-betul ngotot mau mengembangkan teknologi nuklir? Kalau Amerika, Rusia, bahkan Israel boleh punya teknologi nuklir, kenapa Iran tidak boleh? Di mana letak keadilan internasionalnya?” ujar Ismail dalam keterangan yang dikutip media ini pada Senin (23/6/2025).
Dia menegaskan, secara hukum internasional, Iran memiliki hak penuh untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai seperti energi, medis, dan riset.
Hal ini dijamin dalam Non-Proliferation Treaty (NPT), di mana Iran tercatat sebagai anggota resmi. Sebaliknya, Israel yang memiliki ratusan senjata nuklir justru tidak pernah menandatangani NPT dan tidak pernah diaudit oleh lembaga internasional.
Menurutnya, pengembangan nuklir Iran juga dilatarbelakangi kesadaran akan masa depan energi. Meski memiliki cadangan minyak dan gas melimpah, Iran memahami bahwa energi fosil tidak dapat terus menjadi sandaran utama. “Nuklir itu bagian dari visi jangka panjang Iran untuk kemandirian energi,” tambahnya.
Dari sisi strategis, ia menilai penguasaan teknologi nuklir menjadi bentuk pertahanan dan pesan peringatan kepada dunia agar tidak sembarangan mengancam Iran. Ia mencontohkan Korea Utara, yang setelah menguasai teknologi nuklir, tidak ada lagi negara yang berani mengusiknya. “Walau Iran mengaku tidak berniat membuat senjata nuklir, teknologi ini tetap jadi benteng dan simbol kekuatan,” tegasnya.
Selain itu, program nuklir Iran juga menjadi simbol kemajuan ilmu pengetahuan dan martabat nasional. Sanksi-sanksi ekonomi justru membuat bangsa itu semakin kreatif dan mandiri dalam teknologi tinggi.
“Program nuklir ini bukan soal ambisi menguasai Timur Tengah sebagaimana sering dituduhkan kelompok anti-Iran dan anti-Syiah. Ini soal harga diri, kedaulatan, dan penolakan terhadap standar ganda dunia,” jelasnya.
Ismail juga menyoroti sikap sebagian negara di kawasan, khususnya Arab Saudi, yang dinilainya penuh kontradiksi.
“Arab Saudi khawatir Iran punya teknologi nuklir karena takut akan dijadikan alat dominasi. Tapi anehnya, mereka tidak pernah menunjukkan kekhawatiran terhadap Israel yang jelas-jelas punya senjata nuklir,” tegasnya.
Dia menegaskan, dunia internasional seharusnya bersikap adil dan konsisten dalam menerapkan aturan non-proliferasi, tanpa standar ganda yang hanya semakin menumbuhkan ketegangan dan ketidakpercayaan di kawasan Timur Tengah. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












