Search

Epstein Files: Episentrum Kebejatan Elit AS

Penulis. (Perspektif Muhsin Labib)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Kasus Jeffrey Epstein tidak bermula dari sebuah penyingkapan, melainkan dari sebuah pembiaran yang disengaja. Selama dekade-dekade gelap, ia hidup sebagai rahasia umum di kalangan terbatas—sebuah paradoks di mana aparat hukum, media arus utama, dan institusi negara berada pada jarak yang janggal: terlalu dekat untuk tidak mengetahui, namun terlalu jauh untuk bertindak. Pada fase ini, kebejatan tidak bersembunyi karena tak terlihat, melainkan karena ia adalah komoditas yang dilindungi.

Ketika tabir itu akhirnya tersingkap, yang muncul ke permukaan bukanlah sebuah anomali, melainkan sebuah pola sistemik.

Epstein bukanlah figur tunggal yang menyimpang; ia adalah simpul penghubung bagi lingkaran elite eksklusif tempat politisi, taipan, dan figur berpengaruh berkelindan dalam relasi kuasa yang intim. Predatorisme seksual terhadap anak tidak terjadi di ruang isolasi yang gelap, melainkan di jantung pergaulan kelas atas—di sela-sela pesta mewah dan jaringan sosial prestisius. Di sini, persoalan bergeser dari kriminalitas individu menjadi sebuah ekosistem kejahatan yang terorganisasi.

Kematian Epstein yang kontroversial tidak mengakhiri narasi ini; ia justru mengonfirmasi adanya kepentingan masif yang harus dijaga. Narasi resmi negara dan bantahan-bantahan hukum gagal meredam kecurigaan publik yang semakin mengeras. Setiap fragmen informasi baru—mulai dari jejak digital hingga kesaksian penyintas—selalu bermuara pada kesimpulan yang sama: pengungkapan fakta dibatasi bukan karena kelangkaan bukti, melainkan karena terlalu banyak pilar kekuasaan yang terancam runtuh.

Keterlibatan nama-nama besar, termasuk figur seperti Donald Trump dan tokoh politik-korporasi lainnya, tidak bisa lagi dibaca sekadar sebagai isu personal atau gosip belaka. Nama-nama ini menandai titik temu antara puncak kekuasaan dan ruang-ruang gelap yang menjadi zona aman bagi kebejatan. Lingkaran Epstein membuktikan bahwa kebusukan ini bukanlah parasit di pinggiran sistem, melainkan darah yang mengalir di dalam jantungnya. Hukum tidak runtuh karena ia lemah; hukum menjadi lumpuh karena ia dibuat selektif secara sengaja.

Pada titik inilah, klaim Amerika Serikat sebagai penjaga gawang moralitas global kehilangan landasannya. Negara yang mendapuk dirinya sebagai kiblat demokrasi dan hak asasi manusia justru memperlihatkan wajah aslinya: sebuah sentra dekadensi yang dibentengi oleh kekuasaan absolut. Moralitas telah terdistorsi menjadi retorika kosong yang diekspor ke luar, sementara di dalamnya terjadi pembusukan sistemik yang dinormalisasi melalui mekanisme sosial dan ekonomi.

Absennya keadilan yang tuntas dalam kasus Epstein menyingkap luka yang lebih dalam. Amerika bukan sekadar gagal mencegah kejahatan, ia telah menjadi inkubator bagi reproduksi kebejatan di level tertinggi. Selama lingkaran elite ini tetap utuh—dengan tali temali yang menghubungkan penguasa dan pengusaha—maka kejahatan ini tidak akan pernah dibongkar hingga ke akar. Ia hanya akan berganti rupa, berganti nama, dan terus berdenyut di balik tirai sistem yang mengklaim diri paling mulia di dunia. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA