BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat geopolitik Ismail Amin Pasannai menanggapi isu yang beredar luas mengenai dugaan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang disebut-sebut akan melarikan diri ke luar negeri sambil membawa aset pribadi bernilai miliaran dolar.
Menurutnya, narasi tersebut tidak berdasar dan bertentangan dengan kondisi faktual Iran saat ini maupun rekam jejak historis kepemimpinan Ayatullah Khamenei.
Ismail menjelaskan bahwa rumor tersebut dibangun dengan cara menyamakan Ayatullah Khamenei dengan sejumlah pemimpin dunia yang memilih melarikan diri ketika negara mereka mengalami keruntuhan politik dan militer.
“Mengapa Ayatullah Khamenei diisukan akan menyelamatkan diri keluar negeri sambil membawa aset pribadi milyaran dollar? Itu karena pemimpin Iran ini disamakan dengan semua penguasa yang kabur saat negaranya mengalami chaos total dan ibukota telah diduduki,” ungkapnya dalam artikel yang dikutip media ini di akut Facebook pribadnya pada Kamis (8/1/2026).
Ayatullah Khamenei disamakan dengan Pahlevi, Marcos yang kabur ke Hawai, Ben Ali yang kabur ke Saudi, Mansour Abdul Hadi kabur ke Saudi, Ashraf Gani kabur ke UEA, Victor Yanukovych kabur ke Rusia, Gotabaya Rajapaksa kabur ke Singapura, Bashar Assad kabur ke Rusia.
“Seolah-olah kabur telah menjadi pakem bagi pemimpin yang sudah tidak diinginkan rakyat dan militer tidak lagi melindungi,” bebernya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa kondisi Iran saat ini jauh dari gambaran chaos sebagaimana yang dilekatkan dalam rumor tersebut.
Ismail menyebut aktivitas pemerintahan, masyarakat, militer, dan diplomasi masih berjalan normal.
“Faktanya, Iran tidak dalam situasi chaos, pemerintahan masih berjalan, aktivitas kota masih normal, komando militer masih dalam kendali dan kerja-kerja diplomatik masih berlangsung, tidak ada satu pun kedutaan asing di Iran yang menyatakan Iran berada dalam level siaga satu dan harus ada operasi evakuasi untuk warga asing,” tegasnya.
Dia menilai rumor tersebut juga runtuh jika diuji melalui pendekatan historis.
Ia menegaskan bahwa dalam situasi yang jauh lebih genting sekalipun, Ayatullah Khamenei tidak pernah memilih opsi melarikan diri.
“Termasuk saat perang Irak-Iran selama 8 tahun dan perang Israel-Iran selam 12 hari,” ungkapnya.
Ismail menekankan bahwa posisi Ayatullah Khamenei tidak dapat disamakan dengan kepala negara biasa.
Dia memiliki peran ideologis dan keagamaan yang melekat kuat dalam struktur politik Iran dan dunia Syiah.
“Ayatullah Khamenei bukan sekadar kepala negara administratif. Ia adalah marja‘ taklid, rujukan keagamaan bagi jutaan pengikut Syiah lintas negara, dan simbol kontinuitas sebuah sistem politik-keagamaan yang justru dibangun di atas penolakan terhadap tradisi ‘kabur saat terdesak’. Dalam sistem ini, kabur bukan strategi, melainkan pembatalan legitimasi,” tegasnya.
Menurutnya, kesalahan utama dari narasi tersebut adalah kegagalan memahami perbedaan mendasar antara sistem kekuasaan Iran dengan rezim-rezim lain yang runtuh akibat hilangnya dukungan eksternal.
“Karena itu, menyamakan Khamenei dengan semua penguasa yang pernah kabur adalah kesalahan kategoris. Mereka adalah pemimpin yang kekuasaannya berdiri di atas dukungan eksternal, rente ekonomi, dan proteksi asing. Begitu proteksi itu runtuh, mereka pun runtuh. Khamenei berdiri di atas struktur ideologis, institusional, dan sosial yang berbeda sama sekali,” terangnya.
Di akhir analisanya, Ismail menyimpulkan bahwa isu mengenai kaburnya Ayatullah Khamenei justru mengungkap kepanikan pihak-pihak di luar Iran yang gagal membaca realitas geopolitik sebenarnya.
“Ketika semua skema tekanan gagal: sanksi, isolasi, perang informasi, operasi intelijen sampai invasi langsung, yang tersisa hanyalah fantasi runtuh yang diproduksi berulang-ulang, berharap menjadi kenyataan lewat repetisi,” pungkasnya. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












