Search

Industri Kebengisan

Penulis. (Perspektif Muhsin Labib)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Apa yang sebenarnya kita lihat setiap hari di layar itu? Apakah manusia mendadak kehilangan nurani secara massal, atau kita sedang hidup di dalam ruang yang secara sistematis memamerkan sisi paling gaduh dari manusia?

Ruang digital hari ini menyerupai alun-alun tanpa penjaga. Semua orang berteriak, bukan untuk dipahami, melainkan untuk menenggelamkan teriakan lain. Cacian menjadi bahasa umum. Seseorang diserang, etnik diseret, suku dilabeli, kelompok dipukul rata. Semuanya direkam, dipotong, diberi judul, diberi musik, lalu disajikan sebagai tontonan. Yang tenang dianggap hambar. Yang berhati-hati dicurigai lemah. Yang berpikir pelan kalah cepat dari yang memaki.

Anggapan bahwa hampir semua orang telah menjadi buruk adalah kesimpulan yang menyesatkan. Yang berubah bukan watak manusia secara kolektif, melainkan mekanisme seleksi atas apa yang layak diperlihatkan. Mesin yang mengatur arus ini tidak mengenal etika, apalagi kebijaksanaan. Ia hanya mengenal reaksi. Amarah memicu keterlibatan. Penghinaan memancing perhatian. Konflik membuat orang berhenti menggulir. Maka kebisingan diprioritaskan, ketenangan disingkirkan.

Di sinilah ilusi mayoritas bekerja. Minoritas yang ribut tampak dominan karena terus diulang. Sementara manusia yang hidup wajar tidak sibuk mendokumentasikan kewarasan mereka. Mereka tidak menjadikan kemarahan sebagai identitas. Mereka hadir di dunia nyata, bukan sebagai bahan unggahan.

Ruang ini juga menghapus rem sosial. Tidak ada tatapan mata, tidak ada jeda empati, tidak ada konsekuensi langsung. Kata-kata dilepas tanpa beban. Yang tak akan pernah diucapkan di hadapan manusia lain, ditulis dengan bangga karena terasa aman. Yang bekerja bukan keberanian, melainkan pembebasan impuls.

Yang kita hadapi bukan sekadar penurunan sopan santun, melainkan pergeseran norma. Kebengisan yang terus dipertontonkan perlahan dianggap wajar. Yang dulu memalukan kini dipersepsikan sebagai kejujuran. Bukan karena ia benar, melainkan karena ia sering terlihat.

Kebengisan di Dunia Offline

Masalahnya, kebengisan itu tidak berhenti di layar. Ia bocor. Ia merembes. Lalu ia menemukan tubuhnya di dunia nyata.

Persoalan dua atau tiga orang, ketika dibungkus dengan identitas kelompok, segera melonjak skalanya. Bukan lagi soal apa yang terjadi, melainkan siapa “kita” dan siapa “mereka”. Pada titik itu, nalar individu runtuh. Orang terprovokasi bukan karena memahami persoalan, melainkan karena merasa diserang sebagai bagian dari jumlah yang lebih besar. Konflik kecil berubah menjadi urusan banyak orang tanpa pernah benar-benar dipahami.

Pola ini masuk ke interaksi sehari-hari. Di jalan, di transportasi umum, di ruang kerja, ketenangan menghilang. Wajah-wajah tegang bermunculan. Nada bicara meninggi lebih cepat. Kecurigaan hadir sebelum perkenalan. Rasa aman menguap pelan-pelan, digantikan kewaspadaan yang melelahkan.

Yang paling mengkhawatirkan bukan bentroknya, melainkan perasaan bahwa siapa pun bisa menjadi sasaran. Tidak perlu berbuat apa-apa. Tidak perlu bersuara. Cukup memiliki latar tertentu, nama tertentu, atau kebetulan berada di tempat yang salah. Dalam situasi seperti ini, diam bukan ketenangan, melainkan strategi bertahan.

Ruang digital telah melatih manusia untuk berpikir dalam skala massa. Ketika pola itu dibawa ke dunia nyata, individu lenyap. Yang tersisa hanya label. Dan label tidak memerlukan bukti untuk diserang. Di sinilah konflik berhenti menjadi peristiwa, lalu berubah menjadi pola yang terus direproduksi.

Dari gesekan antarindividu menuju bentrok berbasis identitas komunal. Yang pertama bisa diselesaikan. Yang kedua cenderung diwariskan. Dalam kondisi seperti ini, ketenangan bukan keadaan normal, melainkan kemewahan.

Kegelisahan yang kita rasakan bukan ilusi. Ia adalah respon rasional terhadap ruang sosial yang kehilangan penyangga. Selama kebengisan terus diproduksi, disirkulasikan, dan diberi panggung, dunia nyata akan terus menanggung akibatnya—bukan dalam bentuk dialog, melainkan dalam rasa tercekam, seolah setiap orang berpotensi menjadi sasaran berikutnya. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA