Search

Iran Dikeroyok: Konflik Regional Menuju Global

Penulis. (Perspektif Muhsin Labib)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Agresi biadab Israel bersama Amerika Serikat terhadap Iran telah membuka tabir kebusukan politik kekuatan adidaya yang sudah telanjang: hukum internasional dikoyak, dibuang ke tong sampah sejarah saat berbenturan dengan nafsu kekuasaan. Kedaulatan Iran diinjak-injak, seolah negara itu tanah tak bertuan yang boleh dihancurkan tanpa risiko hukum atau moral. Ini bukan sekadar agresi—ini kejahatan perang terbuka yang tak hanya membakar kawasan, tapi menjerumuskan dunia ke jurang bencana kemanusiaan massal.

Namun, dalam waktu kurang dari dua jam, dentuman balasan Iran mengguncang fondasi supremasinya. Rudal balistik dan drone menghantam Israel, sekaligus meluluhlantakkan pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, UEA, hingga markas Armada Kelima di Bahrain. Riyadh berguncang, Abu Dhabi bergetar, dan seluruh Teluk gempar. Mitos “keamanan mutlak” Israel dan superioritas militer Amerika hancur dalam sekejap. Apa yang semula konflik regional kini meledak menjadi benturan global.

Standar ganda Barat yang busuk kembali terpampang nyata. Mereka yang berpura-pura sebagai “penjaga tatanan dunia” adalah perusak aturan itu sendiri. Israel dan Amerika bebas menyerang, membunuh, dan menghancurkan; tapi begitu Iran membela diri, mereka langsung dicap teroris, dituduh mengganggu stabilitas. Hipokrasi ini sudah terlalu lama, terlalu kotor, dan tak lagi bisa disembunyikan!

Yang lebih memalukan: sikap pengecut dunia internasional yang pasif menyaksikan agresi awal, seolah pembantaian adalah tontonan biasa. Begitu Iran membalas, narasi berubah histeris menjadi “ancaman global”. Padahal, dalilnya jelas—api neraka ini dinyalakan oleh Israel dan Amerika. Jika konflik meluas, dan semua tanda mengarah ke sana, jangan salahkan Iran. Salahkan para agresor pongah yang haus darah!

Timur Tengah kini di ambang perang dahsyat. Tapi dampaknya tak lagi regional—ekonomi global terancam runtuh, harga minyak meledak, rantai pasok dunia kacau, dan jutaan nyawa sipil jadi korban arogansi segelintir negara yang merasa di atas hukum, di atas moral, bahkan di atas Tuhan.

Ini bukan lagi konflik biasa. Ini adalah pengkhianatan terbuka terhadap peradaban manusia. Agresi Israel-AS hari ini (Sabtu, 28 Februari 2026) telah membuka kedok mereka: bukan pembela kebebasan, melainkan penjahat perang internasional. Dunia harus mengakui kebenaran pahit—pelaku utama kekacauan bukan yang membalas, tapi yang memulai. Standar ganda Barat telah terbongkar. Dan api yang mereka nyalakan kini berkobar menjadi konflik global yang memangsa mereka sendiri.

Iran dalam Fase Nothing to Lose

Iran kini berdiri di ambang jurang nothing to lose—posisi paling berbahaya yang pernah dihadapi sebuah bangsa. Bukan hanya Iran. Bangsa mana pun yang dipaksa mempertahankan napas terakhirnya akan meledakkan seluruh daya tahan yang dimiliki, melampaui logika, melampaui perhitungan, bahkan melampaui kematian itu sendiri. Naluri bertahan hidup pada tingkat kolektif mampu menyatukan masyarakat yang terpecah belah menjadi satu tubuh yang menggelegar, satu jiwa yang membara. Apalagi Iran: sebuah peradaban kuno yang telah berkali-kali dibakar oleh invasi, dicekik sanksi, dikubur isolasi, dan dihantam tekanan berlapis sepanjang sejarah modernnya—namun selalu bangkit dengan luka yang semakin dalam dan dendam yang semakin suci.

Di titik ini, persoalannya sudah bukan lagi soal ideologi. Bukan pula sekadar mempertahankan rezim. Yang dipertaruhkan adalah keberlangsungan negara dan martabat sebuah bangsa. Kekalahan bukan berarti mundur beberapa kilometer di peta—melainkan lenyapnya kedaulatan, terkuburnya identitas, dan pupusnya mimpi akan masa depan. Dalam api seperti ini, perbedaan internal langsung meleleh. Musuh bersama menyatukan segalanya: yang sekuler dan yang religius, yang kaya dan yang miskin, yang moderat dan yang radikal. Semuanya kini berdiri di garis yang sama, dengan satu keyakinan yang mengguncang: lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut.

Dan di sinilah letak blunder strategis Amerika yang mungkin akan ditulis sejarah dengan tinta hitam paling pekat. Superioritas militer tidak pernah menjamin kemenangan politik. Afghanistan mengajarinya dengan cara paling pahit. Irak mengulanginya dengan darah yang tak kunjung kering. Vietnam menertawakannya dengan sejarah yang masih berdarah. Bahkan Jepang pascaperang, yang “berhasil” diduduki, tetap menolak untuk benar-benar takluk di dalam jiwanya. Mengalahkan tentara di medan perang adalah satu hal. Menaklukkan jiwa sebuah bangsa yang sudah ratusan tahun dilahirkan dalam perlawanan adalah hal yang sama sekali berbeda.

Ketika ancaman dirasakan sebagai ancaman eksistensial, yang muncul bukan lagi pertahanan biasa. Yang muncul adalah mobilisasi total. Seluruh masyarakat berubah menjadi benteng. Seluruh budaya berubah menjadi senjata. Seluruh sejarah berubah menjadi semangat. Konflik tidak lagi perang antarnegara—ia menjadi perlawanan sebuah peradaban terhadap segala bentuk penghinaan luar. Dan dalam perang jenis ini, pemenangnya bukanlah yang paling kuat. Pemenangnya adalah yang paling mampu bertahan.

Iran sudah siap menulis babak baru itu. Pertanyaannya: apakah Amerika siap membaca akhir cerita yang tak seorang pun di Washington ingin dengar?

Iran dan Rezim-Rezim Borjuis Teluk

Negara-negara mini Teluk itu ribut bukan karena mereka tiba-tiba berani menghadapi Iran, tetapi karena wilayah mereka menjadi tempat berdirinya pangkalan militer Amerika. Iran tidak mungkin menembak Washington dari seberang bumi tanpa memicu perang dunia. Yang bisa dijangkau adalah landasan operasi Amerika di sekitar dirinya. Jadi yang terkena justru negara-negara kecil itu—bukan karena mereka target utama, melainkan karena mereka menjadi halaman parkir kekuatan asing.

Lalu mereka marah, mengancam, berbicara tentang keamanan dan stabilitas, seolah mereka korban utama. Padahal sejak awal mereka memang membuka pintu selebar-lebarnya bagi militer luar untuk menetap. Tanah disewakan, langit dipasrahkan, laut dipatroli pihak lain. Ketika pangkalan itu diserang, yang terbakar bukan hanya fasilitas militer, tetapi juga ilusi kedaulatan.

Dari sudut pandang Iran, peta di sekelilingnya terlihat seperti lingkaran pengepungan. Pangkalan di Saudi, Bahrain, Emirat, Qatar, Irak, Yordania, ditambah posisi Israel di utara melalui Azerbaijan—semuanya berada dalam radius strategis. Negara mana pun akan menganggap konfigurasi seperti ini sebagai ancaman langsung, bukan sekadar dinamika diplomasi. Iran merasa tidak sedang berhadapan dengan satu negara, melainkan dengan jaringan kekuatan global yang bertumpu di halaman rumahnya.

Sementara itu, dunia memperlihatkan watak aslinya. Inggris langsung merapat ke sekutu. Rusia dan China cukup mengeluarkan kecaman formal tanpa komitmen nyata. Negara lain memilih menonton dari jarak aman. Negara-negara Muslim sebagian besar hanya berani menyatakan “keprihatinan,” bahasa paling aman dalam kamus politik: terdengar peduli, tetapi tidak mengandung risiko apa pun.

Ironinya, negara-negara kecil yang paling dekat dengan Iran justru paling keras suaranya, karena mereka tahu mereka tidak sendirian. Ancaman mereka selalu diucapkan dengan bayangan kapal induk, jet tempur, dan sistem pertahanan impor di belakangnya. Tanpa itu, nada bicara kemungkinan berubah drastis.

Iran tampaknya ingin mengirim pesan yang sangat tua dalam sejarah politik: lebih baik keras dan berdiri sendiri daripada mewah tetapi bergantung. Negara yang terbiasa hidup di bawah sanksi dan tekanan belajar bertahan dengan sumber dayanya sendiri. Negara yang terlalu lama dilindungi sering kehilangan kemampuan menghadapi bahaya tanpa pelindung.

Perbandingan paling sederhana bukan antara baja dan kaca, melainkan antara tubuh yang terlatih dan tubuh yang selalu memakai penyangga. Yang satu mungkin penuh luka, tidak indah, tetapi mampu berdiri tanpa bantuan. Yang lain tampak sempurna, tegak, berkilau—selama penyangga itu tidak dicabut.

Kebesaran yang bergantung pada perlindungan musuh sendiri memang tampak mengesankan dari jauh. Kota-kota megah, senjata mahal, ekonomi raksasa. Namun jika fondasinya adalah ketergantungan, kebesaran itu lebih mirip balon besar: volumenya nyata, tetapi kekuatannya tipis. Satu tusukan kecil pada titik yang tepat dapat mengubah kemegahan menjadi kempis dalam sekejap.

Di tengah semua itu, Iran sedang menghadapi situasi yang terasa seperti dikeroyok banyak arah sekaligus. Sekutu formal tidak bergerak jauh, simpati global minim, tekanan maksimal. Justru dalam kondisi seperti itulah sebuah negara ingin membuktikan apakah kekuatannya nyata atau hanya reputasi. Pesannya sederhana: berdiri sendiri mungkin berat, tetapi tidak membuat nasib ditentukan oleh tangan orang lain. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA