Search

Megawati, Iran, dan Warisan Internasionalisme Bung Karno

Imam Ali Khamenei, Megawati Soekarnoputri, dan Bung Karno. (FB Labib Muhsin)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Ada sikap-sikap politik yang nilainya tidak ditentukan oleh apakah ia diucapkan dari podium resmi negara, melainkan oleh keberanian moral yang melatarbelakanginya. Dalam sejarah, suara yang lahir dari keyakinan sering kali lebih lama dikenang daripada bahasa diplomasi yang lahir dari kehati-hatian. Itulah sebabnya pernyataan belasungkawa dan penghormatan yang disampaikan Ibu Megawati Soekarnoputri kepada Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Uzhma Imam Ali Khamenei, memiliki makna yang melampaui sebuah ungkapan simpati. Pernyataan itu adalah penegasan bahwa warisan politik Bung Karno tetap hidup dalam keberpihakan kepada bangsa-bangsa yang melawan kolonialisme dan hegemoni.

Bung Karno meyakini bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari perjuangan besar umat manusia untuk membebaskan setiap bangsa dari kolonialisme dan imperialisme. Selama masih ada bangsa yang dijajah, selama masih ada rakyat yang kehilangan hak menentukan nasibnya sendiri, perjuangan itu belum selesai. Dari keyakinan itulah lahir Konferensi Asia-Afrika, semangat Gerakan Non-Blok, dan politik luar negeri Indonesia yang menjadikan negeri ini berdiri bersama bangsa-bangsa tertindas.

Ibu Megawati Soekarnoputri adalah salah satu tokoh Indonesia yang paling konsisten menjaga kesinambungan pandangan tersebut. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menunjukkan bahwa politik tidak boleh kehilangan dimensi moralnya. Politik bagi beliau adalah keberanian membela keadilan, bukan sekadar kalkulasi kepentingan. Ketika beliau menyampaikan penghormatan kepada Ayatullah Imam Ali Khamenei, yang berbicara adalah putri Proklamator yang meneruskan tradisi internasionalisme Bung Karno—tradisi yang berpihak kepada bangsa-bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan dan menolak dominasi.

Megawati menilai bahwa semangat perjuangan Imam Khamenei merefleksikan pemikiran ayahnya sendiri. Menurutnya, Khamenei sejak muda telah mengagumi pidato-pidato Soekarno, mempelajari gagasan-gagasan yang terkandung di dalamnya, dan menyerap semangat anti-imperialisme yang menjadi inti dari orasi-orasi tersebut. Kekaguman itu bukan sekadar simpati intelektual pada tokoh asing, melainkan proses pembentukan cara pandang seorang pemimpin muda yang kelak menentukan arah sebuah revolusi. Megawati bahkan menyebut bahwa Khamenei mengadopsi Pancasila sebagai salah satu rujukan pemikiran, sebuah pengakuan yang menegaskan bahwa dasar filosofis Indonesia memiliki daya jangkau melampaui batas-batas geografis dan kultural bangsa yang melahirkannya. Dari titik itulah Khamenei merumuskan jalan Iran untuk menentang imperialisme, sebuah jalan yang di kemudian hari membentuk watak politik luar negeri Republik Islam Iran hingga hari ini.

Pengakuan Megawati ini memperlihatkan bahwa hubungan antara Bung Karno dan Imam Khamenei bukanlah hubungan yang dikonstruksi belakangan demi kepentingan diplomatik, melainkan hubungan pemikiran yang tumbuh sejak masa pembentukan intelektual Khamenei. Soekarno menjadi salah satu rujukan bagi seorang ulama muda yang kemudian menjelma menjadi arsitek ideologis Republik Islam Iran. Fakta ini menempatkan hubungan Indonesia-Iran dalam kerangka yang lebih dalam daripada sekadar hubungan bilateral konvensional: ia adalah hubungan yang lahir dari pertautan gagasan tentang kemerdekaan dan perlawanan terhadap dominasi asing.

Boleh saja pemerintah memilih tidak mengeluarkan pernyataan yang tegas karena mempertimbangkan berbagai aspek diplomasi. Namun sejarah sering kali tidak hanya mengingat sikap resmi sebuah negara. Sejarah juga mencatat suara-suara moral yang lahir dari keberanian, dan suara seperti itulah yang justru lebih lama hidup dalam ingatan suatu bangsa.

Bagi rakyat Iran, nama Bung Karno memiliki tempat yang sangat terhormat. Beliau dikenang sebagai salah seorang pemimpin besar Dunia Ketiga yang mengangkat martabat bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta mengobarkan semangat anti-imperialisme.

Nama Bung Karno menjadi bagian dari memori kolektif bangsa Iran mengenai para pemimpin yang berdiri teguh menghadapi dominasi kekuatan-kekuatan besar dunia.

Ayatullah Imam Ali Khamenei sendiri dalam berbagai kesempatan menyebut Bung Karno sebagai salah seorang pemimpin besar dunia yang menjadi simbol perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme. Beliau juga menyebut Pancasila sebagai salah satu fondasi penting yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia. Penghormatan tersebut menunjukkan bahwa Bung Karno tetap hidup dalam ingatan politik Iran sebagai tokoh yang membebaskan bangsanya sendiri sekaligus menginspirasi bangsa-bangsa lain untuk mempertahankan kemerdekaan dan martabatnya.

Hubungan yang baik antara Republik Islam Iran dan PDI Perjuangan tidak dapat dilepaskan dari penghormatan terhadap warisan pemikiran Bung Karno. Yang menghubungkan keduanya adalah kesamaan penghargaan terhadap nilai-nilai anti-kolonialisme, kedaulatan bangsa, dan solidaritas antarbangsa. Dalam konteks inilah pernyataan Ibu Megawati memperoleh makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah ucapan belasungkawa.

Bagi banyak rakyat Iran, pernyataan tersebut adalah penghormatan yang lahir dari persahabatan sejarah. Mereka melihatnya sebagai kelanjutan dari hubungan emosional yang telah dibangun Bung Karno sejak era perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Suara Ibu Megawati mendapat perhatian dan penghargaan yang besar karena dipandang sebagai cerminan kesinambungan nilai-nilai yang selama ini dihormati oleh rakyat Iran.

Di tengah dunia yang semakin didominasi oleh politik kepentingan, sikap seperti ini mengingatkan bahwa masih ada politik yang berpijak pada prinsip. Bung Karno pernah mengajarkan bahwa kolonialisme dapat berganti wajah, tetapi hakikatnya tetap sama: penaklukan bangsa yang lemah oleh bangsa yang kuat. Perjuangan melawan kolonialisme dan hegemoni tidak pernah kehilangan relevansinya.

Pernyataan Ibu Megawati kepada Ayatullah Imam Ali Khamenei menjadi penegasan bahwa semangat tersebut masih hidup. Warisan Bung Karno diwujudkan dalam keberanian moral untuk berdiri bersama bangsa-bangsa yang mempertahankan kedaulatan dan menolak dominasi. Di mata rakyat Iran, sikap itu adalah penghormatan kepada sebuah persahabatan sejarah, bukti bahwa api internasionalisme Bung Karno masih tetap menyala melalui keberanian putrinya, Megawati Soekarnoputri. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA