BERITAALTERNATIF.COM – Menurut dua sumber regional yang mengetahui langsung rencana tersebut dan dikutip oleh Reuters, ketiga negara akan menandatangani kesepakatan pertahanan bersama di Arab Saudi pada Jumat (7/8/2026).
Perjanjian ini hadir ketika ketiga negara memperdalam koordinasi keamanan di tengah meningkatnya ketegangan regional, terutama terkait Laut Merah dan kembali memanasnya konflik antara pasukan yang didukung Arab Saudi dengan Angkatan Bersenjata Yaman.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dijadwalkan melakukan kunjungan ke Arab Saudi untuk bertemu Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang telah lebih dahulu berada di Arab Saudi dalam kunjungan selama tiga hari.
Kesepakatan tersebut disebut menjadi langkah penting dalam koordinasi militer dan strategis antara Ankara, Riyadh, dan Islamabad.
Pakta ini muncul setelah kembali pecah konfrontasi militer antara Angkatan Bersenjata Yaman di satu pihak dan militer Arab Saudi beserta pasukan yang didukung Riyadh di pihak lain.
Pekan ini, Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan operasi militer berskala besar yang menargetkan posisi pasukan pendukung Arab Saudi di Provinsi Marib dan Hadramaut. Menurut mereka, serangan dilakukan setelah memantau adanya persiapan eskalasi terhadap wilayah yang berada di bawah kendali Sanaa.
Menurut AFP yang mengutip sumber militer, jumlah korban tewas akibat serangan tersebut meningkat menjadi 58 orang dari pihak pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengatakan operasi tersebut melibatkan rudal balistik dan drone yang menghantam konsentrasi pasukan di Al-Ruwaik, Al-Abr, Al-Thaniyah, serta sejumlah wilayah lainnya.
Pihak Sanaa menyatakan serangan itu merupakan operasi pendahuluan (pre-emptive) yang bertujuan menggagalkan persiapan Arab Saudi untuk melancarkan ofensif yang lebih luas.
Eskalasi terbaru ini terjadi ketika Angkatan Bersenjata Yaman terus melanjutkan kampanye maritim mereka di Laut Merah. Menurut pihak Yaman, operasi tersebut merupakan respons terhadap blokade selama 12 tahun yang diberlakukan Arab Saudi terhadap pelabuhan dan bandara Yaman.
Yaman menyebut operasi maritimnya sebagai strategi “blokade dibalas blokade”, dengan menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi serta membatasi pergerakan kapal pengangkut minyak Saudi di Laut Merah.
Konfrontasi di laut tersebut menjadikan Selat Bab al-Mandab dan jalur pelayaran Laut Merah sebagai pusat ketegangan regional yang lebih luas, sehingga menarik perhatian negara-negara tetangga maupun kekuatan internasional.
Laporan mengenai perjanjian pertahanan Turki–Arab Saudi–Pakistan muncul ketika Riyadh berupaya memperkuat kemitraan regional di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi keamanan.
Arab Saudi terus memperluas koordinasi militer dan diplomatik dengan negara-negara kawasan, sementara Turki dan Pakistan telah lama menjalin hubungan pertahanan yang erat dengan Riyadh melalui berbagai perjanjian kerja sama militer sebelumnya.
Kerja sama ketiga negara diperkirakan akan berfokus pada koordinasi pertahanan yang lebih luas, meskipun rincian isi perjanjian tersebut hingga kini belum dipublikasikan secara resmi. (*)
Sumber: Al Mayadeen












