BERITAALTERNATIF.COM – Operasi yang dilakukan pekan lalu oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat dan Kementerian Keuangan Jepang merupakan intervensi bersama pertama kedua negara dalam lebih dari 15 tahun.
Otoritas Jepang diperkirakan menghabiskan sekitar 14 triliun yen (sekitar 88 miliar dolar AS) dalam dua hari untuk memperkuat nilai yen. Menurut laporan tersebut, langkah ini mungkin memberikan dukungan sementara bagi mata uang Jepang, tetapi dampaknya diperkirakan tidak akan bertahan lama kecuali kondisi ekonomi yang mendasarinya berubah.
Intervensi di pasar valuta asing memungkinkan Bank of Japan, atas arahan Kementerian Keuangan, membeli yen dan surat berharga terkait guna meningkatkan nilai mata uang tersebut. Namun, investor dapat mengimbangi pembelian itu dengan menjual aset berdenominasi yen apabila mereka belum yakin bahwa fundamental ekonomi Jepang benar-benar membaik.
Penguatan yen yang lebih berkelanjutan kemungkinan memerlukan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Inflasi Jepang berpotensi melampaui target 2% yang ditetapkan Bank of Japan. Hal ini mendorong sebagian investor berpendapat bahwa suku bunga seharusnya dinaikkan lebih cepat. Namun, bank sentral tetap mempertahankan suku bunga acuannya di 1%, dengan alasan permintaan konsumen masih lemah.
Meskipun intervensi mata uang terkadang menjadi sinyal bahwa pembuat kebijakan siap mengambil langkah yang lebih tegas di kemudian hari, analisis Financial Times (FT) mempertanyakan apakah Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, telah menunjukkan kekhawatiran yang cukup besar terhadap pelemahan yen sehingga mengindikasikan perubahan besar dalam kebijakan moneter.
Menurut laporan tersebut, perkembangan yang lebih penting adalah cara Washington berpartisipasi dalam operasi itu. Alih-alih menjual dolar untuk membeli yen, Departemen Keuangan AS menggunakan euro.
Langkah ini dilakukan ketika pasar obligasi pemerintah AS (US Treasury), khususnya obligasi jangka panjang, sedang berada di bawah tekanan setelah konferensi pers Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pekan lalu mendapat respons negatif dari pasar.
Analisis FT menyebut Washington enggan menjual surat utang berdenominasi dolar karena hal itu dapat semakin menekan pasar obligasi pemerintah AS.
Sebagian keputusan menggunakan euro juga disebabkan oleh komposisi aset yang tersedia dalam Dana Stabilisasi Nilai Tukar (Exchange Stabilization Fund) milik AS. Selain itu, langkah tersebut mengurangi kebutuhan untuk menjual lebih banyak obligasi pemerintah AS sehingga tidak menambah pasokan utang yang masuk ke pasar.
Jepang juga mengumumkan rencana memanfaatkan fasilitas Foreign and International Monetary Authorities Repo Facility (FIMA) milik Federal Reserve. Fasilitas ini memungkinkan bank sentral asing memperoleh likuiditas dolar sementara dengan menjaminkan obligasi pemerintah AS yang mereka miliki, tanpa harus menjual aset tersebut secara langsung.
Menurut FT, penggunaan kedua mekanisme tersebut menunjukkan meningkatnya sensitivitas Washington terhadap kemungkinan penjualan besar-besaran obligasi pemerintah AS oleh negara-negara lain.
Laporan tersebut menilai bahwa perkembangan ini memiliki implikasi yang lebih luas terhadap posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia.
Selama ini, bank-bank sentral mengakumulasi cadangan devisa dalam bentuk dolar karena pasar obligasi pemerintah AS dianggap sangat likuid, sehingga pemerintah dapat dengan mudah membeli atau menjual surat utang ketika perlu melakukan intervensi di pasar valuta asing atau memperoleh likuiditas. Namun, intervensi terbaru ini menunjukkan bahwa Washington kini tampaknya khawatir terhadap dampak jika bank-bank sentral asing menjual obligasi pemerintah AS dalam jumlah besar.
Keputusan Departemen Keuangan AS menggunakan euro mengurangi jumlah aset dolar yang harus dijual untuk mendukung yen. Demikian pula, rencana Jepang memanfaatkan fasilitas FIMA membatasi kebutuhan menjual obligasi pemerintah AS secara langsung.
Analisis FT menyebut langkah-langkah tersebut sebagai bukti bahwa keunggulan yang selama ini melekat pada dolar sebagai aset cadangan mulai melemah. Intervensi itu juga dipandang sebagai contoh kerja sama erat antara dua negara sekutu.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menekankan hubungan dekat antara Washington dan Tokyo saat menjelaskan aksi terkoordinasi tersebut. Namun, FT berpendapat bahwa Washington mungkin akan mengambil sikap berbeda apabila negara yang hubungannya kurang baik dengan AS melakukan intervensi serupa yang melibatkan penjualan besar-besaran cadangan dolar.
Dalam situasi seperti itu, analisis tersebut menyebut Presiden AS Donald Trump dapat menggunakan tekanan ekonomi, termasuk penerapan tarif, untuk menghalangi langkah tersebut.
Artikel itu menyimpulkan bahwa meningkatnya kekhawatiran AS terhadap penggunaan cadangan dolar oleh pemerintah asing dapat mendorong bank-bank sentral mempercepat diversifikasi cadangan devisa mereka ke aset dan mata uang lain.
“Intinya, Washington, karena khawatir terhadap dampaknya bagi pasar keuangan AS, enggan melihat bank-bank sentral asing menggunakan cadangan dolar mereka,” tulis penulis artikel.
“Hal ini memberi sinyal bahwa dolar tidak lagi menjadi mata uang cadangan yang semenarik dulu. Ketika pesan ini semakin dipahami, negara-negara lain akan semakin giat mencari alternatif yang lebih menarik dan lebih mudah digunakan. Diversifikasi cadangan devisa kemungkinan akan semakin cepat.” (*)
Sumber: Al Mayadeen












