Search

Dari Bosnia hingga Palestina: Konsistensi Iran Membela yang Teraniaya

Penulis. (Berita Alternatif/Riyan)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Iran sering ditempatkan dalam satu kotak sempit: negara yang identik dengan retorika keras tentang Palestina, dilekatkan pada identitas Syiah, lalu disimpulkan bergerak karena fanatisme mazhab.

Cara membaca seperti ini terasa sederhana, tetapi justru menutupi hal yang paling menentukan: Iran tidak berhenti pada ucapan. Ia berulang kali menerjemahkan posisinya ke dalam tindakan nyata, masuk ke wilayah risiko ketika banyak pihak memilih cukup dengan pernyataan.

Konfrontasi Iran dengan Israel terkait Palestina bukan sekadar pernyataan politik. Ini bukan hanya lantang dalam retorika. Iran terlibat dalam dukungan nyata: membantu Hamas secara militer dan keuangan, serta memperkuat Hizbullah dalam menghadapi agresi Israel. Dukungan ini berlangsung dalam bentuk logistik, pelatihan, jaringan, dan keberlanjutan yang tidak terputus. Dengan demikian, yang terjadi bukan retorika, melainkan tindakan yang memiliki konsekuensi langsung di medan konflik. Mereka hadir di garis depan, tidak hanya di atas kertas.

Dalam Perang Bosnia, ketika Bosnia dan Herzegovina berada dalam kondisi hampir runtuh secara militer akibat embargo senjata yang justru melumpuhkan pihak yang diserang, Iran tidak berhenti pada simpati. Iran terlibat langsung. Pengiriman senjata dalam jumlah besar, pelatihan militer, serta kehadiran instruktur dan penasihat menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan bukan simbolik, melainkan menentukan. Ini bukan ekspresi keberpihakan, tetapi tindakan pembelaan yang konkret.

Apa yang dilakukan itu diakui oleh Alija Izetbegović sebagai bantuan vital yang tidak akan dilupakan. Pengakuan ini lahir dari pengalaman sebuah bangsa yang berada di ambang kehancuran, bukan dari kebutuhan diplomasi. Dalam situasi seperti itu, ukuran solidaritas menjadi sangat jelas: siapa yang benar-benar hadir.

Perbedaan mazhab tidak berlaku sebagai penghalang. Bosnia adalah masyarakat Sunni, Iran adalah negara dengan mayoritas Syiah, namun Iran tetap menjadi salah satu pihak yang paling konsisten membantu. Fakta ini meruntuhkan anggapan bahwa Iran bergerak karena fanatisme mazhab. Dalam peristiwa ini, identitas tidak menentukan arah tindakan; keputusan untuk membela pihak yang terdesaklah yang menjadi penentu. Mereka datang bukan karena kesamaan, tetapi karena keberpihakan pada yang lemah.

Garis yang sama dapat dibaca dalam konteks lain. Dalam ketegangan antara Azerbaijan dan Armenia—sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan memiliki tradisi Kekristenan yang sangat tua—kedekatan mazhab dengan Azerbaijan yang mayoritas Muslim, bahkan banyak yang berafiliasi Syiah, tidak otomatis menjadikan Iran berpihak tanpa syarat.

Dalam dinamika kawasan tersebut, Iran menunjukkan bahwa orientasinya tidak ditentukan oleh identitas agama semata, melainkan oleh pembacaan terhadap konfigurasi kekuatan, stabilitas regional, dan posisi yang dianggap perlu dijaga. Fakta bahwa Armenia sebagai negara Kristen tetap berada dalam hubungan yang tidak konfrontatif dengan Iran mempertegas bahwa kerangka berpikir Iran tidak bergerak di atas garis pemisah agama. Kepentingan nasional dan stabilitas kawasan menjadi variabel yang lebih menentukan.

Dalam konflik di Suriah dan Irak, Iran bersama sekutunya seperti Hizbullah terlibat dalam pertempuran melawan ISIS. Kelompok ini tidak hanya menargetkan Syiah, tetapi juga Sunni yang tidak sejalan dengan ideologinya, serta berbagai kelompok lain. Konfrontasi tersebut tidak dapat direduksi sebagai konflik mazhab, melainkan sebagai upaya menahan ekspansi kekerasan yang pada satu fase berkembang sangat cepat melintasi batas negara. Ini adalah perang melawan gelombang barbarisme, bukan perang sektarian.

Dalam konteks itu, penyebutan bahwa Iran “cenderung mendukung” tidak berlaku. Fakta menunjukkan sesuatu yang lebih tegas: Iran dalam sejumlah peristiwa terlibat langsung untuk membela dan membantu. Perbedaan ini bukan persoalan diksi, melainkan persoalan akurasi. Ada perbedaan mendasar antara menyatakan dukungan dan mengambil risiko untuk mewujudkannya. Iran memilih yang terakhir.

Banyak umat Islam tidak sepenuhnya mengetahui rangkaian fakta ini, sehingga persepsi yang berkembang seringkali dibangun dari potongan-potongan yang terpisah. Padahal, jika dibaca secara utuh, terlihat pola yang konsisten: Iran tidak menunggu kesamaan identitas, tidak menunggu keuntungan yang dapat diproklamasikan, dan tidak membatasi diri pada pernyataan. Ia masuk ketika ketimpangan menjadi nyata, dan keterlibatannya berlangsung tanpa kebisingan yang memamerkan diri.

Dalam ukuran itu, penilaian terhadap Iran tidak dapat disederhanakan menjadi fanatisme agama atau mazhab. Fakta menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks sekaligus lebih jelas: keberpihakan yang diwujudkan dalam tindakan langsung, bahkan ketika tindakan itu membawa konsekuensi yang tidak ringan. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA