Search

Di Balik Pemindahan Rahasia Trump, Ancaman dan Bayang-Bayang Balas Dendam dari Iran

Rencana rumit untuk mengeluarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara diam-diam dari pesawat menggunakan sebuah truk katering bahkan mengejutkan sejumlah pejabat Washington. Menurut beberapa pakar, mempermalukan Trump merupakan salah satu bentuk balas dendam. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan yang mereka nyatakan tidak tercapai, tetapi menurut pengakuan sejumlah pejabat Barat dan media Amerika, para penyerang juga menghadapi kebuntuan strategis serta kegagalan di medan politik dan militer.

Perang yang diawali dengan serangan besar-besaran dan pembunuhan warga sipil, termasuk para pelajar yang tidak bersalah, dengan cepat berkembang menjadi krisis kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas. Konflik tersebut juga memicu berbagai reaksi dari media internasional.

Media-media dunia, masing-masing dengan sudut pandangnya sendiri, berusaha membentuk narasi mengenai perang ini. Menelaah pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi sebenarnya dan prospek konflik ke depan.

Media Inggris

The Guardian, dalam laporan yang ditulis Andrew Roth, menyebut bahwa pengamanan luar biasa untuk memindahkan Donald Trump secara diam-diam dari pesawat Air Force One di Turki menunjukkan betapa seriusnya ancaman pembunuhan yang berasal dari Iran.

Menurut laporan tersebut, rencana rumit untuk mengeluarkan presiden AS dari pesawat dengan menggunakan sebuah truk katering bahkan mengejutkan pejabat Washington. Para pakar keamanan menggambarkan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang tidak lazim dan berbahaya, yang berpotensi membuat Trump terlihat “lemah”.

Bruce Hoffman, pakar senior kontraterorisme di Council on Foreign Relations, mengatakan bahwa “balas dendam dianggap sangat serius oleh Iran”. Ia menekankan bahwa pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani atas perintah langsung Trump telah “memunculkan ancaman yang sangat serius”.

Menurut Hoffman, dari sudut pandang Iran, “penghinaan juga merupakan salah satu bentuk balas dendam”. Karena itu, laporan mengenai pemindahan Trump secara diam-diam tersebut kemungkinan akan dianggap “sangat memuaskan” oleh Teheran.

Colin Clarke, direktur eksekutif Soufan Center, juga menegaskan bahwa ancaman terhadap Trump “akan tetap ada selama dia masih hidup, baik ketika menjabat maupun setelah tidak lagi menjabat”. Dengan mengingat kesabaran historis Iran dalam merancang serangan yang kompleks, ia menyimpulkan: “Kita sama sekali belum mendekati akhir konflik ini.”

BBC, dalam analisis yang ditulis Anthony Zurcher, menyatakan bahwa pemindahan Trump secara rahasia di Turki memperlihatkan dimensi personal dan mendalam dari perang Iran.

Menurut laporan tersebut, Trump dipindahkan dari Air Force One ke pesawat militer lain menggunakan sebuah truk pengangkut makanan. Sementara itu, pesawat utama yang membawa para wartawan dan sebagian besar staf Gedung Putih tetap diterbangkan sebagai sebuah “umpan”.

Operasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini baru terungkap lebih dari sebulan setelah kejadian. Hal tersebut menunjukkan bahwa Secret Service AS benar-benar menganggap serius ancaman rudal Iran terhadap pesawat kepresidenan.

BBC juga mengulas sejarah ancaman Iran terhadap Trump, mulai dari pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani pada 2020 atas perintah Trump hingga sejumlah rencana serangan yang berhasil digagalkan pada 2024.

Menurut analisis tersebut, bertentangan dengan klaim Trump bahwa perang telah berakhir dan Iran telah dikalahkan sepenuhnya, “orang-orang Iran mengatakan perang belum berakhir dan Trump sendiri menjadi sasaran balas dendam.”

BBC juga menyinggung spanduk bertuliskan “#BunuhTrump” dalam acara pemakaman Ayatullah Ali Khamenei serta sebuah mural besar di Teheran yang menggambarkan Trump berada di dalam peti mati berwarna hitam dengan slogan “darah dibalas darah”.

Maggie Haberman, wartawan senior The New York Times, juga mengatakan bahwa “Iran dan perasaan terancam yang terus-menerus ini merupakan sesuatu yang permanen bagi Trump”. Menurutnya, semua ancaman tersebut “telah menjadi satu gumpalan yang samar dalam pikirannya”.

Setelah perjalanan tersebut, Trump sendiri mengatakan kepada wartawan: “Saya selalu membaca bahwa saya adalah nomor satu dalam daftar mereka. Tetapi kalau saya pergi, kalian juga akan pergi, bukan?”

Menurut BBC, pernyataan tersebut menunjukkan kesadaran pahit Trump mengenai harga yang harus ia dan orang-orang di sekitarnya bayar akibat perang ini.

Media China dan Rusia

Surat kabar China Global Times, dalam laporan berjudul “Tuntutan ganti rugi Amerika kepada Iran untuk menekan Teheran dan melawan citra Washington yang kompromistis”, membahas meningkatnya perselisihan antara Iran dan AS terkait pembukaan kembali Selat Hormuz serta kemungkinan persyaratan untuk melanjutkan perundingan.

Surat kabar tersebut melaporkan bahwa Trump, sebagai tanggapan atas tuntutan Iran agar Amerika membayar ganti rugi perang, justru meminta Teheran membayar kompensasi atas tewas dan terlukanya personel Amerika serta korban dari sejumlah konflik dan demonstrasi selama lima dekade terakhir.

Dalam konteks tersebut, Washington merujuk pada sejumlah peristiwa, termasuk pemboman Beirut pada 1983 dan tewasnya sedikitnya 603 personel militer Amerika di Irak antara 2003 dan 2011.

Global Times mengutip pakar China, Zhu Yongbiao, yang mengatakan bahwa pengajuan tuntutan ganti rugi merupakan bagian dari strategi Amerika untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran dan mengubah citra Washington dari posisi yang dianggap kompromistis menjadi posisi yang lebih agresif dan berkuasa.

Menurutnya, memperluas tuntutan hingga mencakup peristiwa selama lima dekade terakhir mungkin bertujuan mengalihkan perhatian dari kegagalan Washington dalam konflik-konflik baru-baru ini dengan Iran, sekaligus menggambarkan AS sebagai korban perang.

Sebaliknya, Iran mengajukan sejumlah tuntutan sebagai syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz, antara lain: pencabutan blokade laut dan sanksi; penarikan pasukan Amerika dari kawasan; pembayaran ganti rugi perang; pembebasan aset Iran yang dibekukan; penghentian serangan dan ancaman terhadap Iran serta sekutu-sekutunya di kawasan.

Laporan tersebut menekankan bahwa perselisihan mengenai kompensasi kini menjadi salah satu titik utama ketegangan. Kebuntuan dalam perundingan berpotensi berdampak terhadap stabilitas Timur Tengah dan perekonomian global.

Meningkatnya ketegangan juga menyebabkan harga minyak naik. Namun, para pakar China menilai bahwa kembalinya isu-isu utama ke meja perundingan bisa menjadi tanda bahwa kedua pihak berusaha kembali memasuki jalur negosiasi, meskipun tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat masih tampak sulit.

Media Rusia: Eropa Menghadapi Krisis Gas

Surat kabar Rusia Izvestia, dalam laporan berjudul “Napas Terakhir: Uni Eropa Menyambut Musim Dingin dengan Cadangan Bahan Bakar yang Sangat Rendah”, membahas kondisi mengkhawatirkan cadangan gas Eropa serta dampaknya terhadap pasar energi.

Menurut laporan tersebut, hingga 10 Agustus, fasilitas penyimpanan gas bawah tanah Eropa hanya terisi 59,1%, atau 12,4% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Gangguan pengiriman LNG melalui Selat Hormuz, terutama terhentinya sebagian ekspor Qatar, ditambah gelombang panas ekstrem dan meningkatnya konsumsi listrik, telah memperlambat proses pengisian cadangan gas.

Penurunan produksi listrik tenaga nuklir di Prancis serta penurunan produksi listrik tenaga angin di Jerman juga meningkatkan ketergantungan Eropa terhadap pembangkit listrik berbahan bakar gas.

Harga gas Eropa pada akhir Juli hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum dimulainya krisis Timur Tengah. Pada 11 Agustus, harganya berada di sekitar 700 dolar AS per 1.000 meter kubik.

Harga yang tinggi membuat perusahaan-perusahaan energi semakin enggan membeli dan menyimpan gas.

Jerman, yang memiliki sekitar 20% kapasitas penyimpanan gas Uni Eropa, baru mengisi sekitar 48,5% cadangannya. Pemerintah Jerman untuk sementara tidak berencana melakukan pembelian gas secara langsung.

Para pakar memperkirakan bahwa Eropa mungkin akan kesulitan mencapai target pengisian cadangan sebesar 80%. Jika musim dingin berlangsung dingin dan gangguan pasokan LNG dari Timur Tengah terus berlanjut, harga gas dapat mencapai 1.000 dolar AS per 1.000 meter kubik.

Dalam kondisi seperti itu, Eropa terpaksa harus bersaing dengan negara-negara Asia, khususnya China, untuk mendapatkan pasokan gas tambahan. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA