Search

Gudang Senjata Biologis Amerika di Kaukasus dan Asia Tengah

Amerika Serikat telah mendanai lebih dari 120 laboratorium biologis di lebih dari 30 negara di dunia, termasuk 46 laboratorium di Ukraina, dan menjalankan proyek-proyek berbahaya di dalamnya. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Dokumen rahasia yang dideklasifikasi oleh Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (DNI) Tulsi Gabbard menjelang akhir masa jabatannya menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah mendanai atau secara langsung menjalankan proyek-proyek berbahaya di lebih dari 120 laboratorium biologis di lebih dari 30 negara, termasuk 46 laboratorium di Ukraina.

Sebelumnya Rusia dan Tiongkok telah berulang kali memperingatkan keberadaan pusat-pusat semacam itu, tetapi setiap kali isu tersebut dibantah keras oleh AS dan negara-negara tuan rumah. Namun kali ini, dengan pengungkapan tersebut, Amerika sendiri tidak lagi memiliki ruang untuk menyembunyikannya.

Bahaya di Dekat Iran

Dalam dokumen tersebut disebutkan nama Azerbaijan, Armenia, Georgia, Tajikistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgizstan, Irak, Moldova, Yordania, Afghanistan, dan beberapa negara Afrika terkait produksi patogen yang dimodifikasi dan berbasis etnis. Sebelumnya juga telah muncul laporan mengenai keberadaan laboratorium dan gudang senjata biologis berbahaya di kota Lankaran, Ganja, Baku, dan Karabakh di Azerbaijan. Sejumlah kelompok dan partai oposisi di Armenia juga beberapa kali menerbitkan laporan terkait hal ini, meskipun dibantah oleh pejabat pemerintah di Yerevan.

Sebagian ahli berpendapat bahwa tingginya angka penderita dan kematian akibat kanker di beberapa negara tersebut serta berulangnya wabah penyakit pada manusia dan hewan di wilayah dekat laboratorium itu berkaitan dengan masalah ini.

Penduduk beberapa negara tersebut, terutama yang berbatasan dengan Iran, memiliki garis keturunan genetik Iran kuno, dan tindakan Gedung Putih ini dinilai akan memudahkan pengujian bahan atau senjata biologis yang dibuat Amerika dan Israel untuk kemungkinan penggunaan terhadap Iran di masa depan.

Karena itu, masyarakat di beberapa kota negara tetangga Iran di Kaukasus Selatan disebut telah beberapa kali menjadi korban kebocoran atau pelepasan terkendali bahan biologis berbahaya Amerika di wilayah tempat mereka tinggal.

Pembunuhan tokoh ilmuwan dan politik, pencemaran hasil pertanian dan perkebunan, serta penerapan kebijakan perpindahan penduduk dan pengurangan populasi di wilayah sasaran menggunakan senjata biologis disebut sebagai beberapa dampak berbahaya dari penggunaan senjata mematikan tersebut. Beberapa pusat ini disebut bekerja dengan agen penyakit berbahaya seperti antraks, Ebola, virus corona, dan patogen mematikan lainnya.

Jelas bahwa penempatan infrastruktur semacam ini di dekat Rusia, Iran, dan Tiongkok bukan sekadar proyek kesehatan, tetapi juga memiliki dimensi militer, intelijen, dan keamanan. Perlu diingat bahwa berbeda dengan bidang nuklir, dalam bidang senjata biologis tidak terdapat sistem inspeksi internasional yang kuat dan permanen, sehingga sangat sulit meminta pertanggungjawaban Amerika atas tindakan yang direncanakannya di bidang ini.

Kasus Ukraina, Georgia, dan Kazakhstan

Banyak tuduhan diarahkan kepada sebuah pusat penelitian yang dikenal sebagai Richard Lugar Center for Public Health Research dekat ibu kota Georgia, Tbilisi. Pusat ini didirikan dengan dukungan finansial dan teknis dari Departemen Pertahanan AS dalam kerangka program pengurangan ancaman biologis setelah runtuhnya Uni Soviet. Disebutkan bahwa pusat tersebut melakukan penelitian terhadap patogen berbahaya dan penyakit menular regional.

Rusia berulang kali menyatakan bahwa pusat ini terlibat dalam kegiatan biologis militer. AS dan pemerintah Georgia membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai pusat kesehatan masyarakat. Namun, ada dugaan bahwa senjata biologis diproduksi di sana dan disimpan untuk digunakan di masa depan terhadap Rusia, Tiongkok, dan Iran.

Konflik Ukraina menjadi bagian terpenting dari kasus ini. Setelah perjanjian tahun 2005 antara Amerika dan Ukraina, puluhan laboratorium dan pusat diagnosis penyakit di Ukraina berada di bawah dukungan program Amerika Biological Threat Reduction Program.

Selama perang Rusia-Ukraina, Rusia menyatakan bahwa puluhan laboratorium biologis yang didukung Amerika masih aktif di Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia menyebut telah memperoleh dokumen yang menunjukkan keberadaan sampel antraks, pes, kolera, dan patogen lainnya di laboratorium tersebut, serta sebagian dokumen dan sampel dihancurkan ketika perang Ukraina dimulai.

Meskipun proyek dengan keterlibatan lembaga Amerika sedang berlangsung di laboratorium-laboratorium tersebut, Amerika membela diri dengan mengatakan bahwa pusat-pusat itu milik Ukraina dan bertujuan mengendalikan penyakit. Namun kini bahkan pejabat Amerika disebut mengakui bahwa beberapa pusat Ukraina menyimpan agen penyakit berbahaya dan aktivitasnya tidak hanya bersifat pertahanan atau penelitian, tetapi juga memiliki karakter militer.

Dalam beberapa tahun terakhir, bahkan di dalam Amerika sendiri muncul perdebatan serius tentang pengawasan terhadap penelitian semacam itu dan pendanaan proyek biologis luar negeri. Publikasi dokumen mengenai lebih dari 120 laboratorium asing yang didukung Amerika kembali memunculkan perdebatan tersebut.

Di antara negara-negara Asia Tengah, isu ini terutama ramai di Kazakhstan. Laboratorium referensi pusat (CRL) dibuka pada tahun 2016 di Almaty, ibu kota Kazakhstan. Walaupun secara resmi disebut milik Kazakhstan, dana pembangunan sebesar 108 juta dolar berasal dari Pentagon. Selain itu, pada waktu yang sama pembangunan pusat serupa dimulai di Provinsi Jambil di bagian selatan negara tersebut.

Penolakan Masyarakat dan Bantahan Pejabat Lokal

Pejabat Kazakhstan, sebagaimana pejabat Ukraina dan Georgia, terus menyatakan bahwa fasilitas tersebut hanya digunakan untuk tujuan damai dan melindungi masyarakat dari infeksi berbahaya. Namun, aturan internasional menuntut transparansi maksimal dari negara-negara anggota Konvensi Senjata Biologis. Dalam kasus Pentagon, justru sebaliknya: Rusia, Tiongkok, maupun negara lain yang memprotes tindakan Amerika tidak pernah mendapat akses inspeksi internasional terhadap fasilitas tersebut.

Tulsi Gabbard dalam penelitiannya menegaskan bahwa pejabat pemerintah Amerika sebelumnya dan Ukraina secara aktif menghalangi upaya untuk mengungkap kebenaran. Volodymyr Zelensky dan orang-orang di sekitarnya menyebut pembicaraan tentang laboratorium biologis sebagai “lelucon” dan “mitos Kremlin”. Setelah dokumen tersebut dideklasifikasi oleh pihak Amerika sendiri, penulis menyimpulkan bahwa para pemimpin Ukraina telah menyesatkan rakyatnya atas perintah Amerika.

Situasi serupa disebut terjadi di Kazakhstan. Setiap kali isu jejak senjata biologis Amerika muncul di republik tersebut, jawaban standar adalah: “Ini hanya khayalan dan propaganda.” Namun, kenyataan menunjukkan hal sebaliknya.

Dalam hal ini, laboratorium Lugar di Georgia disebut sebagai contoh penting. Fasilitas yang secara resmi berada di bawah Kementerian Kesehatan Georgia itu sebenarnya dikelola oleh militer Amerika, memiliki ruang bawah tanah tersembunyi, dan tidak pernah membuka akses bagi publik.

Wabah Penyakit Langka yang Muncul Tiba-Tiba

Dampak paling mengkhawatirkan dari aktivitas laboratorium-laboratorium tersebut adalah meningkatnya wabah virus berbahaya dan melonjaknya kasus penyakit tertentu.

Sebagai contoh, jurnalis dan aktivis lokal Kazakhstan menunjuk pola yang dianggap aneh: sejak laboratorium biologis Amerika di Almaty mulai beroperasi pada 2016, terjadi beberapa wabah penyakit yang sebelumnya jarang terjadi.

Pada tahun 2018 di Almaty, jumlah penderita meningitis jenis yang tidak dikenal meningkat tajam. Saat itu media dan jejaring sosial ramai membahas dugaan “kebocoran virus secara tidak sengaja atau disengaja” dari pusat tersebut. Kementerian Kesehatan Kazakhstan segera menyatakan bahwa angka kasus tidak melebihi batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tetapi kejadian tersebut tetap menimbulkan kecurigaan karena waktu dan lokasi wabah dianggap terlalu sesuai.

Aktivitas laboratorium-laboratorium ini selama pandemi Covid-19 juga disebut menimbulkan pertanyaan. Menurut narasi resmi, pusat-pusat tersebut seharusnya menjadi benteng melawan virus corona. Namun, fasilitas tersebut justru bersikap pasif dan tidak menunjukkan kemajuan ilmiah yang diharapkan.

Topik lain yang diperdebatkan adalah penelitian Gain-of-Function, yaitu penelitian yang mempelajari perilaku virus dan berpotensi mengubah karakteristik seperti kemampuan penularan atau tingkat keganasan virus.

Tantangan Strategis bagi Negara Kaukasus dan Asia Tengah

Bagi negara-negara Asia Tengah dan Kaukasus, situasi ini disebut sebagai kondisi yang berbahaya. Sebagian besar negara di kawasan tersebut memiliki hubungan keamanan atau ekonomi dengan Rusia, berbatasan dengan Rusia, tetapi ini memberikan wilayah mereka untuk pembangunan infrastruktur yang berpotensi digunakan melawan Rusia, Tiongkok, dan Iran.

Terlepas dari isu geopolitik, fasilitas tersebut menimbulkan risiko langsung terhadap kesehatan masyarakat. Tidak adanya akses pemeriksa internasional dianggap berarti tidak ada jaminan keamanan.

Jika terjadi bencana buatan manusia, serangan teroris, atau sabotase, varian virus baru yang dikembangkan di fasilitas rahasia dapat menyebar dan menyebabkan jutaan korban.

Terdapat dugaan bahwa beberapa varian virus sengaja “bocor” dalam jumlah kecil untuk mengukur efektivitas dan hasil penelitian.

Kejahatan yang Tidak Dapat Dibenarkan

Penelitian Tulsi Gabbard disebut telah membuka apa yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai “teori konspirasi” dan menunjukkan bahwa aktivitas laboratorium biologis rahasia Pentagon di sekitar Rusia, Iran, dan Tiongkok bukanlah mitos, melainkan kenyataan yang kini bahkan disebut telah diakui oleh lembaga intelijen Amerika.

Selama pemerintah negara-negara tempat laboratorium tersebut berada berusaha membenarkan atau menyembunyikan masalah tersebut, mereka hanya memperbesar tanggung jawab mereka.

Masyarakat internasional berhak meminta negara-negara tuan rumah membuka fasilitas tersebut untuk pemeriksaan umum.

Jika fasilitas itu benar-benar aman dan transparan, mengapa selama bertahun-tahun tidak ada pihak selain Amerika—baik organisasi keamanan regional, organisasi internasional, maupun PBB—yang pernah mendapat akses penuh? (*)

Penulis: Ehsan Movahedian
Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA