Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Di ufuk perbukitan yang kian meranggas, frasa “Good Mining” terpahat dalam huruf-huruf putih raksasa di atas kanvas hijau zamrud yang sebenarnya sudah lama kehilangan nyawa. Warna itu bukan lagi warna daun, melainkan warna filter digital yang dipoles berulang-ulang hingga tampak sempurna bagi mata yang hanya melirik dari kejauhan. Di bawahnya, lubang-lubang raksasa menganga seperti luka yang tak pernah dijahit, namun selalu ditutupi kain sutra berhiaskan slogan-slogan berkelanjutan.
Jalan menuju lokasi tambang kini lebih sering berupa aliran lumpur daripada aspal. Air keruh mengalir deras membawa serta sisa-sisa tanah yang dulu menjadi fondasi rumah, sawah, dan kenangan. Di tepi jalan yang masih utuh, baliho-baliho bercahaya menampilkan gambar lereng hijau yang mustahil, lengkap dengan kupu-kupu sintetis dan senyum petani yang terlalu rapi untuk wajah yang terbiasa menghadap matahari dan hujan. Kontras itu menyerupai potret yang sengaja dipalsukan: kehancuran dibiarkan nyata, sementara harapan dipajang sebagai iklan.
Setiap musim hujan, banjir bandang datang seperti tamu yang sudah tercatat di kalender. Sungai berubah menjadi aliran cokelat kehitaman, membawa logam berat dan janji yang mengendap tanpa arah. Lahan pertanian menyusut menjadi kolam lumpur permanen, sementara peta reklamasi yang elok tetap tergantung di ruang rapat berpendingin udara. Garis-garis hijau ditarik rapi di atas kertas mengilap, seolah hutan bisa dipanggil pulang hanya dengan pena dan presentasi.
Kampanye kesadaran lingkungan pun berganti rupa. Anak-anak diajarkan bahwa tambang bisa ramah, bahwa bumi tak akan pernah lelah memberi, bahwa kehancuran hanyalah fase menuju kemakmuran. Buku pelajaran, video animasi, hingga permainan digital menyanyikan nada yang sama. Di luar layar, para penyintas belajar bertahan di atas reruntuhan, menerima bantuan kebutuhan dasar yang dibungkus logo perusahaan—filantropi yang terlalu bersih untuk tidak dipotret.
Di balik dinding kaca gedung tinggi, laporan keberlanjutan dicetak di atas kertas daur ulang termahal. Grafik menanjak, angka-angka berwarna hijau, sertifikat internasional berbingkai emas. Dari kejauhan, segalanya tampak terkendali, bahkan menenangkan. Di dekat tanah, bumi terus merosot, air kian keruh, dan lubang-lubang semakin melebar—seperti mulut yang tak pernah kenyang.
“Good Mining” akhirnya bukan lagi janji, melainkan selubung estetis yang merapikan kenyataan pahit agar layak dipresentasikan. Ia diulang hingga terdengar biasa, cukup ampuh meredam kegaduhan, setidaknya sampai hujan berikutnya tiba.
Dan di bawah langit yang kian kelabu, bumi terus memberikan apa yang tersisa, tanpa pernah bertanya apakah pemberian itu masih layak disebut baik. (*Cendekiawan Muslim)












