Search

Ehud Barak: Israel Hadapi Krisis Bersejarah di Bawah Kepemimpinan Netanyahu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir tersenyum di Knesset (parlemen Israel) di Al-Quds (Yerusalem), Palestina yang diduduki, pada 23 Mei 2023. (AP)

BERITAALTERNATIF.COM – Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, menuduh Benjamin Netanyahu menyesatkan masyarakat Israel dan memperingatkan bahwa negara tersebut telah terseret ke dalam krisis politik dan keamanan paling berbahaya dalam sejarahnya.

Dalam serangkaian kritik tajam yang dilaporkan surat kabar Israel, Maariv, Barak menggambarkan situasi Israel saat ini sebagai kondisi suram di bawah kepemimpinan seorang perdana menteri yang “menghitung jumlah korban” sambil menjual jaminan-jaminan palsu kepada publik Israel.

Kritik dari mantan kepala militer dan mantan perdana menteri itu menyoroti semakin dalamnya perpecahan internal terkait penanganan berbagai front konflik, termasuk perang yang sedang berlangsung di Lebanon.

Barak secara khusus menolak tujuan yang dikemukakan Netanyahu untuk “melenyapkan Hizbullah”. Menurutnya, tujuan tersebut tidak mungkin dicapai tanpa pendudukan penuh atas Lebanon.

“Netanyahu telah menyeret Israel ke situasi paling berbahaya dalam sejarahnya,” kata Barak, seraya menggambarkan pemerintah saat ini sebagai pemerintahan yang “menyesatkan”.

“Pembicaraan Netanyahu tentang ‘melenyapkan Hizbullah’ tidak dapat diwujudkan tanpa menduduki Lebanon,” ujar Barak.

Ia menambahkan bahwa pendudukan seperti itu tidak akan terjadi karena “sepenuhnya tidak praktis dan akan berakhir dengan kegagalan”.

Barak juga memperingatkan bahwa militer Israel telah mencapai batas kemampuannya.

“Angkatan bersenjata telah kelelahan hingga tingkat yang ekstrem, namun mereka terus menyesatkan publik,” katanya.

Mengungkapkan “kekhawatiran mendalam” terhadap perang di Lebanon, ia mempertanyakan logika di balik langkah tersebut dan mengisyaratkan bahwa kebijakan itu mungkin tidak didasarkan pada realitas operasional di lapangan.

Mengingat sejarah keterlibatan Israel di Lebanon, dia mengatakan: “Pertanyaan sebenarnya mengenai penarikan pasukan dari Lebanon bukanlah mengapa itu terjadi pada tahun 2000, melainkan mengapa hal itu tidak dilakukan 15 tahun lebih awal. Hizbullah berkembang karena kami tetap berada di dalam Lebanon.”

Barak juga mengkritik visi strategis pemerintah saat ini yang menurutnya gagal memahami bahwa “perang bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai solusi politik dan diplomatik.”

Dalam penilaiannya terhadap alternatif kepemimpinan, dia menyatakan: “Baik Naftali Bennett maupun Gadi Eizenkot jauh lebih baik daripada Netanyahu.”

Pernyataan tersebut muncul ketika sebuah jajak pendapat di Israel menunjukkan perubahan besar dalam peta politik negara itu.

Menurut survei tersebut, daftar gabungan yang menyatukan Bennett, Eizenkot, dan Avigdor Lieberman akan memberikan oposisi mayoritas 61 kursi di parlemen, jumlah yang cukup untuk menjatuhkan koalisi pemerintahan Netanyahu.

Secara terpisah, surat kabar Israel Haaretz pada Selasa (2/6/2026) menggambarkan ancaman Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, untuk membombardir wilayah Pinggiran Selatan Beirut sebagai ancaman yang “kosong” bahkan sebelum adanya intervensi dari Donald Trump.

Harian tersebut juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai “euforia palsu” pemerintah serta cara pemerintah menangani perang secara keseluruhan. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA