Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Ada perjalanan yang membawa kita ke sebuah negeri. Ada perjalanan lain yang membawa kita kembali kepada diri sendiri. Perjalanan saya ke Iran adalah keduanya.
Saya datang bukan sebagai wisatawan, melainkan untuk mengikuti rangkaian penghormatan terakhir: pengantaran jenazah, salat jenazah, hingga upacara pemakaman Imam Ali Khamenei. Itulah tujuan awal perjalanan ini. Namun sesampainya di sana, saya menyadari bahwa saya sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih luas daripada sebuah prosesi. Saya sedang menyaksikan sebuah bangsa pada saat yang paling menentukan dalam sejarahnya.
Bagi rakyat Iran, Imam Ali Khamenei adalah Pemimpin Tertinggi negara. Bagi saya, beliau adalah pemimpin keagamaan yang saya ikuti dan taati selama bertahun-tahun—ulama yang memadukan kedalaman intelektual, kematangan spiritual, keteguhan moral, dan konsistensi dalam memegang prinsip. Itulah sebabnya perjalanan ini memiliki makna yang sangat pribadi. Saya datang bukan hanya untuk menghadiri sebuah pemakaman, melainkan untuk memberi penghormatan terakhir kepada seorang guru yang telah membentuk cara saya memandang agama, manusia, dan kehidupan.
Namun peristiwa yang saya saksikan ternyata melampaui batas-batas Iran. Di Teheran saya melihat delegasi dari berbagai negara, peziarah dari beragam bangsa, dan sejumlah tokoh media sosial internasional yang dikenal lantang menyuarakan dukungan kepada Palestina dan kritik terhadap kebijakan Israel maupun dominasi Amerika Serikat. Di antara mereka hadir Jackson Hinkle bersama sejumlah kreator konten lain—datang bukan karena ikatan kebangsaan, melainkan karena merasa memiliki ikatan dengan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.
Kami berjumlah dua puluh orang. Selama piknik spiritual-intelektual dan geopolitik ini, kami membawa misi sebagai wakil tak resmi rakyat dan bangsa Indonesia—bangsa yang sangat dihormati oleh rakyat dan bangsa Iran karena fakta dukungan besar dalam konfrontasi dengan Amerika dan Israel.
Teheran
Perjalanan saya dimulai di Teheran, kota yang memperlihatkan wajah Iran paling beragam. Sebagai ibu kota, Teheran bergerak cepat, modern, dan dinamis. Di jalan yang sama, saya melihat perempuan bercadar hitam berjalan berdampingan dengan anak-anak muda berpakaian lebih modern. Masjid-masjid tetap hidup di tengah hiruk-pikuk kota, sementara kafe-kafe dipenuhi percakapan generasi muda. Teheran tidak dapat disederhanakan menjadi kota yang religius atau sekuler. Ia adalah keduanya, dalam kadar yang berbeda-beda, sebagaimana lazimnya sebuah masyarakat yang terus bergerak.
Qom
Dari Teheran saya melanjutkan perjalanan menuju Qom. Di sinilah perjalanan itu berubah menjadi perjalanan pulang. Hotel tempat saya menginap berdiri tepat di seberang Madrasah Hujjatiyah. Dari jendela kamar, saya memandang bangunan klasik yang puluhan tahun lalu menjadi tempat saya memulai pendidikan agama di Iran. Saya termasuk generasi awal dari Indonesia yang menempuh pendidikan di madrasah itu. Bangunannya masih berdiri dengan wibawa yang sederhana, seolah menjaga kenangan ribuan pelajar yang pernah ditempa di sana.
Madrasah Hujjatiyah didirikan oleh Ayatullah Udzma Sayyid Hujjat Kuhkamari. Jalan tempat madrasah itu berdiri hingga kini masih dikenal sebagai Hujjat Street. Berdiri di hadapannya, saya tidak hanya melihat sebuah sekolah. Saya melihat awal dari perjalanan hidup saya sendiri.
Banyak hal telah berubah. Sistem pendidikan bagi mahasiswa asing kini jauh lebih terstruktur, dengan jenjang sarjana, magister, hingga doktoral. Tradisi hauzah tetap dipertahankan, namun kini dipadukan dengan sistem akademik yang lebih modern.
Perubahan yang paling membahagiakan bagi saya adalah bertemu murid-murid saya sendiri yang kini sedang belajar di sana—ada yang menempuh program sarjana, ada yang melanjutkan magister, ada pula yang sedang menyelesaikan doktoral. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah bagi seorang guru selain menyaksikan murid-muridnya melanjutkan perjalanan ilmu di tempat yang dahulu membentuk dirinya sendiri.
Di Qom saya mengikuti pengantaran jenazah dan salat jenazah. Suasananya berbeda dari Teheran—lebih tenang, lebih hening, lebih larut dalam kehidupan keagamaan. Duka di sini tidak meledak dalam sorak-sorai. Ia mengalir melalui doa-doa yang panjang, langkah-langkah yang perlahan, dan wajah-wajah yang memancarkan kesabaran.
Dari Qom kami berangkat menuju Masyhad dengan kereta api lima bintang. Setiap kompartemen menyerupai kamar kecil yang nyaman, dengan tempat duduk yang dapat diubah menjadi ranjang bertingkat. Pelayanannya hangat, fasilitasnya lengkap, dan perjalanan panjang itu terasa begitu ringan.
Namun kenangan yang paling membekas justru bukan kemewahan kereta itu. Di tengah perjalanan, kereta berhenti sekitar tiga puluh menit. Saya mengira pemberhentian itu hanya untuk beristirahat. Ternyata hampir seluruh penumpang turun menuju tempat wudu dan musala untuk menunaikan salat. Tidak ada petugas yang memerintah. Tidak ada pengawasan, tidak ada paksaan. Semua berjalan tenang, tertib, dan alami.
Pemandangan sederhana itu menjelaskan banyak hal kepada saya. Selama di Iran, saya melihat masyarakat dengan berbagai corak—ada yang sangat religius, ada yang tampil lebih modern, ada yang hidup dengan gaya lebih sekuler. Namun di balik keberagaman itu, agama tetap menjadi bagian yang hidup dalam keseharian banyak orang. Bukan sekadar identitas, melainkan kesadaran yang mereka jalani tanpa perlu dipertontonkan.
Masyhad
Perjalanan kami berakhir di Masyhad, kota tempat saya menghadiri upacara pemakaman. Mashhad adalah kota suci tempat bersemayamnya Imam Ali Ridha, Imam kedelapan Ahlulbait, sekaligus kota kelahiran Imam Ali Khamenei. Karena itu, jumlah pelayat yang hadir di kota ini melampaui jumlah pelayat di Teheran, Qom, Najaf, maupun Karbala. Mashhad menghadirkan suasana yang berbeda lagi—tidak seketat Qom, tidak pula sedinamis Teheran. Kehidupan modern tumbuh berdampingan dengan spiritualitas yang berpusat di Haram Imam Ridha. Di kota itu saya merasakan bahwa sebuah tempat suci tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga jantung yang menghidupkan sebuah kota.
Yang Tertinggal
Perjalanan ini tidak membuat saya memandang Iran sebagai masyarakat yang sempurna. Tidak ada masyarakat yang sempurna. Saya menemukan perbedaan budaya, karakter, dan pola interaksi yang tidak selalu sama dengan yang saya kenal di Indonesia. Perbedaan itu tidak mengurangi penghormatan saya—justru perbedaan itulah yang membuat saya semakin memahami bahwa setiap bangsa memiliki caranya sendiri dalam membangun kehidupan.
Yang paling membekas dalam ingatan saya adalah ketangguhan rakyat Iran. Saya melihat mereka berdiri berjam-jam di bawah terik matahari musim panas yang mencapai sekitar empat puluh lima derajat Celsius—mengenakan pakaian hitam, berjalan perlahan, menunggu dengan sabar, tetap menjaga ketertiban. Tidak ada kegelisahan yang mudah berubah menjadi kekacauan. Yang saya lihat adalah kesabaran yang telah menjadi bagian dari karakter.
Saya juga melihat kepercayaan diri yang lahir dari sejarah panjang menghadapi tekanan, kesiapan menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan, dan sebuah bentuk kepatuhan yang tidak berhenti pada hubungan antara negara dan warga negara. Kepatuhan itu berakar pada keyakinan teologis yang mereka hayati—lahir dari kesadaran bahwa menjalankan kewajiban adalah bagian dari hubungan mereka dengan Tuhan.
Semua itu tidak saya temukan di ruang seminar, tidak pula di dalam buku. Saya menemukannya di jalan-jalan Teheran, di lorong-lorong Qom, di dalam kereta menuju Mashhad, di tengah jutaan pelayat, dan di wajah-wajah orang biasa yang menjalani hidup dengan keyakinan yang mereka pegang teguh.
Saya datang ke Iran untuk memberi penghormatan terakhir kepada seorang pemimpin yang saya hormati dan patuhi semampu saya. Saya pulang dengan penghormatan yang lebih besar kepada sebuah bangsa yang saya lihat dari dekat, saya dengar suaranya, saya rasakan denyut kehidupannya—yang saya kenali bukan melalui berita, melainkan melalui pengalaman.
Perjalanan ini mengingatkan saya bahwa sebuah negeri tidak pernah dapat dipahami dari kejauhan. Kita harus berjalan di jalan-jalannya, duduk bersama rakyatnya, mendengar percakapan mereka, menyaksikan keseharian mereka—lalu membiarkan pengalaman berbicara sebelum penilaian mengambil alih.
Saya meninggalkan Iran dengan satu perasaan yang tetap tinggal dalam diri saya: sebagian perjalanan hidup saya pernah tumbuh di negeri itu, dan sebagian dari diri saya akan selalu tertinggal di sana.
From Iran with Love. (*Cendekiawan Muslim)










