BERITAALTERNATIF.COM – Sekretaris Ikatan Alumni Pondok Pesantren Ibadurrahman Kutai Kartanegara (Kukar) Eko Pranoto menegaskan bahwa kasus asusila yang mencuat belakangan ini tidak sepatutnya dijadikan alasan untuk menutup pesantren yang telah berkontribusi besar sejak berdiri pada 1992.
Eko menyampaikan bahwa pihaknya menghormati respons cepat DPRD Kukar yang bersedia menampung kajian serta aspirasi masyarakat terkait persoalan ini.
Dia menekankan bahwa alumni berkomitmen memberikan masukan konstruktif demi perbaikan internal pondok.
Ia menyebut Pondok Pesantren Ibadurrahman sejak berdiri telah melahirkan banyak generasi kuat dalam bidang keislaman, pendidikan, dan sosial.
“Kasus asusila yang terjadi harus dipandang sebagai kesalahan individu, bukan alasan untuk menghapus peran besar pesantren,” ujarnya saat mengikuti rapat dengar pendapat di Ruang Banmus DPRD Kukar pada Senin (15/9/2025) pagi.
Menurutnya, Pesantren Ibadurrahman tidak hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga pembinaan keagamaan, sosial, bahkan pendampingan bagi santri dengan kebutuhan khusus.
Selama lebih dari tiga dekade, pesantren ini diakui telah memberi kontribusi signifikan bagi masyarakat Kukar dan sekitarnya.
Terkait kasus asusila, Eko meminta agar proses hukum dijalankan secara adil sesuai aturan yang berlaku. Di sisi lain, dia mendorong pesantren melakukan evaluasi dan pembenahan internal agar kepercayaan publik dapat dipulihkan.
“Permasalahan ini memang sangat mencederai hati kita. Maka jangan sampai terulang. Evaluasi menyeluruh wajib dilakukan, termasuk peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan pesantren,” tegasnya.
Ia menilai Pesantren Ibadurrahman memiliki potensi untuk menjadi lembaga pendidikan yang lebih baik bila semua pihak mendukung langkah perbaikan.
Alumni, katanya, juga meminta doa dan dukungan dari masyarakat serta kementerian terkait agar keberlangsungan pesantren tetap terjaga.
Dalam kesempatan itu, Eko juga menyinggung isu LGBT yang kerap dikaitkan dengan pendidikan pesantren.
Dia menolak keras tudingan tersebut dan menegaskan bahwa selama ini pendidikan di Ibadurrahman berlandaskan Alquran dan sunnah dengan penekanan pada akhlak, kehormatan, dan tanggung jawab moral.
Nilai yang diterimanya di pesantren tersebut selalu menekankan agar menjauhi perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam, termasuk praktik LGBT.
“Tidak adil jika isu-isu tertentu dijadikan dasar untuk menutup lembaga yang puluhan tahun mencetak generasi berakhlak mulia,” jelasnya.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa alumni Ibadurrahman sepakat pesantren harus diperbaiki, dijaga, dan diberdayakan, bukan dimatikan.
“Kami yakin pesantren ini bagian penting dalam membentuk generasi penerus peradaban. Semua pihak punya tanggung jawab untuk mendukung keberlangsungannya,” pungkas Eko. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin











