Search

Menelusuri Kehadiran Syahid Imam Ali Khamenei di Berbagai Edisi Pameran Buku Teheran

Menelusuri jejak kehadiran pemimpin syahid di Pameran Buku Teheran menggambarkan sosok yang memandang buku sebagai ruh masyarakat. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Di tengah hiruk-pikuk lorong-lorong penuh buku, langkah panjang dan berjam-jam pemimpin syahid di Pameran Buku Teheran menjadi cermin pandangan mendalam beliau, pemahaman struktural terhadap sastra dunia, dan keteguhan prinsipnya terhadap kemandirian budaya lokal.

Pada Ordibehesht 1390 HS (2011), edisi ke-24 Pameran Buku Internasional Teheran menjadi tuan rumah kunjungan tiga jam pemimpin syahid; sebuah acara yang fondasinya telah beliau letakkan 24 tahun sebelumnya.

Pada edisi ini, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pola kunjungan diatur agar berjalan berdampingan dengan arus alami pengunjung tanpa mengganggu aktivitas mereka. Kehadiran panjang ini menjadi ruang untuk menjelaskan pandangan utama beliau mengenai inti budaya tulis.

Di awal kunjungan, beliau meninjau terbitan baru dan laporan statistik dari pejabat terkait di sebuah aula khusus. Ketika Menteri Kebudayaan menyampaikan laporan angka mengenai pertumbuhan judul buku, logika pemikiran pemimpin syahid tidak puas hanya dengan statistik, dan beliau segera menilai langsung kualitas karya-karya tersebut.

Di stan buku anak dan remaja, setelah menelaah beberapa buku dengan teliti, beliau secara tegas mengkritik kelemahan isi buku dan berkata bahwa “tidak banyak hal yang benar-benar bermanfaat”. Reaksi ini menunjukkan bahwa beliau lebih peduli pada ruh pendidikan karya dibanding sekadar jumlah terbitan.

Perhatian lain beliau tertuju pada struktur penghargaan dan dukungan negara. Saat memasuki bagian ilmu humaniora dan agama, beliau menyatakan kepuasan relatif, namun mempertanyakan mengapa dengan adanya hadiah besar pemerintah seperti festival berhadiah 110 dan 200 koin emas, kualitas isi karya masih belum mencapai tingkat yang diharapkan.

Setelah itu dimulailah kunjungan dua setengah jam ke aula penerbit, dipenuhi dialog akrab dengan para penulis dan pegiat literasi. Di akhir kunjungan, beliau menyampaikan pernyataan strategis: “Buku tidak memiliki pengganti. Walaupun banyak media baru muncul, tidak ada yang dapat menggantikan buku.”

Beliau akhirnya menegaskan bahwa kemajuan negara tidak mungkin tercapai tanpa kemajuan buku dan “kita masih sangat tertinggal”.

Ghazal di Garis Depan Pemantauan Budaya

Pada Ordibehesht 1392 HS (2013), dalam Pameran Buku ke-26, satu pilihan buku oleh pemimpin syahid segera menjadi berita utama media budaya.

Di stan Sureh Mehr Publications, beliau membeli buku “Zedd” (Anti) karya penyair muda Fazel Nazari.

Buku yang berisi puisi ghazal cinta, mistik, dan religius itu penting karena menunjukkan betapa tinggi perhatian pemimpin negara terhadap puisi kontemporer autentik dan kemunculan generasi muda sastra.

Nama buku tersebut, yang terinspirasi dari doa dan keluhan terhadap hawa nafsu dalam Doa Kumail, membangun hubungan halus antara sastra klasik dan ajaran agama. Pilihan beliau mencerminkan selera estetika mendalam dalam bidang puisi.

Kekaguman Intelektual dan Perhatian pada Proyek Strategis Sastra

Kunjungan tahun 2015 memperlihatkan perpaduan antara pandangan teoretis dan penguasaan beliau terhadap sastra cerita.

Di stan Sadra Publications, beliau mengambil buku “Jihad Islami, Kebebasan Berkeyakinan” dan jilid ke-13 catatan syahid Morteza Motahhari.

Yang menarik, beliau secara terbuka mengungkapkan rasa takjub ketika mengetahui bahwa karya sistematis dari Motahhari tersebut baru diterbitkan dalam bentuk terpisah dan terstruktur.

Dalam kunjungan yang sama, tampak perhatian serius beliau terhadap penyelesaian proyek besar sastra revolusi Islam. Dalam percakapan dengan kepala bidang seni saat itu, beliau secara rinci menanyakan perkembangan penulisan dan penerbitan jilid-jilid berikut beberapa karya penting, seperti novel panjang “Jadeh-ye Jang” karya Mansour Anvari, jilid kedua buku dokumenter “Dasteh Yek”, serta memoar Mohsen Rafighdoost.

Beliau juga menanyakan perkembangan novel terkenal “Anak Aan Yatim Nazar Kardeh” karya Mohammadreza Sarshar tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, beliau memperhatikan fenomena audiobook yang dibacakan langsung oleh penulisnya sendiri dan distribusi perangkat lunak buku dalam berbagai bahasa.

Daftar buku yang beliau beli tahun itu sangat luas dan terstruktur, mulai dari “The Brothers Karamazov” karya Fyodor Dostoevsky, buku “Dialog dengan Jalal Sattari”, “Sejarah Dunia”, “Sejarah Teluk Persia”, “Relief Baru Sasaniyah”, hingga “Pengenalan Tuhan; dari Ibrahim hingga Kini”.

Beliau juga menyatakan kepuasannya terhadap kualitas penerbitan dan penyuntingan Diwan Attar di penerbit Cheshmeh Publishing.

Tanda Tangan Internasional untuk Pejuang Syahid

Dalam kunjungan ke-24 beliau ke pameran pada 2018 yang berlangsung dua setengah jam dan mencakup 33 stan, sebuah momen emosional dan heroik tercatat di menit-menit akhir.

Saat melewati salah satu bagian akhir pameran, penjaga stan menghadiahkan biografi syahid Imad Mughniyeh kepada beliau dan mengatakan bahwa buku itu akan dikirim ke Lebanon untuk syahid pejuang Hassan Nasrallah.

Mereka meminta beliau menulis pesan kenang-kenangan agar nanti Hassan Nasrallah juga menambahkan catatan di buku tersebut. Beliau menerima permintaan itu dan menandatangani buku sambil berdiri, meninggalkan simbol ikatan perlawanan dalam sejarah pameran.

Kepahitan Pasar Kertas dan Logika Pasar yang Jujur

Pameran tahun 2023 menjadi kunjungan paling realistis pemimpin syahid; tempat di mana gejolak pasar budaya dan kekhawatiran ekonomi masyarakat tampak jelas dalam dialog-dialog beliau.

Di stan Sokhan Publishing, ketika pengelola penerbit mengeluhkan melonjaknya harga kertas, beliau menjawab dengan tegas:

“Dalam hal ini, saya tidak bisa berbuat banyak. Yang bekerja hanya lidah saya, dan itu pun berhadapan dengan para pejabat ini.”

Jawaban itu menunjukkan ketidaksenangan beliau terhadap kelemahan pelaksanaan kebijakan dan kesedihannya atas mahalnya harga buku bagi masyarakat.

Dalam pembahasan soal novel, ketika pengelola mengatakan mereka beralih menerbitkan novel demi mempermudah ekonomi budaya, beliau sebagai kritikus profesional berkata: “Itu juga bukan hal buruk.”

Puncak pandangan sastra beliau terlihat di stan Hermes Publishing ketika melihat terjemahan baru “Les Misérables” karya Victor Hugo.

Beliau menyebut Hugo sebagai seorang “hakim” (bijak bestari) dan mengatakan bahwa “Les Misérables” adalah “kitab hikmah” yang menurutnya harus dibaca semua orang.

Beliau juga memberikan kritik struktural yang rinci. Ketika melihat novel dwibahasa, beliau mengatakan bahwa hal itu menaikkan harga buku dan membebani pembaca, sebab “orang datang untuk membaca novel, bukan belajar bahasa”.

Di stan Nimaj Publishing, beliau menyebut rendahnya minat terhadap cerita Iran disebabkan sebagian karya terlalu meniru modernitas Barat. Menurutnya, bila cerita ditulis dengan baik dan klasik, masyarakat akan menyambutnya.

Salah satu prinsip penting beliau adalah penggunaan istilah Persia asli “shomaregan” alih-alih kata asing “tirazh” untuk oplah, karena menjaga bahasa Persia dianggap prinsip yang tak terpisahkan.

Di stan penghargaan sastra pemerintah, ketika petugas menjelaskan daftar pemenang penghargaan, beliau berkata tegas:

“Saya tidak peduli dengan penghargaan. Yang saya pedulikan adalah penjualannya. Katakan kepada saya berapa banyak buku ini terjual.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa buku harus benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat, bukan sekadar di lingkaran birokrasi budaya.

Beliau juga memuji sastra perlawanan. Ketika bertemu Morteza Sarhangi di stan Sureh Mehr, beliau berkata:

“Buku-buku memoar yang diterbitkan berasal dari gagasan Anda. Semoga Tuhan menjaga Anda.”

Beliau juga memuji buku “Seytereh” karya Kianoush Golzar Ragheb dan menyampaikan bahwa hanya seorang penulis perempuan yang dapat menggambarkan sisi emosional syahid dalam buku “Yek Mohsen Aziz” karya Faezeh Ghaffar Haddadi.

Beliau juga memperingatkan penerbit mengenai dominasi berlebihan buku terjemahan anak dan remaja dari luar negeri, dan menekankan perlunya menghasilkan karya lokal berkualitas agar generasi baru tidak bergantung pada sastra asing.

Dunia Maya Tidak Boleh Menggantikan Buku

Pada Ordibehesht 1403 HS (2024), Mosalla Teheran kembali menyaksikan langkah sabar dan tiga jam perjalanan kata pemimpin syahid di Pameran Buku Internasional Teheran ke-35.

Setelah berkeliling dan berbincang dengan penulis serta penjaga stan tentang kondisi pasar buku, beliau mengatakan bahwa motivasi utamanya datang ke pameran adalah kecintaan pribadi terhadap buku dan keinginan mendorong budaya membaca.

Beliau kembali menegaskan: “Tidak ada yang bisa menggantikan buku.”

Fokus utama ucapan beliau tahun itu adalah hubungan antara teknologi modern dan budaya membaca. Beliau memperingatkan bahwa dunia maya tidak boleh menggantikan membaca buku dan buku harus tetap memiliki tempat khusus dalam waktu luang dan keranjang belanja masyarakat.

Namun pandangan beliau tidak bersifat pasif. Beliau justru memberi misi baru kepada generasi muda: “Para aktivis dunia maya harus menganggap promosi buku-buku bermanfaat di bidang ilmu, sastra, sejarah, seni, dan agama sebagai tugas mereka.”

Beliau menyebut meningkatnya karya baru, naiknya oplah, dan cetak ulang berulang sebagai kabar baik pameran tahun itu.

Di akhir kunjungan, perhatian beliau tertuju pada lembaga pendidikan dan budaya. Pemimpin syahid mengkritik kurangnya buku menarik dan sesuai untuk generasi muda, khususnya mengenai Konstitusi Iran, Pertahanan Suci, Revolusi Islam, dan penjelasan tentang sosok luar biasa Ruhollah Khomeini.

Beliau menyerukan kepada kementerian pendidikan, kementerian sains, kementerian budaya, dan lembaga seni agar bekerja lebih keras menghubungkan remaja dengan buku-buku berkualitas.

Lingkup perhatian seni beliau tahun itu juga sangat luas. Beliau mengunjungi berbagai penerbit seni dan sastra seperti Gilgamesh, Lega, Hermes, Yasavoli, Ijaz, Pargar, Jamal Honar, Akademi Seni, Nezam al-Molk, Namayesh, Sureh Mehr, dan Amir Kabir Publishing, serta memuji semangat para seniman lokal.

Akhir dari Kata-Kata

Meninjau berbagai kehadiran pemimpin syahid di Pameran Buku Teheran menggambarkan sosok yang memandang buku sebagai ruh masyarakat.

Kata-kata dan perhatian yang selama bertahun-tahun bergema dari beliau di lorong-lorong Mosalla kini menjadi peta jalan yang terdokumentasi, jelas, dan lugas untuk mewujudkan kemandirian budaya lokal, membebaskan diri dari sastra imitasi Barat, dan bersandar pada keaslian pemikiran. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA