Search

BPBD Kukar: Karhutla Tak Terjadi di 20 Kecamatan

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi. (Berita Alternatif/Arif Rahmansyah)

BERITAALTERNATIF.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di 20 kecamatan di Kukar.

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, mengungkapkan bahwa sejak Agustus 2026 hingga saat ini karhutla terjadi di 18 kecamatan.

“Dua kecamatan enggak ada karhutla: Muara Wis dan Kota Bangun Darat. Di dua kecamatan ini enggak ada laporan karhutla,” ungkapnya kepada awak media Berita Alternatif pada Rabu (9/9/2026) siang.

Sandi menjelaskan, karhutla dengan intensitas tinggi terjadi di wilayah Pesisir Kukar seperti Muara Badak, Muara Jawa, dan Samboja.

“Sebenarnya Samboja Barat ada, cuma kan mapping tempat kita, belum ada. Mungkin datanya belum masuk,” katanya.

Pada minggu pertama bulan September 2026, jelas dia, intensitas karhutla telah mengalami penurunan dibandingkan bulan lalu.

Namun, ia menyebut fenomena El Nino masih panjang, sehingga potensi peningkatan karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kukar.

Sandi mengungkapkan bahwa BPBD Kukar telah mengaktifkan posko-posko di setiap kecamatan di Kukar untuk memantau perkembangan karhutla.

Pihaknya juga membangun kerja sama dengan TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan, serta relawan untuk menanggulangi bencana karhutla.

Titik-titik hotspot, lanjutnya, mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Jika sebelumnya titik api mulai muncul pada pukul 10.00 Wita, hotspot kemudian mulai terpantau pada pukul 14.00 hingga sore hari.

“Sekarang bergeser lagi dari sore sampai malam. Semalam saya laporan ke Pak Bupati, hotspot yang terdeteksi ada di Desa Saliki,” bebernya.

Api di desa yang terletak di Kecamatan Muara Badak tersebut kemudian dipadamkan oleh para relawan di tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten.

Sandi menyebut karhutla terjadi karena kemarau yang disertai El Nino. Lebih dari 30 hari Kukar tak pernah diguyur hujan sehingga berbagai material yang kering dengan mudah terbakar.

“Kalaupun ada hujan, itu hujan lokal. Beberapa hari ini ada potensi yang sangat bagus, sehingga terjadi hujan di beberapa wilayah kita. Semalam hujan di Tabang,” ungkapnya.

Dia mengakui bahwa karhutla masih terjadi di wilayah Pesisir Kukar seperti Muara Badak dan Muara Jawa. Karena itu, pemerintah menurunkan armada water bombing di wilayah-wilayah tersebut.

“Operasi water bombing kita konsentrasikan di wilayah Pesisir,” ucapnya.

Fenomena El Nino, katanya, umumnya terjadi 15 tahun sekali. Namun, kali ini hanya berjarak 10 tahun. Kukar pernah menghadapi fenomena alam serupa pada tahun 2016.

“Sekarang siklusnya semakin pendek jadi siklus 10 tahunan,” jelasnya.

Kemarau yang disertai El Nino mengakibatkan kebakaran yang mulai terdeteksi pada Juli 2026.

Vegetasi dalam tanah pun mengalami kekeringan. Meski demikian, karhutla tak sepenuhnya terjadi karena faktor cuaca.

Berdasarkan penelitian terbaru, Sandi mengungkapkan, 99 persen karhutla disebabkan ulah manusia.

Kebakaran tersebut bisa terjadi, lanjutnya, karena kesegajaan, kelalaian, ataupun tak disengaja.

Pembakaran lahan di tengah angin yang berhembus di musim panas membuat api dengan cepat menjalar ke area di sekitar sumber api.

“Makanya terjadi kebakaran. Misalnya kita bakar ilalang, kemudian ketemu pohon, ada angin, nanti apinya loncat. Angin juga memperluas area kebakaran. Tapi kan kita enggak bisa salahkan alam,” tegasnya.

Kebakaran bisa terjadi secara otomatis di lahan gambut apabila suhu melebihi 100 derajat Celcius. Namun, saat ini Kukar tak mencapai suhu tersebut.

Lahan gambut di Kukar, jelas Sandi, memiliki kedalaman 3-4 meter. Kebakaran bisa terjadi di bawah, tengah, atau di bagian atas lahan.

Hal ini pun membawa kesulitan tersendiri dalam proses pemadaman lahan gambut. Saat petugas memadamkan api, meskipun dinilai sudah padam, beberapa saat kemudian api bisa muncul kembali.

Dia mencontohkan lahan gambut di Kecamatan Muara Muntai. Petugas telah memadamkan api di lahan gambut yang terletak di kecamatan tersebut. Empat hari kemudian, kebakaran kembali terjadi di Desa Kayu Batu.

“Ini kemungkinan api muncul dari bawah. Karena itu kan satu hamparan lahan gambut yang kedalamannya 3-4 meter,” jelasnya. (*)

Penulis: Arif Rahmansyah
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA