Oleh: Yuni Indriati*
Puasa merupakan salah satu kewajiban agama yang sering dipahami sebatas ritual tahunan: menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun dalam perspektif teologi kenabian, puasa bukan sekadar praktik formal, melainkan bagian dari taklif ilahi yang hakikatnya adalah anugerah bagi manusia.
Mengapa kewajiban disebut anugerah? Secara teologis, Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Kemuliaan-Nya tidak bertambah karena ketaatan kita, dan tidak berkurang karena kelalaian kita. Karena itu, setiap perintah ilahi tidak mungkin bertujuan untuk kepentingan Allah, melainkan sepenuhnya untuk kebaikan manusia.
Manusia, secara fitrah, memiliki dorongan untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan. Tidak ada manusia yang secara sadar menginginkan kesengsaraan. Namun persoalannya, tidak semua manusia mengetahui jalan yang benar menuju kebahagiaan sejati. Banyak yang mengira bahwa kebahagiaan terletak pada harta, jabatan, popularitas, atau kenikmatan material lainnya. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa pencarian kebahagiaan tanpa bimbingan wahyu sering berujung pada kekeliruan.
Keterbatasan akal manusia terlihat dalam banyak aspek kehidupan. Bahkan dalam hal sederhana seperti memperlakukan jenazah, manusia membutuhkan waktu sangat lama untuk menemukan cara yang higienis dan tepat. Alquran mengisahkan bahwa Qabil pun tidak mengetahui bagaimana mengurus jenazah saudaranya hingga Allah mengajarkan melalui seekor gagak. Ini menunjukkan bahwa akal manusia, meskipun penting, tetap membutuhkan bimbingan ilahi.
Karena itulah Allah mengutus para nabi dan menurunkan agama sebagai petunjuk. Alquran menegaskan bahwa misi kenabian adalah membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, serta mengajarkan kitab dan hikmah agar manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Tujuannya adalah tercapainya keadilan, kesucian, dan kebahagiaan hakiki dalam kehidupan manusia.
Dengan demikian, kewajiban agama bukanlah beban yang mengekang, tetapi jalan yang membimbing. Ia adalah bentuk kasih sayang Allah agar manusia tidak tersesat dalam pencarian makna hidup.
Puasa merupakan contoh nyata dari prinsip ini. Selain sebagai latihan spiritual untuk menundukkan hawa nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah, puasa juga membawa manfaat nyata bagi kesehatan fisik, kestabilan psikologis, serta kepekaan sosial. Ia menumbuhkan empati terhadap kaum lemah, melatih kedisiplinan, dan menyucikan jiwa.
Maka, dalam kerangka teologi kenabian, puasa bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana penyempurnaan manusia. Di balik taklif terdapat rahmat, di balik aturan terdapat hikmah, dan di balik setiap perintah ilahi terdapat jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (*Mahasiswa Pascasarjana Al-Mustafa University Mashhad)












