BERIRAALTERNATIF.COM – Edisi ke-82 Festival Film Venice berakhir pada Sabtu (6/9/2025) dengan acara penganugerahan. Film-film ternama dan diapresiasi dari berbagai belahan dunia ikut bersaing dalam bagian utama festival, juga di bagian bergengsi Orizzonti (Horizons).
Isu Gaza menjadi salah satu topik paling hangat sepanjang festival yang digelar hanya enam minggu sebelum peringatan dua tahun Operasi Badai Al Aqsa oleh Hamas terhadap rezim Zionis Israel pada 7 Oktober 2023.
Sedikitnya 64.000 orang di Jalur Gaza telah terbunuh dalam kampanye genosida Israel yang bertujuan melenyapkan warga Gaza. Lembaga kemanusiaan juga memperingatkan akan adanya bencana kelaparan buatan manusia, dengan 132.000 anak di bawah lima tahun diperkirakan menderita gizi buruk akut.
Sutradara independen AS, Jim Jarmusch, secara mengejutkan memenangkan Golden Lion dengan filmnya Father Mother Sister Brother, sebuah refleksi tiga bagian tentang hubungan rumit orang tua dengan anak-anak mereka yang sudah dewasa. Ia menyatakan penolakannya terhadap blokade dan pemboman Gaza dengan mengenakan lencana bertuliskan “Cukup.” Sebelumnya, ia juga menyoroti keterkaitan finansial salah satu distributor filmnya dengan militer Israel.
Sutradara Tunisia, Kaouther Ben Hania, tampil paling vokal ketika menerima Silver Lion Grand Jury Prize untuk The Voice of Hind Rajab. Film ini menggunakan rekaman asli suara seorang gadis kecil yang memohon pertolongan saat mobilnya ditembaki pasukan Israel. Film tersebut menjadi favorit penonton, bahkan meraih tepuk tangan berdiri selama 23 menit saat pemutaran perdana. Kritikus The Guardian, Peter Bradshaw, menyebutnya sebagai “karya yang garang dan penuh amarah.”
Dalam pidatonya, Ben Hania mengatakan, “Film tidak bisa mengembalikan Hind, juga tak bisa menghapus kekejaman yang menimpanya. Tidak ada yang bisa memulihkan apa yang telah hilang. Tapi film bisa menjaga suaranya tetap hidup dan membuatnya bergema melampaui batas-batas negara.”
Film tentang pembunuhan Hind Rajab, bocah enam tahun yang ditembak tentara Israel saat mencoba melarikan diri dari Gaza City awal 2024, benar-benar mengguncang festival. Pemutarannya mencatat rekor tepuk tangan berdiri selama 23 menit 40 detik.
Selain dua pemenang itu, banyak lainnya juga memberi penghormatan pada Gaza. Aktor Italia Toni Servillo, yang dinobatkan sebagai aktor terbaik lewat perannya sebagai presiden tua di film La Grazia, memuji para aktivis yang berani berlayar menuju Gaza untuk menentang blokade. Ia mengatakan para aktivis itu membawa tanda kemanusiaan ke tanah di mana martabat manusia diinjak-injak setiap hari.
Sutradara India, Anuparna Roy, mencetak sejarah dengan meraih penghargaan Sutradara Terbaik di bagian Horizons lewat film Songs of Forgotten Trees. Dalam pidatonya ia menegaskan setiap anak berhak hidup damai, dan Palestina bukan pengecualian. Ia juga menekankan dukungannya untuk Palestina, meski sikap itu bisa memicu kontroversi di negaranya.
Maryam Touzani, sutradara asal Maroko yang memenangkan Armani Beauty Audience Award lewat film Calle Malaga, bertanya kepada hadirin, “Berapa banyak lagi ibu yang harus kehilangan anak sebelum bencana ini berakhir? Kita tidak boleh membiarkan kemanusiaan kita dirampas.”
Dengan demikian, Festival Film Venice ke-82, yang dianggap paling penting dan bergengsi di dunia, membawa pesan jelas di tahun 2025: suara Gaza tidak akan dibungkam. Para seniman berkomitmen memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyuarakan penderitaan rakyat Palestina sampai keadilan ditegakkan. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












