BERITAALTERNATIF.COM – Hari ini bertepatan dengan peringatan syahid Imam kelima Syiah, Imam Muhammad al-Baqir as. Berikut sekilas tentang perjalanan hidup beliau.
Imam Muhammad al-Baqir lahir pada tahun 57 Hijriah di Kota Madinah. Beliau berusia 39 tahun ketika ayahnya, Imam Zayn al-Abidin, wafat pada tahun 94 Hijriah. Nama beliau adalah Muhammad, kunyahnya Abu Ja’far, sedangkan gelarnya adalah Baqir dan Baqir al-Ulum. Ibunya adalah Ummu Abdullah, putri dari Imam Hasan Mujtaba.
Meskipun hidup di masa yang penuh tekanan dan keterbatasan, Imam al-Baqir aktif menyebarkan hakikat Islam. Beliau dikenal karena kemampuannya menganalisis dan menjelaskan berbagai persoalan intelektual. Beliau memelopori gerakan besar dalam bidang ilmu dan pendidikan, serta meletakkan dasar-dasar universitas Islam yang mencapai puncaknya pada masa putranya, Imam Ja’far al-Sadiq.
Banyak ulama besar memanfaatkan ilmu beliau dan meminta solusi atas berbagai persoalan kepada beliau.
Makna Baqir
Kata Baqir berasal dari kata Baqara yang berarti membuka atau memperluas. Imam Baqir diberi gelar tersebut karena beliau membuka dan menyebarkan berbagai cabang ilmu pengetahuan dan ajaran agama dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Beliau mengajarkan prinsip-prinsip agama, tafsir Al-Qur’an, akhlak kehidupan, serta berusaha keras membimbing masyarakat dan membangun budaya ilmu. Sepanjang hidupnya, beliau mengajarkan ribuan prinsip teologi, agama, dan ilmu pengetahuan yang diwariskan hingga kini.
Kehadiran di Karbala
Imam Baqir berusia sekitar dua setengah tahun ketika mendampingi Imam Husain dan keluarga beliau dalam perjalanan menuju Karbala. Setelah perjalanan berat dari Madinah ke Karbala, beliau menyaksikan tragedi memilukan Karbala serta peristiwa menyedihkan di Suriah dan Irak.
Setelah satu tahun ditahan di Damaskus, beliau kembali ke Madinah pada tahun 62 Hijriah saat berusia empat tahun.
Masa Imamah Imam Baqir
Beliau merupakan satu-satunya Imam yang berasal dari keturunan Alawi dari pihak ayah maupun ibu. Berdasarkan perintah Allah dan wasiat Nabi Muhammad SAW, Imam Sajjad menunjuk Imam Baqir sebagai Imam dan pemimpin umat pada tahun 95 Hijriah.
Beliau memegang kepemimpinan hingga wafat pada tahun 114 Hijriah, dengan total masa imamah selama 19 tahun.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Kecerdasan dan kejeniusan Imam Baqir melahirkan keluasan ilmu dalam berbagai bidang, seperti hadis, filsafat, teologi, fikih, hikmah, dan akhlak. Pengetahuan beliau juga mencakup berbagai peristiwa yang diprediksi sebelum terjadi.
Beliau pernah berkata dengan penuh kesedihan: “Jika aku menemukan orang yang mampu membawa ilmu yang Allah anugerahkan kepadaku, niscaya aku akan menyebarkan tauhid, Islam, agama, dan syariat Islam.”
Imam melihat bahwa masyarakat Islam telah kehilangan banyak nilai penting seperti persatuan, kesempurnaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Karena itu, beliau berusaha menghidupkan kembali kejayaan umat melalui kepemimpinan spiritual dan penyebaran ilmu.
Beliau menjauhi aktivitas politik praktis dan memusatkan perhatian pada pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kata-Kata Hikmah Imam Baqir
Beberapa nasihat Imam al-Baqir di antaranya:
“Jika engkau mampu berbuat baik kepada seseorang, maka lakukanlah.”
“Tidak ada sesuatu yang lebih baik dipadukan selain kelembutan dengan ilmu.”
“Peganglah kebenaran. Tinggalkan hal yang tidak berguna bagimu. Waspadalah terhadap musuhmu dan berhati-hatilah terhadap temanmu kecuali yang bertakwa kepada Allah.”
“Barang siapa tidak memiliki penasihat dari dalam dirinya sendiri, maka nasihat orang lain tidak akan bermanfaat baginya.”
“Barang siapa amal lahiriahnya lebih baik daripada batinnya, maka timbangan amalnya ringan.”
Kesyahidan dan Pemakaman
Pada tahun 100 Hijriah, Hasham bin Abdul Malik menjadi khalifah. Ia dikenal sebagai musuh Ahlulbait dan terus menekan mereka.
Menurut Allamah Majlisi, pada akhir masa kekhalifahannya, Hasham datang ke Mekah untuk berhaji. Imam Baqir dan putranya, Imam Ja’far al-Sadiq, juga hadir di sana.
Hasham mendapat laporan bahwa Imam Ja’far al-Sadiq menyampaikan khutbah kepada para jamaah haji bahwa dirinya dan ayahnya adalah hujjah Allah di bumi. Hal ini membuat Hasham marah dan memerintahkan gubernur Madinah, Ibrahim bin Walid, untuk membawa kedua Imam ke istananya di Damaskus.
Hasham berusaha merendahkan mereka di hadapan masyarakat, tetapi rencananya gagal. Bahkan, permusuhannya semakin besar hingga akhirnya kedua Imam dipenjara.
Di dalam penjara, Imam Baqir menyampaikan ceramah kepada para tahanan sehingga menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada beliau dan meningkatkan penentangan terhadap Hasham. Khawatir akan terjadi pemberontakan, Hasham akhirnya membebaskan beliau, namun kemudian memerintahkan gubernur Madinah untuk meracuni Imam.
Perintah tersebut dilaksanakan oleh Ibrahim bin Walid pada tahun 114 Hijriah.
Imam Baqir wafat syahid pada 7 Zulhijjah 114 Hijriah dalam usia 57 tahun di Madinah. Jenazah beliau dimakamkan di Pemakaman Jannatul Baqi di samping makam Imam Hasan dan Imam Sajjad. (*)
Sumber: Mehr News












