Search

Di Balik Layar Kisah Hidup Seorang Tokoh Bangsa yang Nyaris Senyap

Almarhum Abdillah Toha. (Pontas.id)

Oleh: Haidar Bagir*

Namanya Abdillah Toha. Dipanggil Abdillah oleh teman-teman dekatnya, atau Pak Toha—juga Pak AT—oleh para sejawat dan teman-teman yuniornya.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya akrab dengan paman saya—adik ibu saya ini—sejak saya kecil. Beda umur kami lima belas tahun. Jadi, ketika paman saya pergi ke Australia untuk belajar di universitas—setelah sebelumnya sempat memulai kuliahnya di UGM—umur saya mungkin baru sekitar tiga tahun. Perkenalan saya yang lebih dekat, setidaknya sejauh yang saya ingat, baru benar-benar dimulai ketika beliau kembali dari Australia setelah lulus dari sebuah universitas bergengsi di negeri itu dalam program beasiswa Colombo Plan. Tepatnya sebelum beliau menikah dengan isteri beliau yang setia, Ibu Ning Salma.

Saya bahkan masih ingat bagaimana keluarga kami ikut berperan mempertemukan kedua sejoli itu di rumah kami di Solo. Peran ayah dan ibu saya cukup besar dalam pernikahan itu. Sebab selain almarhum adalah adik ibu saya, Ibu Salma juga adalah keponakan ayah saya.

Sebetulnya ada juga kenangan lain yang samar-samar, tetapi terus membekas dalam ingatan saya. Di tengah masa kuliahnya di Australia, almarhum pernah mengirim beberapa rol film berwarna kepada keluarga di Indonesia. Sebelum itu, dunia fotografi baru mengenal film hitam-putih. Rasanya saya masih duduk di bangku SD ketika keluarga kami untuk pertama kalinya berpose di depan kamera untuk sebuah foto keluarga berwarna. Saya masih mengenakan celana pendek. Kami berdiri di halaman depan rumah dengan rasa antusias bercampur harap-harap cemas, menunggu beberapa hari sampai hasil cuci-cetaknya selesai. Sebuah tonggak teknologi fotografi seolah tersingkap di depan mata kami, sekaligus menjadi sejarah baru bagi keluarga kami sendiri. Dan sampai hari ini beberapa hasil jepretan pertama dengan film berwarna itu masih tersimpan baik.

Tetapi sesungguhnya, setelah itu, Abdillah Toha bukan hanya “mewarnai” foto keluarga kami. Beliau mewarnai nyaris seluruh hidup saya: dengan bimbingan hidup, kebijaksanaan, tak terkecuali keterampilan dalam dunia bisnis. Tak berlebihan jika saya katakan bahwa dukungan almarhum Abdillah Toha selalu bisa saya andalkan dalam hal apa saja.

Beliau adalah seorang idealis dalam kehidupan, sekaligus perfeksionis dalam hampir segala hal. Cerdas, fasih secara intelektual, tegas, berani—bagi sebagian orang mungkin tampak keras dan terlalu terus terang—tetapi juga penuh keprihatinan terhadap nasib orang banyak.

Saya kira justru keprihatinan itulah satu-satunya alasan beliau masuk ke dunia politik. Tidak ada alasan lain.

Sebab jauh sebelum menjadi politisi, beliau sudah menjadi orang berpunya. Almarhum adalah seorang pebisnis yang berhasil, setelah sebelumnya juga menunjukkan kecemerlangan akademik sebagai ekonom. Begitu menonjol prestasi akademiknya di perguruan tinggi tempatnya menimba ilmu, sehingga nama beliau—bersama Boediono, sahabatnya sesama alumni University of Western Australia, yang kelak menjadi Wapres di masa Presiden SBY—konon dicatat dan ditulis di dinding kampus universitas bergengsi itu.

Mungkin karena itu pula pandangan-pandangannya selalu tegas dan tidak ambigu. Bagi sebagian orang bahkan terasa “tidak njawani”, meski beliau lahir dan besar di Solo.

Tetapi justru karena itulah beliau dikenal sebagai politisi yang bersih. Jika ada orang yang mencoba mengajak anggota DPR yang satu ini untuk bermain pat-gulipat demi kepentingan bisnis haram, yang mereka terima hanyalah penolakan tanpa tedeng aling-aling. Bahkan bukan tak pernah beliau diancam akan “digeruduk” karena pandangan-pandangannya dianggap mengusik anasir kemapanan di lingkungan politik dan kekuasaan  negeri ini. Tetapi bukan Abdillah Toha namanya jika bergeming. Keberaniannya, bahkan saya ingin menyebutnya sebagai kenekatannya dalam berkonfrontasi dengan kelompok kuat di negeri ini jika beliau merasa sedang membela sesuatu yang harus beliau bela, masih sering mengejutkan saya.

Beliau termasuk pendiri awal Partai Amanat Nasional. Bersama sejumlah sahabatnya—antara lain Goenawan Mohamad, Toeti Heraty, Faisal Basri, Hatta Rajasa, Albert Hasibuan, Marzuki Darusman, dan sejumlah tokoh senior idealis lainnya—beliau ikut membangun fondasi gerakan  reformasi baru pasca-Orde Baru.

Saya sendiri sesekali ikut menghadiri rapat-rapat pendirian partai ini, yang dimulai di kantor beliau di Setiabudi Building. Dengan mengusung Amien Rais sebagai figur sentralnya, rapat-rapat itulah yang kemudian, bersama gerakan besar reformasi nasional dan para tokoh bangsa lainnya, ikut menggulirkan perubahan politik yang akhirnya menjungkalkan Suharto dari kekuasaannya. (*Cendekiawan Muslim Indonesia)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA