BERITAALTERNATIF.COM – Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Masoud Pezeshkian, Presiden Republik Islam Iran, dalam kehadirannya yang ketiga, merupakan mimbar yang berbeda; bukan sekadar tempat untuk menyampaikan posisi resmi Teheran, tetapi sebuah panggung di mana pernyataan kedua pihak dalam perselisihan Iran dan Amerika Serikat, sebelum dianalisis di ibu kota masing-masing, dihadapkan kepada opini publik dunia.
Pezeshkian pada Rabu sore berdiri di belakang mimbar ini dalam kondisi ketika perang, negosiasi, sanksi, keamanan kawasan, dan masa depan tatanan internasional secara bersamaan menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu, pentingnya pernyataannya tidak hanya terbatas pada apa yang dia katakan; yang lebih penting adalah apa yang dipahami dunia dari pernyataannya dan bagian mana dari pesan tersebut yang disoroti oleh media dan pejabat asing.
Peninjauan terhadap berbagai pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa pidato Pezeshkian tidak dapat dibaca sekadar sebagai pernyataan resmi Teheran; pernyataan tersebut membawa pesan mengenai perang dan perdamaian, hubungan Iran dengan dunia, serta gambaran yang ingin ditampilkan Republik Islam Iran tentang dirinya di tengah salah satu periode paling tegang di kawasan.
Pesan apa yang diterima dunia dari pernyataan Pezeshkian? Kesan pertama media asing terhadap pidato Pezeshkian adalah perpaduan antara keteguhan dan kesiapan untuk berdiplomasi; artinya, di satu sisi Teheran menolak ancaman AS dan di sisi lain tidak sepenuhnya menutup jalur negosiasi. Reuters dalam laporannya mengenai pidato Presiden tersebut menempatkan kedua aspek ini secara berdampingan dan menulis bahwa Pezeshkian menyatakan Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan AS, tetapi siap melakukan diplomasi untuk mengakhiri konflik.
Al Jazeera juga menyoroti hal yang sama dalam penilaiannya dan menyebut pidato Pezeshkian sebagai perpaduan antara serangan keras terhadap pendekatan Trump dan penekanan pada kemungkinan negosiasi. Dengan demikian, dalam pembacaan awal dari luar negeri, pesan Teheran bukanlah “menolak negosiasi”, melainkan negosiasi tanpa menyerah dan tanpa menerima bahasa ancaman.
Namun, pemahaman yang lebih penting berkaitan dengan alasan mengapa nada keras Teheran dan kelanjutan diplomasi berlangsung secara bersamaan. Andreas Krieg, profesor studi pertahanan di King’s College London, memandang kontradiksi yang tampak ini sebagai bagian dari “perang narasi” antara Teheran dan Washington.
Menurut analis tersebut, AS ingin menunjukkan setiap kemungkinan kesepakatan sebagai hasil dari tekanannya terhadap Iran, sementara Teheran perlu membuktikan bahwa mereka telah bertahan menghadapi tekanan dan memasuki negosiasi dengan tetap mempertahankan pengungkitnya; dari sudut pandang ini, pidato Pezeshkian bukan sekadar pernyataan untuk audiens asing, melainkan upaya membentuk sebuah narasi di mana negosiasi tidak dianggap sama dengan kemunduran. Pemahaman dari luar negeri ini mengungkap salah satu lapisan terpenting dari pernyataan Pezeshkian, yakni bahwa ia secara sengaja tidak mempertentangkan “perlawanan” dengan “diplomasi”.
Dalam bagian lain dari analisis asing, perhatian beralih dari hubungan Teheran dan Washington menuju persoalan keamanan kawasan dan Selat Hormuz. Al Jazeera melaporkan bahwa Pezeshkian, sembari menekankan diplomasi, juga menempatkan persoalan blokade laut dan Hormuz di pusat posisi Iran; pada saat yang sama, laporan mengenai negosiasi di New York menunjukkan bahwa Hormuz merupakan salah satu persoalan utama yang menjadi perselisihan antara kedua pihak. Teheran menginginkan pencabutan tekanan ekonomi dan blokade, sementara Washington menekankan kebebasan pelayaran di jalur air tersebut.
Oleh karena itu, ketika Pezeshkian mengatakan, “Kita akan membangun keamanan bersama, atau kita akan menanggung ketidakamanan bersama,” kalimat ini dapat dibaca dalam konteks persoalan yang kini juga muncul dalam analisis asing sebagai salah satu simpul utama krisis; apakah keamanan Teluk Persia harus didefinisikan melalui kehadiran dan tekanan kekuatan asing atau melalui pengaturan yang menempatkan negara-negara kawasan sebagai aktor utama?
Bahkan sebelum pidato tersebut, media regional dan Barat telah memperhatikan aspek pesan Teheran ini. The National melaporkan bahwa bersamaan dengan kunjungan Pezeshkian, para pejabat keamanan Iran berbicara mengenai kemungkinan menggabungkan negosiasi dengan kesiapan militer dan dalam kerangka ini mengemukakan persoalan pengaturan keamanan kawasan dengan partisipasi Iran dan negara-negara Teluk, alih-alih hanya mengandalkan Washington.
Di sisi lain, Al Jazeera sebelumnya menulis mengenai perang Iran dan AS bahwa sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk, bersamaan dengan berlanjutnya kekhawatiran keamanan, sedang berdialog dengan Teheran untuk memperbaiki hubungan dan membentuk kerja sama baru. Akibatnya, pernyataan Pezeshkian mengenai pembangunan keamanan bersama dapat dipandang sebagai bagian dari pesan yang lebih luas yang, dalam pandangan sejumlah media asing, tidak hanya ditujukan kepada AS; negara-negara Arab di kawasan juga menjadi sasaran pesan tersebut.
Salah satu pemahaman asing yang paling penting dari pidato Pezeshkian adalah bahwa Teheran berusaha untuk tidak menciptakan pertentangan antara perlawanan dan diplomasi. The Guardian dalam analisisnya menulis bahwa Pezeshkian, sembari berulang kali menekankan bahwa Iran tidak akan menyerah, secara bersamaan menyatakan bahwa Teheran siap untuk berdialog, berdiplomasi, dan bernegosiasi tanpa “bahasa kekerasan”.
Pemahaman ini menjadi lebih penting karena hanya beberapa jam sebelum pidato tersebut, kontak langsung pertama antara pejabat Iran dan utusan AS setelah berbulan-bulan berlangsung melalui para mediator. Reuters juga menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai tanda kemungkinan adanya kemajuan, meskipun tidak terdapat perubahan yang terlihat dalam posisi kedua pihak.
Selain itu, Selat Hormuz dalam pemahaman media asing menjadi salah satu kunci untuk memahami pesan Pezeshkian. Reuters melaporkan bahwa Hormuz kini menjadi salah satu pusat utama perselisihan antara Teheran dan Washington dan Pezeshkian di PBB menegaskan bahwa tidak dapat diharapkan semua pihak memanfaatkan jalur air tersebut sementara Iran dilarang mengakses pelayaran.
The Guardian juga memberikan pemahaman serupa dan mengklaim bahwa Pezeshkian di New York berusaha mendapatkan dukungan dari negara-negara tetangga Arab Iran terhadap usulan Teheran mengenai masa depan Hormuz. Dengan demikian, kalimatnya bahwa “kita akan membangun keamanan bersama, atau kita akan menanggung ketidakamanan bersama” dapat dipandang dalam pembacaan media asing bukan hanya sebagai pernyataan mengenai keamanan Iran, tetapi juga pesan kepada negara-negara Arab di Teluk Persia mengenai masa depan pengaturan keamanan kawasan.
Membuka Kembali Perkara Palestina
Salah satu bagian yang disoroti dalam pemberitaan media asing mengenai pidato Pezeshkian adalah menghubungkan krisis Iran dengan persoalan Palestina dan krisis legitimasi tatanan internasional.
Dia tidak mengangkat persoalan Palestina sekadar sebagai topik terpisah dalam kebijakan luar negeri Iran, melainkan menjadikannya sebagai contoh kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil dan menekankan bahwa tidak mungkin berbicara mengenai perdamaian tetapi mengabaikan Palestina. The Guardian dalam liputan langsung pidato tersebut menyoroti bagian ini bersama peringatan Pezeshkian mengenai meluasnya perang dan melaporkan bahwa ia menyebut kondisi Palestina sebagai “luka terbuka” pada hati nurani masyarakat internasional dan simbol kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil.
Dari sudut pandang sejumlah media rezim Zionis, bagian pernyataan Pezeshkian ini ditafsirkan dalam kerangka yang berbeda. The Jerusalem Post memberikan perhatian khusus pada kritiknya mengenai standar ganda dalam menghadapi kemampuan nuklir Iran dan Israel; Pezeshkian di PBB mengatakan bahwa Iran tidak menginginkan senjata nuklir, tetapi juga tidak akan melepaskan haknya untuk memiliki teknologi nuklir damai dan pada saat yang sama mengajukan pertanyaan mengapa Israel memiliki senjata nuklir, sementara Iran menghadapi tekanan dan sanksi? Surat kabar The Times of Israel juga menyoroti bagian ini dan menulis bahwa Pezeshkian dalam pidatonya menekankan mempertahankan hak pengayaan dan teknologi nuklir damai.
Reaksi-reaksi ini menunjukkan bahwa dalam pembacaan media Zionis, bagian nuklir dari pernyataan Pezeshkian merupakan salah satu poin utama pesannya; sebuah pesan di mana Teheran berusaha membuat batas yang jelas antara penolakan terhadap senjata nuklir dan penolakan terhadap pembatasan program nuklir damai.
Selain persoalan tersebut, media Amerika juga menempatkan pernyataan Pezeshkian mengenai Palestina dalam konteks krisis kawasan yang lebih luas. Associated Press melaporkan bahwa perang-perang di Timur Tengah membayangi suasana Majelis Umum dan persoalan seperti perang Iran dan AS, Gaza, serta konflik Israel dan Palestina berada di pusat pembicaraan di PBB. Los Angeles Times juga menggambarkan pidato Pezeshkian sebagai pidato dalam kondisi perang, di mana Presiden Iran, selain membela posisi Teheran, memperingatkan mengenai berlanjutnya konflik, gangguan terhadap pelayaran, dan gagalnya negosiasi.
Dari sudut pandang ini, pengangkatan persoalan Palestina dalam pidato Pezeshkian tidak dapat sekadar dianggap sebagai pengulangan posisi tradisional; ia berusaha menjadikan Palestina sebagai ujian terhadap klaim masyarakat dunia mengenai perdamaian, hukum internasional, dan perlindungan terhadap warga sipil.
Secara keseluruhan, sorotan pemberitaan asing terhadap bagian pidato ini menunjukkan bahwa Pezeshkian berusaha menyampaikan pesannya pada dua tingkat secara bersamaan; pada tingkat pertama, mempertahankan posisi Iran mengenai perang, program nuklir, serta hak untuk membela diri, dan pada tingkat kedua, menempatkan persoalan-persoalan tersebut dalam kerangka yang lebih besar dari krisis Palestina dan standar ganda dalam penerapan hukum internasional.
Di sinilah kalimatnya mengenai “kita akan membangun keamanan bersama, atau kita akan menanggung ketidakamanan bersama” juga memperoleh makna yang lebih luas; karena dalam narasi Pezeshkian, keamanan kawasan yang berkelanjutan bukan hanya persoalan Iran dan AS serta tanpa penyelesaian persoalan Palestina dan mengakhiri apa yang disebutnya sebagai penerapan aturan internasional secara selektif, kemungkinan mencapai perdamaian yang berkelanjutan di Asia Barat tidak akan ada. (*)
Sumber: Mehr News
Editor: Ufqil Mubin











