Search

Kenangan dan Pelajaran Berharga dari Syahid Raisi

Hari ketika Syahid Raisi mengangkat Alquran di sidang Majelis Umum PBB bukan sekadar momen politik yang terekam; sebuah gambaran tercipta yang gaungnya membentang dari New York hingga jalan-jalan di negeri-negeri Islam. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Peringatan syahadah Ayatullah Sayyid Ebrahim Raisi bukan hanya mengingatkan pada sebuah peristiwa, tetapi juga mengingatkan pada sebuah gaya kepemimpinan dan kehadiran. Kehadiran yang menemukan maknanya di jalan-jalan bersalju, di tambang-tambang terpencil, di tengah kerumunan rakyat, di balik mimbar PBB, bahkan dalam kesunyian tengah malam di kompleks Pasteur.

Kini buku Hardasan karya Mohammad Mahdi Rahimi berusaha merekam sebagian dari gambaran itu dalam 222 kisah; kisah tentang 1.050 hari pendampingan dekat dengan seorang presiden yang oleh penulisnya digambarkan sebagai “selalu berada di medan.”

Rahimi, yang pada pemerintahan ke-13 menjabat sebagai Direktur Jenderal Humas Kantor Presiden, dalam buku ini tidak masuk ke analisis politik ataupun laporan resmi yang kaku dan administratif. Ia justru berusaha merekam momen-momen yang biasanya tertinggal di balik kamera; momen ketika karakter pribadi dan gaya manajemen Syahid Raisi saling bertaut.

Pria yang Jadwalnya Tak Pernah Selesai oleh Jam

Di berbagai bagian buku, satu gambaran terus berulang: seorang presiden yang seolah tak punya waktu untuk lelah. Rapat panjang, perjalanan padat, kunjungan mendadak, dan tindak lanjut tanpa henti menjadi bagian tetap dalam kisah-kisah Hardasan.

Penulis menceritakan hari-hari ketika agenda dimulai sejak dini hari dan kadang berlanjut hingga tengah malam. Namun demikian, menghapus pertemuan dengan rakyat atau menunda kunjungan lapangan tidak pernah menjadi pilihan. Dalam narasi buku itu, Syahid Raisi lebih dari sekadar presiden di balik meja; ia adalah politisi lapangan yang lebih memilih melihat persoalan secara langsung, bukan hanya melalui laporan tertulis.

Angkat Alquran di Mimbar Tertinggi Dunia

Salah satu bagian paling penting dan menonjol dalam buku ini berkaitan dengan perjalanan Syahid Raisi ke New York dan kehadirannya di Majelis Umum PBB; hari-hari ketika penghinaan terhadap Alquran dan pembakaran kitab suci itu di sejumlah negara Barat memicu reaksi luas di dunia Islam.

Dalam situasi seperti itu, Presiden Iran memutuskan untuk mendedikasikan sebagian pidatonya untuk membela Alquran. Namun yang membuat momen itu abadi bukan hanya isi pidatonya, melainkan gambar yang tercipta darinya. Ia mengangkat Alquran di hadapan kamera-kamera dunia; tindakan yang menurut buku tersebut mendapat gema luas di media sosial dan media Arab.

Rahimi menulis bahwa banyak Muslim di kawasan membandingkan tindakan itu dengan sikap diam atau pasif pemerintah mereka sendiri, bahkan menulis di media sosial: “Andai presiden kami juga seperti dia.”

Detail tindakan itu juga mendapat perhatian dalam buku. Mushaf Alquran yang diangkat di PBB adalah cetakan Arab Saudi; pilihan yang menurut penulis dilakukan karena banyak Muslim dunia akrab dengan tampilan mushaf tersebut sehingga membuat pengaruh visualnya lebih kuat.

Pada saat itu, PBB bukan lagi sekadar tempat pidato politik; ia berubah menjadi panggung tempat keyakinan pribadi seorang presiden divisualisasikan.

Cincin setelah Tragedi

Di bagian lain buku, penulis menyinggung cincin yang dihadiahkan Pemimpin Besar Revolusi Syahid Ayatullah Ali Khamenei kepada Syahid Raisi sebelum perjalanan pertamanya ke New York. Ia mengenakan cincin itu dalam semua rapat, perjalanan, dan programnya. Namun cincin itu memperoleh makna baru setelah kecelakaan helikopter; ketika menjadi salah satu tanda utama untuk mengenali jenazah presiden.

Hardasan tanpa berlebihan dan tanpa deskripsi yang dibuat-buat, menyusun detail-detail ini berdampingan; detail yang kini bagi pembaca bukan lagi sekadar kenangan, tetapi bagian dari memori kolektif hari-hari pahit tahun 2024.

Kisah dari Sebuah Pertemuan Singkat

Salah satu kisah manusiawi dan berbeda dalam buku ini berkaitan dengan perjalanan provinsi ke Shahrekord. Saat hendak meninggalkan lokasi pertemuan rakyat, penulis melihat seorang pria paruh baya yang karena disabilitas bergerak menggunakan kedua tangannya agar bisa hadir dalam pertemuan umum itu.

Pemandangan itu cukup untuk membuat persoalan tersebut disampaikan ke kantor presiden. Setelah dilakukan penelusuran, pria itu ditemukan dan diundang bertemu langsung dengan Syahid Raisi. Ketika melihat kondisi pria tersebut, presiden menyatakan rasa malunya atas keadaan itu dan memerintahkan agar masalahnya ditangani. Permintaan pria itu hanya sebuah kursi roda listrik; permintaan yang menurut buku tersebut dipenuhi keesokan harinya.

Dalam Hardasan, peristiwa ini diceritakan bukan sebagai tindakan pencitraan, melainkan sebagai bagian dari karakter perilaku presiden; perhatian terhadap detail-detail yang mungkin tenggelam dalam hiruk-pikuk perjalanan daerah.

Kalimat yang Tak Sempat Selesai

Pertengahan tahun 2022, presiden syahid pergi ke Varzaghan untuk mengunjungi tambang tembaga Sungun. Di tengah kerumunan pekerja, seorang pria tua berkata kepada presiden: “Saya punya permohonan yang sangat rendah hati.”

Namun jawaban presiden bahkan sebelum mendengar permintaannya menarik perhatian: “Mengapa sangat rendah hati? Sampaikanlah dengan penuh martabat.”

Buku itu mencatat momen ini sebagai bagian dari caranya berinteraksi dengan rakyat; upaya menghapus jarak yang kadang terbentuk antara pejabat dan masyarakat. Tetapi dua tahun kemudian, kisah ini memperoleh makna lain. Di sekitar tempat itu, di pegunungan dan kawasan yang sama, menjadi titik terakhir keberadaan presiden; tempat helikopter yang membawanya dan rombongannya jatuh.

Peresmian yang Tak Boleh Menjadi Tontonan Semata

Pada tahun 2023, sebagian ruas jalan tol Tehran–Shomal diresmikan. Setelah acara selesai, presiden bertanya kepada para pejabat kapan jalan itu dibuka untuk rakyat. Jawabannya: operasional resmi akan dimulai dua hari kemudian.

Namun reaksinya segera datang: “Buka jalannya hari ini juga. Rakyat tidak boleh mengira peresmian hanya sekadar pertunjukan.”

Menurut sudut pandang buku, kalimat ini adalah salah satu tanda sensitivitasnya terhadap kepercayaan publik; bahwa jarak antara pengumuman resmi proyek dan pemanfaatan nyata oleh masyarakat harus sesingkat mungkin.

Pada masa kampanye pemilu Majelis Khobregan, Syahid Raisi melakukan perjalanan singkat ke Khorasan Selatan. Namun hujan salju lebat membatalkan penerbangan dan membuat jalan pulang sulit. Meski demikian, karena untuk pagi esoknya telah dijadwalkan rapat di Teheran, diputuskan untuk menempuh jalur darat menuju Mashhad; perjalanan sekitar sembilan jam di jalan bersalju dan licin. Hardasan melihat kisah ini bukan sekadar kenangan perjalanan, tetapi gambaran tentang keteguhannya menjalankan program dan komitmen kerja.

Jangan Lupakan Teheran

Di tengah banyaknya perjalanan provinsi, ia meyakini bahwa Teheran pun tidak boleh dilupakan. Karena itu, pada hari-hari ketika perjalanan ke provinsi tidak memungkinkan, agenda kunjungan ke kota-kota kecil dan lingkungan di Teheran dimasukkan ke dalam program.

Salah satu kunjungan terakhir adalah ke kawasan 17 Teheran dan lingkungan Emamzadeh Hassan; perjalanan yang dilakukan sekitar 20 hari sebelum syahadahnya. Dalam narasi buku, kunjungan-kunjungan ini merupakan upaya menjaga hubungan langsung tanpa perantara yang juga ia cari dalam perjalanan daerah.

Vaksin Iran di Atas Meja Sekjen PBB

Dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres berbicara tentang upayanya yang gagal meyakinkan negara-negara Barat untuk menjual vaksin kepada Iran. Namun jawaban presiden menghadirkan kisah lain; bahwa Iran tidak hanya berhasil memproduksi beberapa vaksin dalam negeri, tetapi juga mengekspor sebagian darinya ke negara lain.

Setahun kemudian, beberapa sampel vaksin Iran dalam kemasan resmi dihadiahkan kepada Sekjen PBB; tindakan yang oleh buku tersebut dipandang sebagai simbol penampilan kemampuan domestik Iran di tingkat global.

Diplomasi dengan Buku

Salah satu kisah berbeda dalam Hardasan berkaitan dengan hadiah perjalanan luar negeri. Syahid Raisi menekankan agar di samping hadiah-hadiah seremonial, buku-buku tentang Pemimpin Besar Revolusi Islam Syahid Ayatullah Ali Khamenei juga dihadiahkan kepada para pejabat negara lain.

Hal itu dilakukan dalam perjalanan ke Venezuela, Pakistan, Aljazair, dan Turki; sebuah langkah yang menurut penulis merupakan bentuk diplomasi budaya.

Hardasan tidak berusaha membangun sosok Syahid Raisi sebagai figur mitologis atau sosok yang jauh dari jangkauan. Buku ini menggambarkannya dalam momen-momen keseharian; di jalan, di tengah para pekerja, dalam rapat, di balik mimbar PBB, bahkan dalam kelelahan perjalanan. Mungkin justru inilah ciri paling penting dari kisah-kisah tersebut: bahwa sang presiden didefinisikan bukan dalam bingkai resmi foto-foto, melainkan dalam detail perilakunya.

Kini pada peringatan syahadahnya, banyak dari kisah ini kembali dibaca; bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk mengingatkan gaya kepemimpinan yang lebih dari segalanya menekankan kehadiran langsung di lapangan. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA